BERSAING DI JALAN

Kita yang berkendara mobil sering merasa terganggu oleh pedagang asongan yang seliweran di jalan raya. Kadang-kadang menghambat perjalanan kita. Tetapi bagi supir angkutan umum atau aangkutan barang keberadaan pedagang asongan ini sangat menolong. Apalagi kalau terjebak dalam kemacetan di kota besar seperti Jakarta dan Bogor. Mereka bisa mendapatkan air minum merek apa saja, tahu, bacang, roti, rokok, mainan anak-anak, dan masih banyak barang lainnya. Yang penting juga bisa beli rokok eceran. Selain berdagang di tengah kemacetan, ada juga yang berdagang di sekitar simpang jalan, atau lampu lalu lintas.

Demikian yang dikerjakan oleh Mang Acun asal Cihampea Bogor. Walaupun desanya tidak jauh dari Jakarta, Mang Acun sudah tiga tahun menggeluti pekerjaannya sebagai pedagang asongan, dengan meninggalkan isteri dan dua anaknya di kampung. Tiga tahun yang lalu ia kehilangan pekerjaan sebagai kuli bangunan, dan dengan modal sekitar 100 ribu rupiah, Mang Acun yang sekarang berumur 42 tahun memulai pekerjaannya sebagai pedagang asongan. Dengan memanfaatkan sebuah kotak kayu, ia berjualan rokok, air minum, permen, dan tissue. Mengambil tempat disimpang jalan Gas Alam dan jalan Raya Bogor. ?Saya memilih tempat itu karena ramai, dan pasti sering macet?, katanya sambil berkelakar. Karena lokasi usahanya tersebut, Mang Acun yang hanya tamat SD, menyewa petak ukuran 2X3 meter dengan biaya 150 ribu rupiah setiap bulan, yang letaknya tidak jauh dari Pasar Cimanggis.

Kedua anaknya masih ikut dengan isterinya di Cihampea. ?Yang besar sudah tamat SMU, sedang adiknya tamat SMP?, katanya bangga. ?Dia masih menganggur, pak. Susah cari pekerjaan?, tambahnya.

Setiap hari Mang Acun menyediakan uang sekitar 70 ribu rupiah untuk modal. Rokok dijual secara eceran dengan keuntungan untuk satu bungkus 2000 rupiah. Kalau rokok kretek yang paling laku Dji Sam Su untungnya bisa sampai 3000 rupiah. ?Setiap hari paling sedikit bisa terjual 10 bungkus, pak. Kalau tissue, saya beli 500 dan dijual 1000 rupiah?. Setiap hari hasil dagangnya bisa mencapai 200 ribu rupiah. ?Itu kalau sedang nasib baik?. Setelah dipotong segalanya, termasuk menyisihkan untuk sewa petak, bisa dikumpulkan setiap hari 40 ribu rupiah.

?Saya pulang setiap 2 minggu. Yaaaah kangen juga sama istri, dan juga tidak jauh dari sini?, sambil tersenyum. Saya tiidak tahu apa yang sedang dibayangkan olehnya.

?Kalau sedang rejeki ada bapak-bapak yang tidak mau menerima uang pengembalian?, ujarnya sambil tertawa, ?tetapi ada juga yang sudah terima rokok terus jalan karena lampu sudah hijau, yah sudah nasib?.

Musuh para pedagang asongan ada dua, yaitu preman dan satpol PP. ?Mereka sering minta rokok atau air, tapi tidak mau bayar?, katanya sambil menghitung sisa rokok yang ada di kotaknya. (rahardi@ramelan.com)