SANDAL CIOMAS

Banjirnya barang-barang dari Cina, telah memukul berbagai industri barang keperluaan sehari-hari dan industri makanan, terutama industri kecil dan rumah tangga. Di toko swalayan dan buah-buahan kita bisa menangis melihat berbagai kemasan makanan kecil dan jajanan dalam bahasa atau tulisan yang tidak kita kenal. Kemasan makanan memang diberi label bahasa Indonesia sekedar komposisi makanan. Tanggal kedaluwarsa disarankan agar melihat kemasan yang jelas tidak bisa dibaca atau dimengerti. Apa bangsa ini seluruhnya disuruh bisa membaca huruf Cina, Korea atau Jepang? Apa sih maunya pemerintah dan para pengusaha kita ini?

Nasib sama terjadi dengan industri alas kaki, sepatu dan sandal. Ciomas di Kabupaten Bogor terkenal dengan pusatnya industri kecil dan rumah tangga produsen sandal dan sepatu. Demikian juga dengan pengalaman Pak Naim dan keponakannya Nandang. Sudah sepuluh tahun kedua pria yang berumur 43 dan 38 tahun ini mengembangkan usaha membuat sandal sederhana. Khususnya sandal wanita dan anak-anak. Dengan uang sekitar 5 juta rupiah pada tahun 1999, Pak Naim dan Nandang menginvestasikan uangnya untuk membeli peralatan seperti mesin jahit, kompor minyak tanah, lis sepatu dan lim.

?Sedang sepi, pak. Habis bersaing dengan sandal bikinan Cina?, keluhnya. Sekarang ini mereka hanya sanggup menjual maksimum 2 kodi setiap hari. ?Harga jualnyapun harus dibanting. Kalau ngga, tidak ada yang membeli?. Satu kodi sandal anak-anak dijual dengan harga 270 ribu, sedang sandal wanita dewasa 370 ribu. Modal kerja untuk bahan-bahan sekitar 270-300 ribu rupiah. Pak Naim tidak pernah menghitung dipresiasi atau penyusutan. ?Ah kumaha engke wae, pak?, sambil tertawa. Keuntungannya selalu dibagi dua dengan keponakannya, yang sama-sama lulusan SMP. ?Saya punya 2 anak, pak. Seorang sudah lulus SMP, tidak mau sekolah lagi. Sekarang menganggur. Seorang lagi masih di SMU?, katanya dengan bangga. ?Semoga saja hidupnya lebih baik dari saya?.

Tempat kerjanya yang berukuran 3 X 3 meter sudah menjadi miliknya. Perkampungan industri sandal dan sepatu di Ciomas sudah lama berkembang. Sudah beberapa tahun ini keadaannya sangat lesu. ?Kalau ada yang memesan dan sekali gus membayar penuh, kita sangat bersyukur. Tidak usah hutang untuk beli bahan?, sambil terus bercerita mengenai pahit manisnya menjadi produsen sandal. ?Tapi kadang-kadang ada juga hanya memberi DP, dan melunasinya baru setelah 2 sampai 3 bulan?. Para pengrajin sandal di Ciomas ini biasanya membeli bahan dari pengusaha turunan Cina atau Arab. Khususnya keturunan Arab yang banyak tinggal di sekitar Empang Bogor.

Setelah ngobrol lama, dan Pak Naim mengeluarkan unek-uneknya, iapun bertanya ?kapan barang Cina itu bakal distop, pak. Kasihan kita-kita ini, memang mereka bisa lebih murah, tetapi kalau kita mendapatkan pesanan banyak dan ada modal murah bisa juga bikin murah, pak?.

Sayapun hanya diam, tidak mungkin menjelaskan bahwa ini akibat kesepakatan perdagangan China dan ASEAN atau CAFTA, yang dirumuskan kurang hati-hati dan tanpa persiapan. (rahardi@ramelan.com)