CICAK DAN BUAYA

Akhir-akhir ini masyarakat banyak meributkan soal cicak lawan buaya. Terlalu banyak kiasan yang dipakai oleh para petinggi kita. Kenapa sih tidak terang-terangan saja dan tunjuk hidung, agar sesuatunya jadi lebih jelas dan selesai. Atau memang politik harus selalu gelap atau remang-remang, walaupun masyarakat mengetahui siapa yang dimaksud.

Yang jelas cicak banyak berkeliaran dirumah dan gedung, walaupun kadang-kadang kotorannya menyebalkan, tetapi keberadaannya diperlukan untuk membasmi serangga terutama nyamuk. Cicak sama sekali tidak mengganggu kehidupan kita, para pelaku ekonomi rakyat tidak pernah berurusan dengan cicak. Makanan cicak hanya yang besar dan lezat. Nyali dan seleranya besar, bukan hanya buaya yang diserangnya, melainkan semua pemakan daging dan penghisap darah dijadikan musuhnya.

Lain halnya dengan buaya, yang rakus dan tak pernah kenyang, bukan hanya binatang hidup yang dimakan, tetapi juga bangkai dilahanpnya. Ayam, kambing, tikus dan juga manusia diserangnya. Yang kecil dan yang besar, ataupun yang kurus dan gemuk, untuk buaya sama saja. Mereka adalah mangsanya. Merasa kesal mulai diserang cicak, sekarang ini buaya menyerang balik, ingin memangsa cicak.

Para pelaku ekonomi rakyat bukan hanya berhadapan dengan buaya, melainkan juga dengan tokek dan biayawak. Mereka melata, menjulurkan lidahnya, menjilat dan memakan. Kesalahan kecil atau kekeliruan terus dicari dan dijadikan penambah selera. Kaki lima, pasar tradisional, terminal bis, dan perempatan jalan menjadi tempat mereka menunggu mangsa. Setiap hari kita menyaksikan para pelaku ekonomi rakyat, menjadi sasaran empuk bagi tokek, biayawak, dan buaya. Hampir-hampir tidak ada yang peduli dan membela mereka. Negara dan partai politik yang katanya memihak rakyat dan wong cilik, sama sekali tidak berdaya. Prilaku buaya, toke dan biayawak yang menjijikan, oleh negara dianggapnya kejadian biasa. Sungguh suatu ironi bagi negara yang ingin menegakkan keadilan. Siapa yang akan membela masyarakat lapis bawah?

Gunjang-ganjing antara cicak dan buaya yang terus berkembang, kalau tidak diberhentikan, bisa melebar dan mengikutkan tokek dan biyawak kedalamnya. Alangkah naif dan piciknya kita, kalau para penegak hukum terlibat dalam adu kekuatan memperebutkan lahan penghidupan. Atau mereka berdalih hanya berdasarkan baris-baris dalam undang-unndang tanpa mendalami makna dan akibat sosialnya, serta mempergunakan nurani dalam mengambil keputusan. Penegakkan hukum yang demikian hanya akan menimbulkan gesekan-gesekan, dan antipati. Kitapun bisa terlepas dari keterkaitan moral dan budaya.

Masyarakat, terutama masyarakat kecil pelaku ekonomi rakyat, sangat berharap dan menanti penyelesaian tuntas masalah cicak dan buaya ini. Tetapi yang lebih penting lagi agar buaya, tokek dan biayawak merubah prilakunya. Jangan diartikan prilaku mereka yang sekarang ini merupakan hal yang biasa, melainkan prilaku mereka ini luar biasa memalukan.

Masyarakat kita tidak bodoh lagi, mereka tahu siapakah yang dimaksud dengan cicak, buaya, tokek maupun biyawak. (rahardi@ramelan.com)