KAMBING HITAM

Keributan cicak lawan buaya belum selesai, sudah muncul cerita baru mengenai ?markus? atau makelar kasus.  Politisi, petinggi negara, dan ahli hukum akhirnya mengakui bahwa markus itu memang ada. Masyarakat sudah lama membicarakan adanya ?markus?, tetapi tidak pernah didengar. Betapa jauhnya antara mulut rakyat dengan telinga para petinggi kita. Semoga tidak ada kambing hitam yang dicari.

Tetapi, dimanapun keberadaan mulut rakyat, terutama para pelaku ekonomi rakyat, mereka harus makan. Demikian juga dengan Pak Mathoha, yang tinggal di Cileungsi harus mencari pekerjaan tambahan selain pekerjaan utamanya sebagai petani. Sejak tahun 1982 ia sudah dikenal sebagai ppembuat bedug, produknya dikenal luas di beberapa desa sekitar, sampai ke Jakarta, Bogor dan Bandung.

Dengan dibantu oleh seorang anaknya yang masih belajar di SMP, ia membuat bedug dengan memanfaatkan drum bekas dan kulit kambing. Di dalam ruang kerja yang berukuran 2 X 3 meter, berbagai peralatan tukang dan gunting tersedia. ?Sekarang pesanan sedang banyak, pak. Jadi saya harus bekerja keras?,  katanya. Ayah dari tiga anak, pak Mathola yang hanya tamat SD, berusaha agar anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebh baik. ?Tetapi gimana ya pak, sekolah sampai SMP, ongkosnya mahal, tetapi pekerjaan tidak ada?, keluhnya. Kenyataannya, kedua anaknya yang sudah berkeluarga, terpaksa menjadi tukang ojek untuk bisa mendapat penghasilan menghidupi keluarganya.

Untuk sebuah bedug, ia memerlukan modal sekitar 100 ribu rupiah. Sudah termasuk membeli drum dan kulit kambing. Saat ini, menjelang hari Raya Idul Adha, ia sudah menyiapkan dana yang cukup untuk membeli kulit kambing. ?Sebentar lagi kulit kambing agak miring harganya, pak?. Ia sudah menghubungi beberapa mesjid yang biasanya mendapat banyak kambing kurban. Pak Mathoha hanya memilih kulit yang lebar dan bagus, tidak peduli apakah berasal dari kambing hitam, kambing hitam sungguhan. Setiap bedug bisa dijual dengan harga antara 300 sampai 350 ribu rupiah. Sedangkan anaknya yang ikut membantu pekerjaannya, mendapatkan 30 sampai 50 ribu rupiah untuk sebuah bedug. Bagi pak Mathoha, tambahan penghasilan dari pembuatan bedug, dapat mencukupi kehidupannya sebagai petani palawija.

?Mudah-mudahan semuanya aman ya, pak. Supaya banyak yang membeli bedug?, katanya lirih. Iapun kemudian bercerita mengenai masalah cicak dan buaya, ?markus? dan preman. ?Setiap hari ada saja yang meminta uang kesini pak. Resmi dan tidak resmi?, katanya dengan nada keras. Begitulah kehidupan masyarakatnya pak Mathoha, menghadapi segala ukuran buaya, biyawak dan toke. Mereka berharap penyelesaian perselisihan antara cicak dan buaya, juga meniadakan prilaku buaya kecil, biyawak, toke dan sejenisnya. Akhirnya ia berharap semua yang memesan bedug akan mengambil pesanannya serta membayar. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 24 Nop 2009