PIK PULO GADUNG

Membicarakan ekonomi rakyat di Jakarta, kita tidak bisa terlepas dari Pulo Gadung. Sejak akhir tahun 80an, Jakarta memiliki Perkampungan Industri Kecil(PIK) di Cakung Jakarta Timur. Tetapi sekarang ini, masih adakah yang melirik keberadaan perkampungan industri kecil dengan lahan seluas 44 hektar, yang berlokasi berdampingan dengan Kawasan Industri Pulo Gadung.

Sekarang ini keadaannya sangat menyedihkan dan kumuh, tidak jelasnya cara pengelolaan. Sangat disayangkan lokasi yang berada didalam kota, yang semula bukan hanya dijadikan lokasi percontohan pemukiman industri kecil, juga dimaksudkan untuk tujuan wisata. Kemajuan kota Jakarta selama 20 tahun belakangan ini, sepertinya sama sekali tidak menyentuh PIK ini. Berbagai pusat perbelanjaan yang berkembang di Jakarta tidak ada hubungannnya dengan pemukiman industri ini. Adanya UKM Center di Tanah Abang, dan UKM Gallery di Gedung Smesco Jalan Gatot Subroto, sepertinya sama sekali tidak terkait dengan pengusaha industri kecil dari Pulo Gadung yang pernah menjadi kebanggaan Jakarta.

Bagi pengusaha industri kecil dari luar Jakarta seperti Krawang, Cirebon, Indramayu dan kota-kota lainnya, lebih mudah memasuki kota Jakarta dibandingkan dengan para penghuni PIK Pulo Gadung. Jalan masuk dan keluar kawasan tersebut sangat tidak layak bagi sebuah kawasan industri.

Menjadi pertanyaan bagi kita semua, terutama masyarakat Betawi, sejauh mana pemerintah DKI memikirkan peran industri kecil khususnya yang berada di PIK Pulo Gadung? Apakah lahan seluas 44 hektar ini akan dibiarkan menjadi kawasan kumuh dengan ketidak jelasan Rencana Tata Ruang(RT) dan Rencana Wilayahnya(RW).  Dengan diijinkannya para penghuni PK Pulo Gadung, bukan saja menyewa melainkan membeli dan memiliki bangunan dan lahan yang mereka pakai, maka akan muncul masalah masa depan PIK tersebut. Pengalaman beberapa lingkungan industri kecil di tempat lain, menunjukan bahwa generasi penerus dari para pengusaha industri tersebut mempunyai kehidupan yang lain, sehingga yang terjadi, adalah kawasan tersebut sudah berubah fungsi. Berbeda dengan perkampungan industri kecil yang berkembang karena adanya tradisi dan budaya lokal sejak dulu, PIK Pulo Gadung adalah lingkungan yang diciptakan tanpa ada tradisi dan budaya.

Kawasan industri kecil lainnya di Jakarta dan sekitarnya telah tumbuh dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya kota Jakarta. Ada yang merupakan bagian dari kawasan industri, tetapi ada juga yang berkembang di tempat terpisah. Industri-industri kecil tersebut jelas keterkaitannya dengan pasar dan industri menengah dan besar lainnya.

Sudah saatnya pemerintah DKI bersama pemerintah pusat, memikikan masa depan lahan seluas 44 hektar tersebut, memikirkan nasib para penghuni PIK Pulo Gadung. Jangan-jangan sudah ada pengembang yang melirik lahan strategis ini. Semua menaruh harapan kepada Bang Foke, dan siapapun yang menjadi Menteri UMKM, untuk berbuat sesuatu. (rahardi@ramelan.com)

Dimuat di harian Pos Kota 20 Okt 2009