JAJANAN SEHAT

Walaupun ia hanya tamatan SD, tetapi kedua anaknya telah lulus SMA. Pak Rono, asal Pemalang telah mengeluarkan uang sebesar 500 ribu rupiah untuk mengurus berbagai surat untuk kedua anaknya agar segera bisa mendapat pekerjaan. ?Sampai hari ini mereka masih menganggur. Kadang-kadang kita bingung, pak. Sekolah lama dan mahal akhirnya menganggur?, keluhnya.

Sudah sejak 27 tahun, Pak Rono tidak merubah profesinya dan tetap pada pekerjaannya semula. Berjualan jagung dan kedelai rebus, di Jakarta. Setiap hari ia berkeliling menjajakan jualannya mulai pukul 13 sampai pukul 22 malam. Setiap hari ia belanja jagung dan kedelai di Pasar Induk Kramat Jati. Ia memperkirakan harga gerobak yang ia pakai setiap hari, dengan berbagai peralatannya seperti kompor dan dandang, bernilai 1.750.000 rupiah. ?Sekarang semua barang naik harganya, saya harus menyediakan uang 150 ribu rupiah setiap harinya untuk belanja?, katanya sambil terus menyusun jagung dan kedelai yang sudah direbus sebelumnya. Setiap hari rata-rata ia dapat menjual 30 buah jagung dan 20 ikat kedelai rebus. ?Sekarang jagung saya hargai 1500 dan satu ikat kedelai 2000 rupiah?. Setiap hari hari pendapatanntya sekitar 220 ribu rupiah. Uang tersebut harus ia bagi dengan baik. Selain untuk modal, juga untuk tabungan dan sewa kontrakan.

Bersama seorang kawan sekampungnya, ia mengontrak rumah ukuran 3 X 3 meter, dengan sewa 200 ribu setiap bulan. Uang tabungannya ia bawa pulang ke Pemalang 3 bulan sekali. ?Saya masih mempunyai dua anak lainnya yang masih memerlukan biaya sekolah?, ujarnya dengan mata sayu. Pria yang sekarang berumur 49 tahun ini, merasa tidak mempunyai ketrampilan lainnya. Ia merasa puas dengan pekerjaannya sebagai penjual jagung rebus. Yang ia harapkan sekarang, hanya bagaimana kedua anaknya yang telah lulus SMA bisa segera bekerja.

?Mudah-mudahan tahun 2010 yang akan datang akan lebih baik, ya pak?, harapnya. Kemudian ia bercerita mengenai berbagai hal yang ia baca di koran dan lihat di tayangan TV. Dia hanya mengenal SBY, tapi siapa menteri yang seharusnya memikirkan kehidupan mereka, sama sekali tidak dikenalnya. ?Kasihan itu bu Prita pak. Saya ikut menyumbang koin untuk bisa membayar dendanya?, katanya tidak bersemangat. Ia pun mengeluhkan bagaimana mahalnya obat dan pelayanan kesehatan. Pak Rono sangat mengharap di tahun 2010 banyak perubahan di Indonesia.

Menjelang perayaan pergantian tahun, pak Rono telah memikirkan untuk menambah dagangannya. ?Setiap ada keramaian, buat saya berarti rejeki. Hasilnya bisa lebih dari dua kali?, matanyapun kelihatan bersinar. Setelah perayaan Tahun Baru, iapun merencanakan untuk pulang ke Pemalang. ?Sudah kangen, pak?.

Semoga harapan pak Rono bisa terkabul, dan kita semua Bangsa Indonesia dapat hidup lebih baik, tenang, bergairah, serta lebih berkwalitas.

SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU 2010. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 22 Des 2009