ROTAN PLASTIK

Saya sering tidak mengerti apa yang dipikirkan bapak-bapak diatas?, Iyas memulai pembicaraannya dengan nada kesal. Nama aslinya Muhamad Yasin asal Maninjau, Minang, sudah 3 tahun berubah profesinya menjadi pengrajin rotan. Selain berjualan, ia juga melayani servis dan perbaikan kursi rotan. ? Akhir-akhir ini pekerjaan servis kursi rotan bertambah banyak?, sambil menunjuk beberapa kursi yang sedang diperbaiki. ?Banyaknya pembeli yang mencari kursi rotan dari plastik,  saya terpaksa juga menyediakan kursi yang terbuat dari rotan plastik?. ?Memang aneh negara kita ini, pak. Rotan yang bagus diekspor atau diselundupkan ke Filipinan atau Cina. Lalu mereka yang membuat produk rotan yang digemari di luar negeri. Sedangkan kita dijejeli rotan plastik asal Cina, dengan harga yang lebih murah. Saya nggak ngerti Pak?, keluhnya. Iyas yang menyandang ijazah SMK, bersama keluarganya tinggal di petak kontrakan di sekitar Cimanggis dengan sewa 350 ribu satu bulan. Sedangkan untuk tempat usahanya ia menyewa ruangan 5 X 7 meter dengan harga kontrak 2,5 juta setahunnya. ?Alhamdulillah, lokasinya baik?.

Ditempat kerjanya ia melengkapi dengan berbagai peralatan tukang yang cukup. ?Dulu saya beli 200 ribu rupiah?, katanya sambil memberikan perintah kepada mantunya yang ikut bekerja. ?Dia tamat SMP, sedang dua anak saya lulusan SMU dan yang satu lagi masih di SMP?. Untuk servis sebuah kursi rotan, ia hargai antara 250 sampai 300 ribu rupiah. Rata-rata bahan yang dipakai sebanyak 1,5 kilo rotan. ?Harga rotan naik terus pak, KW1 60 ribu per kilonya, sedangkan KW2 50 ribu rupiah?. Memang kita ketahui ada ketidak jelasan kebijakan kita akan bahan-bahan baku yang diekspor. Sedangkan pengrajin banyak membutuhkan bahan baku untuk bisa meneruskan pekerjaannya. Akibatnya harga rotan di dalam negeri jadi mahal. Sebagai pengganti rotan, sekarang menumpuk rotan plastik asal Cina, harganyapun miring.

Setiap hari Pak Iyas masih dapat menyisihkan penghasilannya sekitar 100 sampai 150 ribu rupiah, setelah dikurangi untuk pembelian material seperti rotan, plitur, dan ampelas. Jakarta masih menjadi tempat favorit teratas bagi pendatang untuk mengadu nasib. Walaupun persaingan  bertambah, tetapi jaminan hidup  di Jakarta tetap lebih baik. ?Kawan-kawa saya dari Maninjau kebanyakan pengrajin, pak. Macam-macam kegiatannya, dan mereka tinggal tidak jauh dari kontrakan kami?, katanya dengan antusias.

Biasanya kita mengenal kawan-kawan asal Minang, menjadi pedagang atau membuka warung, kedai atau rumah makan Padang. Kebanyakan para pedagang ini biasanya datang dari daerah Pariaman. Rupanya ada juga kearofan lokal yang terus terpelihara.

?Ini saya sedang dapat rejeki, pak, ada order memperbaiki satu set kursi rotan. Bapaknya memberi uang muka sekitar 70 persen?, sambil tertawa.  Pak Iyas menceritakan juga pernah ada yang memperbaiki kursi rotan, tetapi setelah selesai baru diambil setelah 3 bulan. ?Kalau begitu rugi saya, uang tertahan?. Begitulah nasib para pelaku ekonomi non formal atau ekonomi rakyat. (rahardi@ramelan.com)

dimuat tanggal 30. Nopember 2010