LAGI-LAGI TABUNG GAS

Akhir-akhir ini meledaknya tabung LPG menjadi berita lagi. Yang banyak dipermasalhkan atau disalahkan adalah tabung gas 3 kilogram. Memang kecelakaan yang terjadi banyak disebabkan oleh pengoperasian tabung LPG 3 kilogram. Walaupun ada juga yang disebabkan oleh tabung gas 12 kg.

Sebetulnya apa yang salah? LPG sudah lama dipakai untuk keperluan rumah tangga, khususnya tabung 12 kg. Gebrakan pemakaian LPG dengan kemasan tabung 3 kg, dilakukan untuk mengurangi atau menghapuskan pemakaian minyak tanah yang bersubsidi. Sekarangpun kenyataannya pemakaian tabung gas 3 kg sudah sangat meluas, bukan saja di dalam rumah tangga, melainkan juga oleh pedagang makanan baik di rumah-rumah makan atau warung, maupun yang menggunakan gerobak dorong atau pikulan.

Pada dasarnya kekuatan tabung gas 3 kg, 12 ataupun yang 50 kg sama saja, terbuat dari material baja yang sama. Gas yang ada di dalamnyapun mempunyai tekanan yang sama, yaitu 5-6 kg/cm2, atau 5-6 kali tekanan udara biasa. Jadi kalau terjadi kebocoran sedikit saja, maka gas yang berada di dalam tabung akan segera mengalir keluar. Seandainya ruangan tempat tabung gas tersebut tertutup dan tidak terlalu luas, seperti dapur, maka gas akan memenuhi tempat tersebut. Satu percikan api dapat memicu peledakkan ruang tersebut. Inilah yang sering terjadi.

Yang menjadi perhatian utama yang harus dilakukan para pengguna tabung LPG 3 kg adalah menghindari kebocoran tersebut. Kebocoran bisa terjadi antatara lain di tabungnya sendiri, regulator dan pipa penghubung, serta pada kompornya sendiri. Kerusakan tabung gas bisa terjadi pada ring leher dan las-lasan tempat penyambungan, walaupun sebenarnya sudah ada standar nasionalnya atau SNI. Karena ringannya tabung tersebut sering dalam penangannya dilakukan ?kasar?, sehingga sering terjatuh yang dapat merusak terutama sambungan. Regulator merupakan yang paling kritis, disebabkan juga karena kesalahan pemasangan. Demikian juga dengan pipa penghubung.

Selain itu yang penting juga kompor gas yang dipergunakan. Untuk kompor gas juga ada standar atau SNI yang diwajibkan, tetapi rupanya jarang menjadi perhatian. Yang menjadi titik kritis adalah pembuka aliran gas atau valve. Sayangnya sekarang ini lebih banyak dibicarakan hanya mengenai tabung gasnya. Tetapi sebenarnya kemungkinan terjadinya kebocoran, berada di tempat sambungan antara tabung-pipa penghubung-kompor. Karena selain kesalahan pabrik mungkin juga juga kesalahan waktu pemasangan oleh pemakai.

Seyogyanya para pemakai gas LPG, khususnya para pelaku ekonomi rakyat, yang baru saja menggantikan minyak tanah menjadi LPG, agar memperhatikan hal-hal diatas.

Kecelakaan pemakaian LPG, terutama pengguna tabung gas 3 kg, terus bermunculan. Pemerintah dan Pertamina, jangan hanya terpaku pada masalah tabung gas saja, melainkan juga memperhatikan seluruh rangkaiannya, meliputi tabung gas, regulator dan pipa penghubung, serta kompornya. Janganlah rakyat yang baru memulai memakai LPG dibiarkan sendiri belajar mengoperasikannya. Korban sudah berjatuhan, bukan waktunya para penguasa untuk membela diri. Yang penting adalah memberikan solusinya. Jangan sampai kita harus kembali mempergunakan kayu bakar. (rahardi@ramelan.com)