LISTRIK DAN NASI

Rupanya falsafah hidup kita berkembang seperti menghitung bunyi toke. Tidak menentu dan tunggu nasib. Ribut-ribut kenaikan atau tidak kenaikan harga listrik TDL, tidak ada yang berani memastikan. Maklumlah pemimpin pun sedang menunggu toke yang berbunyi.

Listrik sekarang ini, sudah merambah kemana-mana. Berbagai jenis peralatan listrik juga bermunculan. Gemerlapan lampu di mal dan hotel menunjukan kemewahan bangsa ini, tentu hanya untuk sebagian kecil masyarakat. Orang kaya. Industri kita juga memanfaatkan listrik, termasuk industri dan usaha kecil. Peralatan rumah dan dapurpun sudah banyak memanfaatkan listrik, apalagi bagi mereka yang tinggal dikota dan di apartemen. Bagi rumah sederhana setidak-tidaknya kipas angin dan pemasak nasi atau rice cooker. Terkena giliran pemadaman listrik jadi kelimpungan, bisnis genset melonjak tajam.

Tetapi sebagaian masyarakat kita, yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya, untuk memasak mereka masih memanfaatkan elpiji dan kayu bakar. Kebutuhan utamanya ialah memasak nasi. Memasak nasi cara tradisional, memakai langseng atau dandang. Walaupun banyak sudah dandang modern dari aluminium buatan pabrik, tetapi dandang tradisional tetap digemari.

Kebiasaan masyarakat itulah yang menjadi sasaran pak Kasim asal Cirebon. ?Rasanya dari dulu enggak berubah, pak?, menjawab pertanyaan. Karena sejak tahun 1975 sudah memproduksi dandang dari tembaga dan aluminium. Memanfaatkan rumah tinggalnya yang berukuran 3X4 meter sebagai tempat kerja, pria berumur 63 tahun ini masih konsisten melakukan pekerjaannya. Sewaktu mulai usahanya di tahun 70an, mempekerjakan 3 orang. Dengan adanya elektrifikasi  pesanan terus menurun, sekarang ia bekerja sendiri. ?Tetapi sekarang anak-anak sudah besar, tidak perlu mengeluarkan biaya untuk sekolah mereka?. Pak Kasim mempunyai 3 orang anak, 3  cucu dan seorang cicit.

Selain dandang tembaga pak Kasim juga membuat dandang dari bahan aluminium. ?Harganya lebih murah, dan membuatnya juga lebih mudah?, katanya bangga menunjukan ketrampilannya. Sebuah dandang tembaga dijual dengan harga 350 ? 400 ribu, sedangkan dari aluminium 130 ? 150 ribu rupiah. Setiap bulan ia masih bisa membuat 75-100 dandang. Untuk dandang orderan dengan bentuk dan besar yang khusus ia hanya meminta ongkos kerja 15 ribu. ?Dari jualan dandang, penghasilan saya cukup. Bersih mendekati 1 juta rupiah setiap bulan. Sekarang ini orderan sedang lumayan, pak?, sambil tertawa.

Selain membuat dandang yang sudah ditekuninya selama 35 tahun, ia pun melakukan kerja sampingan, jual-beli sepeda motor bekas. ?Saya kan tambah tua, satu hari nanti saya tidak punya tenaga lagi bikin dandang?. Meningkatnya pemakaian sepeda motor dilingkungannya, rumahnya yang sudah jadi miliknya sendiri, dimanfaatkan untuk berjualan sepeda motor bekas.

Hampir setiap Idul Fitri, pak Kasim dan keluarganya pulang kampung ke Cirebon. Meneruskan tradisi. Sampai sekarang istrinya masih memasak nasi dengan mempergunakan dandang. Listrik hanya dimanfaatkan untuk penerangan, radio, dan televisi, serta charger ponselnya.

Semoga bagi mereka TDL tidak akan dinaikkan. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat 23 Maret 2010