MAINAN ANAK PINGGIRAN

Anak-anak dan remaja masa kini sudah begitu biasa dengan berbagai permainan memakai listrik dan elektronik. Mobil-mobilan listrik memakai baterei, playstation, games, dan komputer sudah menjadi mainan sehari-hari. Mainan bagi mereka generasi, yang di Amerika sana dinamakan generasi Z. Generasi yang lahir setelah tahun 1990. Mungkin dikita sama dengan generasi R (atau generasi Reformasi). Di Indonesia, permainan dan mainan tersebut, banyak digemari mereka yang berasal dari kalangan menengah atau menengah bawah. Bagaimana dengan anak-anak lainnya?

Playstation sudah memasuki desa dan perkampungan disekitar kota besar. Warnet jadi tempat mereka bermain. Mal dan pusat perbelanjaan dengan pusat permainannya seolah-olah menjadi pengganti lapangan bola atau tempat bermain petak umpet.

Berbagai mainan berasal dari Cina membanjiri pasar kita. Bukan saja dijual di toko-toko besar, tetapi juga di kaki lima. Mainan buatan Cina ini menggeser mainan tradisional yang terbuat dari kayu, mainan anak-anak kita waktu yang lalu. Di pinggiran kota Jakarta, sisa-sisa mainan anak-anak kita masih dapat ditemukan.

Salah satunya adalah keong dengan berbagai bentuk rumahnya. Pak Rizal, yang berasal dari Bengkulu, sudah lebih dari 3 tahun memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berjualan keong. ?Masih ada anak-anak yang mencari keong?, katanya sambil menyirami dagangannya dengan air. Ia berjualan di jalan baru Margonda didekat kantor Pemda. Ia berjualan keong merupakan keterpaksaan,  karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain. Tiga tahun yang lalu dengan modal sekitar 200 ribu rupiah ia membeli peralatan untuk berjualan keong tersebut.

Setiap hari ia mengeluarkan uang 150 ribu untuk membeli keong dan pakan serta rumah-rumahan untuk keong. Keong Bengkulu dibeli dengan harga 700 rupiah dan dijual 2000 rupiah, sedang keong Lampung dibeli dengan harga 2000 rupiah, dan laku dijual 4000 rupiah. Sedang rumah-rumahan rata-rata dijual 4000 rupiah, sedang pembeliannya seharga 2000. ?Hasilnya lumayan, pak. Setiap hari mendapatkan bersih sekitar 40 ribu?, ucapnya bangga. Ayah seorang anak yang masih duduk di bangku SMP ini, tinggal menumpang di mertua dengan menempati petak 3X3 meter. ?Saya sekolah sampai SMP, tetapi hanya dengan ijazah saja sukar mencari pekerjaan. Ketrampilan khusus saya tidak punya. Jadinya dagang saja?, katanya tidak bersemangat. Rizal, walaupun umurnya baru 35 tahun, tetapi raut mukanya kelihatan lebih tua. Ia kemudian bercerita sewaktu masih bekerja di perusahaan, bekerja serabutan. ?Gajinya lumayan juga pak?.

Ia selalu menunggu musim libur sekolah, banyak anak-anak mencari keong. Terutama yang besar-besar, untuk dilombakan. Lomba kecepatan. ?Pokoknya kalau liburan sekolah hasilnya lumayan?, katanya sambil tersenyum.

Mainan tradisional masih juga digemari oleh anak-anak pinggiran, terutama karena harganya terjangkau. Mainan tradisional  kebanyakan buatan usaha kecil atau rumah tangga, yang berarti memberikan penghidupan bagi masyarakat. Semoga saja keong-keong dan mainan tradisional ini tidak akan tersaingi dan tergusur oleh keong  atau mainan impor dari Cina. (rahardi@ramelan.com)