BATIK, UNESCO dan KOMPOR

Oleh: Rahardi Ramelan

Sudah tidak diragukan lagi mengenai kedudukan batik dalam masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa. Batik bukan saja merupakan kreasi ekspresi budaya, melainkan merupakan bagian dari budaya itu sendiri. Dikalangan orang Jawa, bayi yang lahir kedunia, sudah dibungkus dengan kain batik. Selama hudupnya, terutama wanita Jawa, tidak akan terlepas dari batik, sampai akhirnya akan dibungkus dengan batik kala harus menghadap Sang Khalik. Batik tidak dapat terlepas dari budaya kita, oleh karenanya jangan memandang  batik hanya sebagai hasil kerajinan tradisional, ataupun  karya seni.

Batik

Menelusuri tradisi batik di Jawa Timur, Banten dan Jawa Tengah bersama Paguyuban Pencinta Batik Sekarjagad Yogyakarta, memberikan gambaran bahwa batik terus berkembang dan dilestarikan. Dengan berkembangannya ekonomi dibeberapa daerah dalam beberapa dekade yang lalu, telah mengurangi, bahkan di beberapa daerah sudah hampir memusnahkan tradisi membatik dikalangan masyarakat, karena munculnya kegiatan ekonomi di sektor lain yang lebih menjanjikan penghasilan lebih baik. Akhir-akhr ini, batik mulai berkembang menggembirakan, dan tidak terlepas dari peran para perancang busana daerah dan naisonal, sehingga menempatkan pakaian batik menjadi  fashion dan trend.

Kegairahan memakai busana batik atau bercorak batik, bukan hanya didominasi kalangan atas dan menengah, melainkan juga kalangan bawah. Segmentasi konsumen yang demikian lebarnya, menyebabkan juga maraknya produksi tekstil bermotif batik atau lebih sering dinamakan batik printing. Pengusaha, yang hanya berorientasi keuntungan, telah memanfaatkan keadaan ini dengan mengimpor tekstil dan pakaian bermotif batik dari Tiongkok, yang sangat merugikan para pembatik kita.  Para pengamat dan pemerhati batik, masih terus mendiskusikan mengenai penempatan tekstil bermotif batik ini didalam pengertian batik sebagai bagian dari budaya. Selain itu juga muncul desain tekstil yang berasal dari desain batik tradisional dengan menggunakan teknologi matematika fraktal. Beberapa perkumpulan atau kelompok mengarah kepada penelusuran dan pemurnian disain dan corak batik sebagai hasil kreasi budaya lokal. Bukan saja didaerah-daerah asal batik yang sudah dikenal seperti Yogyakarta, Solo, Lasem, Cirebon, Tasikmalaya atau Pekalongan, melainkan di kota atau daerah lain seperti Banten, Bantul, Kendal, Rembang, Garut, Malang dan masih banyak yang lain.

UNESCO

Dipicu oleh persaingan dari negara-negara lain, kkhususnya Malaysia, masyarakat batik kita telah mendesak pemerintah untuk berupaya melindungi dan memperjuangkan pengakuan dunia, bahwa batik adalah bagian dari budaya kita.  Untuk itu pada bulan September 2008, pemerintah bersama masyarakat batik telah mengajukan ke UNESCO, agar batik diakui sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity atau Warisan Dunia. UNESCO telah menunjuk Estonia, Turki, Uni Emirat, Republik Korea, Kenya, dan Meksiko sebagai subsiadary body, yang akan memberikan pertimbangan, dan rencananya akan mengadakan pertemuan pada tanggal 11 ? 15 Mei 2009. Pertimbangan mereka kemudian akan diajukan dan disahkan pada pertemuan UNESCO di Abu Dhabi tanggal 28 September sampai 2 Oktober 2009 yang akan datang. Untuk mendapatkan dukungan negara-negara tersebut, pemerintah telah mengadakan pendekatan dengan negara-negara tersebut melalui diplomat kita di luar negeri. Selain itu pada bulan April 2009, Menko Kesra telah mengadakan pertemuan makan siang dengan para Duta Besar negara-negara tersebut di Jakarta, dan sebelumnya Menteri Budpar juga menyelenggarakan hal yang sama. Disayangkan pada  kedua pertemuan tersebut baik Menko Kesra dan Men Budpar, sebagai pengundang, tidak hadir dalam kesempatan yang sangat berharga tersebut. Masyarakat batik sangat mengharapkan dukungan dan upaya sungguh-sungguh dari para pejabat tinggi pemerintah, walaupun dalam waktu sulit menghadapi pilpres yang akan datang.

Kompor

Disisi lain, dengan ditiadakannya subsidi minyak tanah, pengrajin batik menghadapi masalah baru, yaitu langkanya minyak tanah dan harganyapun semakin melambung. Pemerintah mengupayakan pemakaian LPG sebagai pengganti, khususnya untuk keperluan rumah tangga dan usaha mikro. Sedangkan bagi pengrajin batik,  sampai hari ini belum ada solusi yang memadai. Di Bandung telah dikembangkan kompor gas untuk keperluan pembatik, tetapi belum merupakan solusi akhir. Masalahnya panas yang dihasilkan masih terlalu tinggi sehingga tidak tepat untuk proses pembatikan. Beberapa upaya di Surabaya dan Yogya mengembangkan kompor dengan mempergunakan camputran minyak tanah dengan ethanol. Di Cilacap ada usaha untuk memanfaatkan minyak yang berasal dari buah nyamplung. Beberapa pemerintah daerah menggalakan kemungkinan pemakaian minyak jarak. Kelompok lain di Rembang berupaya dapat memanfaatkan ethanol 70 untuk keperluan pengrajin batik. Tetapi semua ini masih dalam percobaan awal dan gagasan, belum ada aplikasi yang dapat dimanfaatkan oleh pengrajin batik. Sudah saatnya pemerintah daerah bersama dengan pengusaha batik, bersungguh-sungguh mencari jalan keluar, untuk menghasilkan bahan bakar pengganti minyak tanah bagi pengrajin batik.

Kita semua wajib dan bertanggung jawab untuk melestarikan dan mengembangkan batik, sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia.

Penulis adalah mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan/

Pemerhati masakah teknologi dan masyarakat.