Sekarang ini, tempat orang menjalankan hukuman badan dinamai LP atau Lembaga Pemasyarakatan. Sebetulnya para terpidana disiapkan untuk bagaimana mereka dapat kembali kemasyarakatan. Undang-undangnya ada. Peraturannya ada. Tapi apakah semuanya sejalan dengan keputusan politik yang berupa undang-undang?

Jawabnya sangat jelas, tidak, tidak, tidak. Sekali lagi tidak. Hak-hak sebagai narapidana, sekarang disebut warga binaan, sama sekali tidak didapatkan. Ataupun harus di “perjuangkan”. Tahukan maksud “perjuangan” dalam rantai peradilan kita. Hampir serupa dengan segala urusan publik kita ada ongkosnya. Kita mulai kehilangan arti public goods. Rasanya semua sudah hampir menjadi private goods, yang berarti ada harganya. Harga dan kwalitas ditentukan oleh rendah dan tingginya jasa atau service.

Sebagai narapidana kita semua disamakan. Ingat 1984 – nya George Orwell? Begitulah gambaran kasarnya. Ruang gerak para napi (narapidana), dihadapi dengan batas-batas yang selamany dipisahkan dengan tembok atau jeruji besi. Ada sel atau kamar, blok, besukan (tempat menerima kunjungan), tempat ibadah, sel pengasingan dan lain-lain. Ada dapur dan rumah sakit. Siapa yang mengatur dan berkuasa? Apa ada perbedaan diantara napi? Ceritanya minggu depan.

LP Cipinang 1 januari 2006.