MANIS DAN AYU

Penampilannya seperti pegawai kantoran. Berpakaian rapih dan wajah serta rambut terurus. Sekali-kali melihat ponselnya, walaupun tidak berdering. Itulah mas Sutiyo, bapak muda yang menurut pengakuannya berumur 39 tahun. Tetapi penampilan dan perawakannya lebih seperti anak muda 30 tahunan.

?Umur saya sudah 39 tahun, pak. Keluarga saya tinggal di kampung di Banjarnegara?, ia menjelaskan. Sutiyo memulai berdagang dawet atau cendol di Jakarta sejak 7 tahun yang lalu. Sesuai dengan anjuran pemerintah, ia menamatkan SMP. Tetapi mencari pekerjaan layak sebagai tamatan SMP tidak pernah didapatkan. Kemudian pindah ke Tegal menjadi pekerja serabutan. ?Yang penting mendapat uang halal, toh pak?, tegasnya.

Sekarang ia tinggal di Kampung Gedong, Jakarta Timur, dengan mengontrak 2 buah petak berukuran 2X2 meter. ?Saya bayar 450 ribu setiap bulan?, sambil terus melayani pembelinya, ?tetapi lumayan pak, saya tinggal bersama tetangga dari Tegal, yang juga berprofesi yang sama. Jadi sewa kontrak dibagi dua?. Mereka berdua memiliki ijazah SMP, saling mendukung dalam usaha dan kehidupannya. ?Buat dagang dawet seperti saya, ijazah SMP tidak ada artinya, pak. Yaaaah, cuma pengetahuan saya bertambah. Lumayan juga? sambil berdesah.

Di Jakarta dawet ayu Banjarnegara sudah banyak dikenal, kita bisa menemui baik di warung-warung, pedagang pikul, dan gerobak dorong. Sutiyo menggunakan gerobak dorong yang dengan peralatannya dibelinya seharga 1,7 juta rupiah. Setiap hari ia menyiapkan cendol untuk satu kwali. Bahan baku terigu, kelapa dan gula Jawa atau gula merah, ia beli seharga 70 sampai 80 ribu rupiah. ?Tetapi sekarang ini semua harga naik, pak. Susah buat kita-kita ini, yang hidup pas-pasan?, mukanya melihatkan kemarahan. Saya bisa menerka marah kepada siapa.

Dengan bermodalkan satu kwali cendol ia bisa membuat sampai 60 gelas, kadang-kadang lebih. Satu gelas dijual dengan harga 3 ribu rupiah. ?Alhamdulillah biasanya habis. Sudah banyak yang jadi langganan?. Kemudian ia menceritakan memanfaatkan ponsel untuk berhubungan dengan para pelanggannya, biasanya melalui SMS. Penghasilan kotor seharinya sekitar 150 sampai 180 ribu rupiah. ?Saya bisa menyimpan setiap hari sekitar 50 ribu?, katanya dengan muka cerah. Setiap tiga bulan ia pulang menjenguk istri dan anaknya yang masih di TK, dan menyerahkan hasil jerih payahnya untuk membiayai keluarga.

Untuk keperluan memasak di pondokannya, Sutiyo juga memanfaatkan gas LPG dengan tabung 3 kilogram. ?Saya harus hati-hati sekali. Bau sedikit gas, langsung saya bawa keluar. Takut meledak pak?, sambil memperhatikan ponselnya yang berdering menyanyikan sebuah lagu. ?Maaf pak, saya harus segera ke jalan Mawar. Langganan saya ada tamunya, membutuhkan kira-kira 20 gelas?, sambil merapikan semua peralatan dan pakaiannya. Setelah saya meneguk sisa dawet dalam gelas, iapun segera bergegas membersihkan gelasnya dan terus mendorong gerobak dengan langkah ringan. Memang dawet atau cendol dari Banjarnegara ini rasanya manis, dan kelihatan ayu. (rahardi@ramelan.com)