LAGI-LAGI LISTRIK

Belum lama kita dihadapkan dengan ribut-ribut masalah pembatasan pemakaian bahan bakar premium, dan terus sekarang ini disambung dengan rencana kenaikan tarif-dasar-listrik. Sepertinya masyarakat strata menengah bawah dan bawah ini tidak hentinya didera masalah. Bukan saja masalah ekonomi melainkan juga masalah hidup dan kehidupan.

Listrik memang sudah menjadi keperluan hidup yang penting. Selain berfungsi untuk penerangan, masyarakat memerlukan juga informasi dan hiburan dengan memanfaatkan radio dan televisi. Ditambah sekarang ini untuk men-charge ponsel, yang sudah menjadi kebutuhan penting. Belum lagi pengusaha kecil yang memanfaatkan listrik untuk produksi. Memang perlu diakui bahwa bagi pelanggan kecil telah diberikan subsidi, dan itulah yang menyebabkan keberadaan listrik semakin diminati dan terjangkau sampai pelosok-pelosok.

Tetapi setiap ada rencana pengurangan subsidi listrik, mengapa masyarakat yang menggantungkan kehidupannya dari ekonomi rakyat yang harus menjadi korban? Kita menyaksikan di kota besar kehidupan malam semakin meriah dan ramai, restoran, mal, hotel, dan papan reklame terasa terang benderang berlebihan. Seolah-olah tidak terkena masalah kekurangan supply listrik. Sampai-sampai menjelang berbagai pemilu dan pemilihan Ketua Umum partai politikpun telah menyerap biaya besar untuk membuat papan reklame yang mempergunakan penerangan dengan listrik.

Upaya pemerintah untuk menghemat listrik kelihatannya tidak sepenuh hati dilakukakan. Selamanya tayangan televisi dalam penghematan listrik hanya ditujukan kepada masyarakat bawah. Seyogyanya gerakan penghematan listrik dilakukan terlebih dahulu oleh instansi-instansi pemerintah. Demikian juga dalam kebijakan penghematan tenaga listrik, beberapa negara telah memberlakukan peraturan bahwa papan reklame sudah harus memanfaatkan listrik tenaga surya.

Seharusnya penghematan listrik dilakukan bukan hanya di sisi penggunaan, melainkan juga harus dalam pembangkitan dan transmisi. PLN tidak pernah menjelaskan kepada masyarakat berapa besar efisiensi pembangkit listrik dan kehilangan karena pencurian, transmisi dan distribusi. Tetapi mengapa bebannya harus selama pelanggan yang harus membayar.

Listrik adalah bagian dari infrastruktur, yang seharusnya bukan hanya dihitung dari laba-rugi saja. Melainkan harus dihitung dari keuntungan dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Sebab itu diberlakukan subsidi oleh pemerintah. Subsidi yang memanfaatkan uang rakyat, yang dipungut melalui pajak dan restribusi. Tetapi sayangnya rakyat mendengar dan menyaksikan bagaimana uang pajak dikorupsi bersama oleh pengusaha, petugas pajak dan penegak hukum. Sayangnya penyelesaian masalah adanya kongkalikong pajak ini belum terselesaikan dengan memuaskan, malah seolah-olah berjalan tanpa semangat.

Masyarakat pelaku ekonomi rakyat masih terus dibayangi dengan berbagai pungutan resmi seperti restribusi dan pungutan tidak resmi seperti iuran keamanan dan sewa lahan lapak. Semoga saja wacana ataupun isu kenaikan terif-dasar-listrik bagi masyarakat menengah bawah-bawah hanya sekadar isapan jempol. (rahardi@ramelan.com)