GITAR DAN BOTOL AQUA

Setelah matahari terbenam jalan Margonda Raya Depok, menjadi tempat dengan seribu rasa. Menjadi pusat kuliner bagi mereka yang bertempat tinggal disekitar Depok. Berbagai macam makanan dengan tingkat rasa, harga dan tempat yang dapat disesuaikan dengan selera dan kantong kita.

Disana saya bertemu dengan Aan dan Anam, yang sedang asyik melantunkan lagu Janji Manismu, yang biasanya dibawakan oleh Nidji. Dengan diiringi gitar yang dipetik oleh Aan, dan dukungan perkusi yang dibawakan Anam dengan memanfaatkan botol Aqua yang diisi pasir. Selesai menyanyikan sebuah lagu, beberapa pelanggan restoran, atau lebih pantas disebut tenda makan, memberikan lembaran ribuan, dan ada juga yang memberikan lembaran dua ribuan.

Aan, yang hanya tamat SD, sudah lebih sari sembilan tahun menjadi pengamen. Datang dari Cihampea Bogor, bersama teman sekampungnya Anam yang lulusan SMP, tinggal disebuah kontrakan dengan sewa 200 ribu rupiah perbulan. ?Tidak jauh dari sini, dan dibagi dua dengan Anam?, katanya sambil menunjuk kearah selatan. Aan, yang sekarang berusia 39 tahun, terpaksa meninggalkan keluarganya di Cihampea, termasuk anak satu-satunya yang sudah tamat SMP dan tidak melanjutkan sekolah lagi. ?Buat apa, pak, sekolah tinggi-tinggi kalau tidak ada pekerjaan. Ia juga nganggur di kampung?, keluhnya dengan nada penyesalan. Demikian juga dengan Anam yang berumur 42 tahun, walaupun tamat SMP tetapi tidak mempunyai ketrampilan apa-apa. ?Saya diajak oleh Aan, bisanya cuma main kecek-kecek saja?, sambil tersenyum menunjukan botol aquanya. Senyum yang mengandung seribu makna.

Aan belajar sendiri bermain gitar yang dibelinya dengan harga seratus ribu, dan suaranyapun lumayan. Ia rajin mengikuti berbagai acara musik di TV dan mendengarkan program radio dan memiliki beberapa buah kaset labu-lagu pop. ?Kalau lagu bahasa Inggris, saya tidak mengerti artinya. Asal kira-kira ucapannya bener aja?, ketawa sambil melengos. Setiap hari mereka berdua memulai bekerja sekitar jam lima dan berakhir sekitar jam 11 malam. ?Kalau malam libur kadang-kadang sampai jam 1 pagi. Hasilnya lumayanlah, pak?, sambil mencoba-coba gitarnya.

Kalau mengamen diwarung tenda, hasilnya agak kurang. Di rumah makan atau restoran sekali menyanyi bisa mendapat 5 sampai 10 ribu. ?Sekarang ini saingan banyak, pak. Maklumlah mencari pekerjaan sedang susah. Repot kita nih jadinya. Janji-janji penggede hanya omdo?, tukasnya dengan raut yang mengeras. Diantara pengamen mereka secara musywarah membagi daerah beroperasi maupun membagi jadwal. Tidak pakai rapat atau komisi pengawas. Itulah demokrasi. Kepercayaan dan keadilan.

Setiap hari Aan dan Anam dapat membawa pulang sekitar 50 ribu, setelah dikurangi untuk makan dan minum. ?Pak itu rata-ratanya. Kadang-kadang lebih, karena ada yang menyodorkan lembaran 5 atau 10 ribu? – katanya datar ??mungkin suara saya bagus ya pak?. Kitapun ketawa keras bersama, dan ia meneruskan lagunya Nidji — Kini engkau pun pergi. Saat ku jatuh dan sendiri

Mana janji janjimu ——- (rahardi@ramelan.com)

Dimuat 20 April 2010