KEMBALI PAKAI TEPLOK

Walaupun minyak tanah sudah sukar untuk didapat, masyarakat kelompok bawah masih terus mencarinya. Mereka bukan lagi membutuhkan untuk memasak, melainkan untuk keperluan pengganti lampu. Maklum mereka mengalami pemadaman listrik yang dilakukan PLN. Kelompok masyarakat menengath atas dan lapisan atas biasanya sudah menyiapkan genset yang akhir-akhir ini merebak diperdagangankan.

Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat yang telah dicapai dengan meluasnya jangkauan listrik, membuat pemadaman listrik yang akhir-akhir ini sering terjadi telah menyulitkan kebiasaan kehidupannya dimalam hari. Listrik bukan saja berfungsi sebagai sumber penerangan, melainkan juga untuk kebutuhan mengikuti acara televisi dan mengisi batere hp yang sudah merupakan kebutuhan mereka. Jadi bagi mereka dengan penghasilan yang pas-pasan, para pelaku ekonomi rakyat selain memakai listrik, terpaksa memanfaatkan lampu teplok atau sentir yang mempergunakan minyak tanah.

Bagi pak Tukijo, asal Plered Bantul, keadaan ini telah menambah rejekinya. Pak Tukijo, yang sekarang berusia 54 tahun, sejak 9 tahun yang lalu mulai berjualan berbagai kebutuhan rumah tangga, khususnya lampu teplok, sentir dan sumbunya. Ia meninggalkan istri dan anak-anaknya di Bantul, dan tinggal di rumah kontrakan bersama 2 orang teman sekampungnya. ?Beginilah nasibnya, pak. Pisah sama istri dan anak sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan sekampung?, kata pak Tukijo datar. Selain istri, ia mempunyai tiga orang anak yang semuanya sudah berkeluarga. Walaupun ia tidak pernah sekolah, tetapi pengakuannya bisa membaca. Ketiga anaknya tamat sekolah SMP, SMA, dan SMK, serta sudah bekerja.

Pak Tukijo berdagang dengan pikulan dan keliling dibeberapa lokasi perumahan sederhana dan kampung-kampung. Ia membeli barang dagangannya di pasar setiap minggu. ?Rata-rata saya mengeluarkan uang 300 ribu untuk membeli macam-macam barang. Terutama lampu teplok dan sentir yang sekarang sedang banyak diminati?. Lampu kecil ia beli dengan harga 5 ribi, dan dijual 10 ribu rupiah. Sedang yang besar dibeli 12.500 dan dijual sebuahnya 20 ribu. ?Saya juga jual sumbu lampu, harganya hanya 2.500, pak?, sambil menyususn barang-barang di pikulannya.

Dengan masih banyaknya hujan, listrik disekitar lingkungannya sering mati. Sebab itu, pak Tukijo masih menikmati hasil penjualan lampu teplok dan sentir yang cukup besar. Setiap hari hasil bersih penjualannya mencapai 50 sampai 60 ribu rupiah. Selain untuk makan dan sewa kontrak, ?sisanya saya kumpulkan, untuk dibawa pulang ke Bantul. Juga membeli mainan untuk cucu?, katannya dengan mata yang berkaca-kaca.

Pak Tukijo sudah siap-siap untuk mengganti dagangannya kalau suatu hari, layanan listrik sudah membaik. ?Saya tunggu saja nanti, pak?. Buat pak Tukijo dan kawan-kawannya yang senasib, kwalitas hidup masih hanya sebatas terpenuhinya kebutuhan sehari-hari. Sedangkan kwalitas kehidupan berkeluarga masih jauh dari idamannya. Inilah nasib generasi yang akan datang. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat 16 Februari 2010