REJEKI DI JAKARTA

Bagi masyarakat dari daerah yang perekonomiannya masih tertinggal, Jakarta selalu menjadi harapan untuk mencari penghasilan dan kehidupan bagi keluarganya. Bukan sekedar mencari penghasilan, melainkan terutama untuk dapat memperbaiki tingkat pendidikan anak-anaknya. Jakarta menjadi harapan mereka untuk masa depan. Pengorbanan yang harus mereka hadapi, jauh dari keluarga, tinggal berhimpitan dan makan seadanya, dilakukan demi masa depan keluarganya. Mereka tidak lagi memikirkan kualitas hidup berkeluarga, tetapi mereka tetap menatap hari depan dengan kerja keras. Untuk masa depan apa saja dikerjakan.

Mengikuti anjuran pemerintah untuk sekolah sekurang-kurangnya sampai tamat SMP ternyata tidak banyak membantu meningkatkan kualitas kehidupan mereka. Demikian juga yang dialami oleh Mugi, pemuda asal Bantul yang kini berusia sekitar 30 tahun. Setelah menamatkan SMP, ia bingung mencari pekerjaan di tempat kelahirannya termasuk di sekitar Yogya. Segala jenis pekerjaan dilakukan, hanya cukup untuk bisa mendapatkan uang saku sehari-hari. Untung masih bisa tinggal bersama dengan orang tua.

Baru tiga tahun yang lalu, ketika seorang kawannya mengajak ke Jakarta, ia mulai berpikir untuk mengadu nasib di Jakarta. Kemudian iapun memutuskan untuk berjualan berbagai jenis kerajinan yang banyak dibuat di desanya Bantul. Dengan mengajak adiknya yang baru selesai SMP, iapun kemudian menyewa kontrakan di Kampung Sawah Depok dengan harga sewa 200 ribu rupiah sebulannya.

Dagangan utamanya adalah silkar, tempat meletakkan Al Quran, dari kayu dengan berbagai jenis ukiran, termasuk ukiran kaligrafi. ?Kalau silkar lumayan pembelinya, dan biasanya tidak pakai nawar?. Ketipung dan kendang yang dijual hanya sekedar untuk mainan, dibuat dari kalep atau kulit sintetis, harganya pun antara 35 sampai 70 ribu tergantung ukuran. Sedangkan silkar bisa dijual sampai 150 ribu.

Bermodalkan terpal serta bambu dan tali rapiah yang dipakai untuk membuat tenda, ia berjualan silkar serta kendang dan ketipung mainan. Mugi berjualan di dekat kantor Pemda Bogor pada minggu pertama dan kedua, selebihnya ia berjualan di sekitar perumahan di Gunung Putri. ?Lokasinya sengaja pindah-pindah, pak. Jadi pembelinya juga tidak bosan dan tambah banyak?, katanya dengan serius. ?Di semua tempat saya harus membayar restribusi preman 2000 rupiah, kalau sedang sial ditambah restribusi resmiĀ  dua ribu rupiah juga?, sambil mencibir. Begitulah nasib para pencari nafkah kelas jelata ini. Kalau dihitung semua yang telah dibayarkan , mereka telah membayar ?pajak? sekitar 500-600 ribu rupiah setahun. Lalu apa pelayanan yang mereka dapatkan dari pemerintah? Kemana larinya uang tersebut?

Buat mereka yang penting adalah menjaga kesehatan. ?Kalau sakit nggak bisa dagang, pak. Rugi besar?, tambahnya. Selain makan yang cukup, maksudnya kenyang, Mugi dan adiknya Rizal tidak pernah lupa minum jamu gendong. Mugi setiap bulan masih bisa menyisihkan hasil dagangannya sebesar 300 sampai 500 ribu rupiah. ?Saya belum berani nikah, pak. Belum cukup penghasilannya?, ucapnya sedih. (rahardi@ramelan.com)