RM PADANG DARI SRAGEN

Pengalaman, keberanian dan usaha yang keras telah mulai membuahkan hasil bagi pak Sarwo, Salmo dan Anto, tiga orang kepala keluarga yang berasal dari Sragen. Seperti halnya dengan para pendatang dari segala pelosok tanah air, datang ke Jakarta dan sekitarnya untuk mencari penghidupan yang lebih baik dan lebih layak.

Pak Sarwo yang datang ke Jakarta, sebelumnya telah bekerja di sebuah rumah makan Padang sebagai juru masak selama 10 tahun. Bekerja keras dan keinginan belajar, kemudian ia telah membenarikan untuk membuka rumah makan atau RM Padang. Walaupun mereka berasal dari Sragen, tetapi restorannya diberi nama mirip RM makan Padang lainnya, ?Rumah Makan Tigo?.

Dengan mengambil tempat strategis di jalan Raya Bogor di dekat kantor Pemda, mereka bertiga mengkontrak sebuah kios berukuran 3X3 meter dengan harga 2 juta pertahun. Tempat itu juga dipakai untuk tempat tinggalnya. Maklum istri-istri mereka ditinggal di Sragen. Empat bulan yang lalu, ketika mereka memulai restorannya, mereka bersama mengumpulkan uang sebesar 10 juta rupiah. Uang tersebut dipakai untuk membeli berbagai perlengkapan dan peralatan yang diperlukan untuk menjalankan restoran kecilnya.

Setiap harinya mereka membelanjakan uang sebesar 150 sampai 250 ribu rupiah, untuk keperluan membeli berbagai bahan seperti, daging, telor, bumbu dan elpiji. Dengan pengalamannya di RM Padang sebelumnya pak Sarwo yang bertindak sebagai juru masak. Sedang Pak Salmo dan Anto mengurusi pelayanan dan bertindak sebagai kasir.

?Nasi rendangnya terasa banget, pak?, kata seorang pengunjung yang sedang menikmati makan di RM Tigo. Nasi rendang dan nasi ayam dihargai 6 ribu rupiah, sedangkan nasi telor 4500 rupiah. Teh pahit tidak ditarik biaya, untuk es teh manis harganya 1500 rupiah. Kalau tambah sayur, harganya lain.

Walaupun baru mulai buka 4 bulan, tetapi pelanggannya, terutama  pegawai kantor dan pemilik toko disekitarnya sudah lumayan banyaknya. ?Kita gembira juga, pak. Hasilnya sudah baik saat ini. Insya Allah kita akan diberi rejeki oleh NYA?, kata pak Sarwo yang diiyakan oleh kedua rekannya. RM Tigo pun sudah mempekerjakan dua pemuda lulusan SLTP.

Dengan kerja keras, sekarang ini setiap hari mereka dapat menyisihkan penghasilan rata-rata sebesar 150 ribu rupiah. ?Masih kecil pak, pas-pasan untuk membiayai keluarga. Semoga saja akan tambah baik?, jelas pak Anto sambil terus melayani pelanggan. Mereka bertiga, yang sekrang berumur sekitar 40 tahun, sudah berkeluarga dan mempunyai anak, yang semuanya tinggal di Sragen.

Sekarang ini tumbuh semakin marak berbagai restoran, rumah makan, warung makan, baik yang berada di pusat-pusat perbelanjaan, maupun yang berada di ruko atau tenda pinggir jalan dan kaki lima. Berbagai jenis makanan dari berbagai daerah dan makanan internasional. Makanan Jepang, burger dan steak ada juga di kaki lima. Nasi goreng gila, sambel oncom, rawon, dan pepes ikan peda bisa didapatkan di restoran di pusat belanja.

Perut dan lidah manusia Indonesia tidak ada bedanya. Yang beda hanya tebalnya kantong. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat 2 Maret 2010