TAHUN 2010

Bagi yang merayakan atau pun tidak merayakan detik-detik pergantian tahun 2009-2010, saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2010.

Tahun 2009 kita tinggalkan dengan perasaan dan kenangan yang berbaur. Duka yang menyelimuti bangsa kita dengan meninggalnya mantan Presiden RI ke 4 Gus Dus, dan seprang pejuang yang mempunyai prinsip Bapak Frans Seda. Keduanya adalah tokoh-tokoh yang mempunyai peran berbeda dalam membangun masyarakat kita. Kecewa mengalir terus didada kita, menonton lelucon Perang Tanding Cecak-Buaya dan Dagelan Banl Century. Lelucon dan dagelan yang tidak lucu, melainkan menyedihkan.

Di akhir tahun 2009, kita sedih melihat para pedagang terompet masih memenuhi sekitar tempat diselenggarakannya pesta tahun baru. Mereka bertahan sampai subuh tahun 2010. Haru melihat kuli sindang masih menunggu rejekinya disepanjang kaki lima dekat ke proyek dan jembatan-jembatan.

Tahun 2009, dinikmati rakyat karena banyaknya politisi dan partai politik mengumbar janji dan hadiah untuk mendapatkan dukungan dalam Pemilu dan Pilpres. Banyak janji yang sekedar pemanis mulut, sudah luntur, koyak, dan hilang seiring dengan menghilangnya dan terkoyaknya bendera partai politik yang masih berkibar lusuh di tiang-tiang tinggi, serta menghilangnya poster-poster dari tembok jalan.

Tahun 2010, katanya kita harus optimis. Semoga semuanya bertambah baik. Tetapi belum apa-apa kita dilanda tsunami baru bagi pelaku ekonomi rakyat. Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China, yang akan mulai berlaku tahun ini. Sebelum tahun 2010 kita sudah merasakan banjir produk China yang banyak merugikan industri kecil kita, tekstil, mainan anak-anak, barang-barang keperluan tangga, pokonya semua barang kelontong. Kita bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan produk China ini, bukan saja banjir atau air bah, melainkan tsunami. Buah-buahan, makanan dan minuman, jamu tradisional (China), kembang apai dan mercon, akan ikut menggilas pasar kita. Menteri, pejabat, politisi, pengusaha dan rakyat banyak yang mengkhawatirkan dampak negatif perjanjian ini.

Saatnya bagi kita, kita semua, untuk bersungguh-sungguh, untuk mencintai produk bangsa kita sendiri. Kalau perlu kita kembali memakaiperalatan dan mainan tradisional, utamakan pemakaian bahan baku lokal dan tradisional, seperti gerabah dan daun. Kita nikmati kembali makanan, buah dan jajanan tradisional. Kita utamakan makan beras dari mie, makan pisang dari apel atau anggur. Kita harus saling mendukung, petani dan nelayan, pengrajin dan industri kecil, pedagang dan warung, serta konsumen, untuk mempertahankan diri dari tsunami yang akan melanda.

Kita tidak perlu menunggu perintah dan himbauan, atau membentuk tim dan pansus, kita lakukan apa yang terbaik. Politisi dan pejabat masih ribut mencari jalan keluar, tentu dengan perhitungan untung-rugi dan kekuasaan.

Semoga tahun 2010 akan membawa perbaikan untuk kehidupan kita, kehidupan para pelaku ekonomi rakyat dan keluarganya, serta rakyat Indonesia pada umumnya.

SELAMAT TINGGAL 2009, SELAMAT DATANG 2010. (rahardi@raemelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 5 Januari 2010