PEMPEK PALEMBANG

Usaha yang paling banyak dilakukan oleh para pelaku ekonomi rakyat sekarang ini ialah usaha makanan atau jasa boga. Kadang-kadang usaha ini sebagai transisi atau hanya usaha sementara sebelum mendapatkan pekerjaan  tetap lainnya. Selain modal tidak terlalu besar, pasarnyapun kelihatan masih terbuka. Yang penting adalah jenis makanan yang dipilih dan lokasi tempat berjualan.

Jakarta dan sekitarnya menjadi tempat bermukimnya hampir semua suku dari seluruh Indonesia. Mulai dari Aceh sampai Papua. Demikian juga dengan pendatang dari luar yang sudah menjadi bagian dari bangsa kita, seperti Tionghoa, Arab, Pakistan, India, dan mereka yang datang kemudian seperti dari Eropa, Amerika dan Afrika. Tempat bercampurnya berbagai suku bangsa ini memberikan peluang bagi penjual makanan dan jajanan dengan berbagai rasa daerah dan negara asal.

Peluang usaha jajanan daerah ini dimanfaatkan oleh Pak Ismail, yang lebih senang dipanggil Bang Mail, yang asli Betawi. Tujuh tahun yang lalu, Bang Mail yang menyandang ijazah SMP, terkena PHK sebagai supir dari sebuah pabrik. Setelah membicarakan dengan istri dan kedua anaknya, ia kemudian memutuskan untuk memulai berjualam pempek Palembang. Iapun memilih lokasi di kaki lima sebuah Gedung Pertemuan dengan membayar 20 ribu rupiah setiap harinya.

Dengan dibantu anaknya yang juga tamatan SMP, ia membeli berbagai peralatan dan gerobak dengan etalase kaca. ?Waktu itu saya mengeluarkan dana sebesar 3 juta rupiah?, kata Bang Mail tersenyum. Setiap hari ia memmpersiapkan berbagai bahan  untuk pempek Palembangnya. ?Langganan saya bukan hanya orang Palembang. Pempek sudah disenangi oleh semua orang. Mungkin rasanya yang agak kecut?, ungkapnya.

Setiap malam Bang Mail berjualan, dan menghabiskan antara 30 sampai 40 porsi, penghasilan kotornya mencapai 150 sampai 200 ribu. ?Setiap hari saya bisa menyisihkan 50 sampai 75 ribu, yang saya serahkan keistri dirumah?, katanya datar. Sedangkan untuk anaknya yang ikut membantu pekerjaannya, mendapatkan uang jajan 10 ribu rupiah setiap harinya. ?Ia tidak mau sekolah lagi. Kakaknya yang tamat SMU saja hanya jadi tukang ojek?, keluhnya. Bang Mail kemudian banyak menceritakan keluh kesahnya mengenai keadaan ekonomi sekarang. Untuk mencari pekerjaan lagi sebagai supir hampir tidak mungkin. Ia sendiri tidak mempunyai keahlian lain.

Kalau sedang ada kegiatan atau perayaan di gedung pertemuan tersebut, Bang Ali selalu menyiapkan dagangannya lebih. Rejeki katanya. ?Bulan ini sedang banyak acara, jadi saya bisa menyisihkan uang lebih banyak. Lumayan untuk persiapan lebaran dan kurban tahun depan?, katanya dengan mata yang bersinar.

Di tempat Bang Mail bekerja, saya menyaksikan bang mail-bang mail lainnya. Ada yang berjualan gado-gado Jakarta, sate Padang, ikan bakar Makasar, soto Madura, ayam betutu Bali. Ada juga yang berjualan burger ala Amerika dan dosis Jerman. Betawi sudah mendunia. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 8 Des 2009