TAHU KOLONG

Iklim yang tidak menentu membuat semua orang kelabakan. Hujan yang tidak ada hentinya, menjadi kambing hitam segala masalah. Mulai banjir bandang Wasior di Papua, longsor di Sumatera dan Jawa, banjir di Jakarta, hujan selalu dijadikan penyebabnya. Kalau menurut Gubernur DKI bukan banjir melainkan genangan air, tetapi akibatnya sama saja bagi rakyat yang terkena.

Petani pun menderita, panen tembakau rusak, bawang merah busuk, padi tidak sempat berisi. Swasembada beras terancam, impor beras dibuka. Siapa salah? Hujan. Lalu lintas dan angkutan di kota-kota besar kacau. Jakarta macet, anehnya dibiarkan saja, kerugianpun semakin menumpuk. Siapa yang salah? Hujan!

Tapi hujanpun membawa rejeki juga. Mereka yang jualan di emperan toko dan kolong jembatan layang. Antara lain pak Sulaimin, asal Banten. Bapak seorang anak ini, yang hanya tamat SD, sudah 9 tahun berdagang gorengan tahu Sumedang. Ia mangkal dibawah jembatan layang di jalur yang suka dilewati SBY. ?Kalau SBY mau lewat, kita disuruh keluar dari kolong jembatan?, jawabnya muram. Modalnya tidak terlalu ruwet, sebuah gerobak, LPG 3 kilo, dan peralatan penggorangan dan kompor. ?Kira-kira modalnya 1,5 juta, pak?, katanya sambil menyiapkan dagangannya. Pak Sulaimin tidak membuat tahu sendiri, setiap hari ia membeli tahu di pasar sebanyak 3 ancak dengan harga 60 ribu rupiah. Satu ancak bisa menjadi 120 potong tahu. Untuk keperluan lainnya seperti minyak goreng, cabe rawit dan plastik, setiap hari seluruhnya harus menyediakan modal 100 ribu rupiah. ?Biasanya setiap hari habis, pak. Kalau hujan seperti ini saya siapkan sampai 4 ancak?, sambil tersenyum.

Hari-hari biasa pak Sulaiman bisa menyisihkan uang sebanyak 100 ribu rupiah. Ia bekerja sendiri, dan tinggal dirumah kontrakan di Kali Manggis.  Dua bulan sekali pulang ke Rangkas menengok istri dan anaknya, sambil membawa uang belanja. ?Anak saya masih SD, pak?. Kemudian iapun menceritakan pahit manisnya berdagang tahu Sumedang. Kadang-kadang ada yang liwat dan belanja sampai seratus buah, katanya mau piknik. Yang paling tidak enak baginya, kalau didatangi petugas, ?tidak tahu resmi atau preman?. ?Pokoknya setiap minggu saya harus membayar 100 ribu rupiah. Kalau tidak diusir?, sambil membungkus tahu yang saya pesan.

Pak Sulaiman tidak mengetahui bahwa sebagian besar kedelai yang merupakan bahan baku tahu itu masih diimpor. Iapun tidak peduli. Mungkin banyak yang tidak mengetahui bahan baku tahu dan tempe yang sering disebut makanan rakyat , masih banyak yang diimpor.

Dalam perjalanan pulang, terpikir oleh saya betapa besarnya setoran Pak Sulaiman kepada ?petugas?. Kalau saja ia hanya bekerja 40 minggu, maka jumlah setorannya mencapai 4 juta rupiah satu tahun. Jumlah yang tidak kecil. Tetapi siapa yang menerimanya? Rupanya sama saja dengan pajak resmi yang ditilep oleh petugas pajak sendiri. Apa kata dunia? (rahardi@ramelan.com)