DUNG, DUNG, DUNG

Dung, dung, dung. Bunyi bonang yang sengaja dipukul dengan keras, terdengar dijalan-jalan sempit dan gang disekitar pemukiman SSSSS, yang penuh dengan rumah petak sewaan. Anak-anak kecilpun berhamburan keluar rumah, mendekati gerobak becak Pak Karso yang berjualan es putar. Anak-anak yang menggunakan beragam jenis dan warna pakaian, ada yang telanjang dada, ada yang ingusan, meramaikam pemandangan. Kebanyakan mereka adalah anak-anak yang belum bersekolah, masih balita. Masa depan bangsa, menjadi modal SDM kita yang produktif di tahun 2030.

Begitulah gambaran kehidupan masyarakat kita di lingkungan pemukiman padat, baik yang direncanakan seperti Rusunami, tapi juga yang tumbuh liar disekitar Jabodetabek. Hampir semuanya memanfaatkan air tanah dengan sumur pompa, PLN kebanyakan sudah menjangkau mereka. Saluran air limbah, tidak jelas bermuara kemana. Didepan rumah dan dijendela-jendela bergantungan jemuran pakaian. Setiap pedagang jajanan lewat, dengan berbagai bunyi dan musik yang dipakainya, akan menarik kelompok anak-anak kecil berlarian keluar rumah mereka. Gang Kelinci seperti yang dilantunkan Lilis Suryani tahun 60-an, sudah berada dimana-mana sekitar kita. Penuh dengan anak-anak seperti anak kelinci. Jakarta sudah penuh sesak dengan anak-anak, pemuda, pengangguran, dan pensiunan yang tidak produktif. Tetapi keadaan demikian tidak menggentarkan para pelaku ekonomi rakyat, bukan pengusaha karena tidak memiliki NPWP, untuk terus menghidupi keluarganya.

Pak Karso, yang penjual es puter atau es dung-dung, sudah 28 tahun menekuni usaha ini. Bersama istrinya, bapak dari tiga anak asal Klaten, menempati kontrakan dibelakang sebuah pasar. Ketiga anaknya sudah dewasa dan bekerja bersama sebuah grup hiburan keliling dibeberapa pasar malam. Demikian juga pak Karso, kadang-kadang untuk mendapatkan tambahan, bekerja ditempat yang sama. ?Lumayan ada tambahan, pak?, sambil terus menyiapkan es puter dirumahnya, yang dikontrak 300 ribu setiap bulannya. Setiap hari ia menyisihkan 100 ribu rupiah dari penghasilannya, untuk membeli berbagai bahan baku es puter, seperti kelapa, hun kue, tepung dan dua macam buah. ?Sekarang ini saya pakai stroberi dan durian, pak?! Menyiapkan jualannya, pak Karso selalu dibantu istrinya, yang tidak pernah mengenyam pendidikan.

Pak Karso, yang tamatan SR, menjual es puternya dengan harga 1000 rupiah untuk gelas kecil dan 2000 rupiah gelas besar. ?Tapi saya kadang-kadang terpaksa menjual 500an, melayani anak-anak yang nangis minta es?, sambil tersenyum. Di komplek perumahan dan bagi yang sedang mengadakan pesta, ia sering melayani pesanan dengan termos. Satu termos dengan isi untuk 300 gelas, dijual dengan harga 300 ribu rupiah, minimum pesan 2 termos. Rata-rata setiap hari ia bisa mendapatkan sekitar 180 ribu rupiah, setelah dipotong modal dan uang rokok, sisanya diserahkan kepada istrinya.

?Sekarang sedang banyak orang hajatan, pak. Rejekipun jadi tambah?. Semoga tahun ini pak Karso penghasilannya bisa bertambah, banyak kampanye partai-partai politik menjelang Pemilau dan Pilpres. ?Pak nanti Pemilu mau memilih apa?, tanya saya iseng. ?Saya tidak tahu, pak. Ikut yang lain aja?, katanya tidak bersemangat. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 6 Jan 2009