IPTEK DAN HARGA DIRI BANGSA

PERAN IPTEK DALAM MENGEMBANGKAN JATI DIRI BANGSA

Rahardi Ramelan

Pendahuluan

Sebelum membahas atau membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan ?Jati Diri Bangsa?, mari kita menyimak terlebih dahulu definisi atau pengertian mengenai ?jati diri ? itu sendiri.

Kamus Umum Bahasa Indonesia ? WJS Poerwadarminta BP-1993

?Jati diri? ……. tidak diketemukan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia ? Dept. Pandidikan dan Kebudayaan, BP ? 1994

?Jati diri? …..

1) ciri-ciri, gambaran atau keadaan khusus seseorang atau suatu benda; identitas

2) inti; jiwa, semangat dan daya gerak dari dalam, spiritualitas

3) mencari jati diri pembangunan nasional.

Pendapat rekan saya di – FIB Universitas Indonesia

Prof. Benny Hoed ? FIB Universitas Indonesia

?Jatidiri? = Identity: ?siapa kita? atau ?karakteristik yang dimiliki bersama? (jatidiri kelompok, jatidiri suatu bangsa). Biasanya jatidiri terasa saat kita berinteraksi dengan bangsa/kelompok lain.

Dengan pengertian seperti diatas, sukar sekali bagi saya, yang bukan sosiolog, untuk dapat memberikan pengertian yang gamblang mengenai masalah yang dihadapi bangsa ini dalam upaya mengenali ?jati dirinya?. Perkembangan lingkungan kita sendiri sebagai bangsa, pamahaman akan kebangsaanpun  mulai dirasakan blur atau remang-remang.

Sebagai akibat dari ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat dan terbentuknya kelompok-kelompok yang memiliki identitas dengan jati dirinya masing-masing, akan mempersulit bagi kita untuk menemukan jati diri sebagai satu bangsa. Arus demokratisasi dan berkembangnya otonomi daerah, lebih memperkuat dorongan untuk memperjelas dan menumbuhkan identitas dan jati diri daerah. Tanda-tanda kearah tersebut semakin nyata. Keinginan untuk mematenkan atau mendaftarkan sebagai HAKI berbagai hasil kreasi daerah tersebut, hanya akan mempertegas batas-batas daerah, daerah otonomi kabupaten dan kota. Sedangkan kita mengetahui bahwa budaya dan kesenian tidak mungkin dibendung oleh batas-batas administrasi pemerintahan. Sejarah menunjukan bahwa budaya dan kesenian telah melintasi batas-batas negara dan benua, karena budaya melekat pada manusia dan kelompoknya. Demikian juga dengan jati diri yang melekat pada manusianya.

Dengan perkembangan otonomi daerah dan demokratisasi, ditambah lagi dengan arus  globalisasi, tidak mudah bagi kita untuk merumuskan kembali jati diri bangsa yang pernah kita miliki, yang kita miliki sekarang, dan yang akan tetap kita miliki di waktu yang akan datang.

Perubahan lingkungan

Di Jakarta dan kota-kota besar, kita bisa mendapatkan pelayanan di spa dan tempat hiburan oleh perempuan asal China atau asal negara ex Rusia seperti Uzbekistan. Di beberapa kafe dan restoran franchise internasional, sudah ada pramusaji dari Philipina. Di Singapura kita temui tenaga kerja wanita khususnya pembantu rumah tangga asal Indonesia dan Philipina. Perempuan asal China banyak menjadi pramuniaga di toko-toko dan mal di Singapura. Proyek bangunan di Singapura banyak dikerjakan oleh tenaga kerja asal Bangladesh, sedangkan tenaga kerja asal Indonesia sangat dominan di perkebunan sawit dan PRT di Malaysia.

Selain tenaga-tenaga kasar tersebut, kita juga mengirim tenaga terlatih seperti pelaut dan tenaga perhotelan untuk kapal pesiar, meskipun belum sebanyak tenaga asal Philipina. Untuk itu beberapa fasilitas pelatihan sudah ada di Bali dan mendapat sertifikat yang memadai. Yang cukup berkembang juga tenaga theurapist untuk spa dan salon kebugaran. Banyak diantara mereka dikirim ke Timur Tengah, Eropa dan kapal pesiar. Dalam hal ini beberapa perusahaan spa internasional mendirikan tempat pelatihan di Bali dan memberikan sertifikat yang berlaku global.

Dalam keadaan ekonomi kita yang masih sangat terbatas,  keadaan yang demikian masih akan terus berkembang dan meluas,  peluang kesempatan kerja global harus terus dimanfaatkan. Hanya kita harus hati-hati jangan sampai pada satu hari tukang cukur atau pemangkas rambut akan dipenuhi oleh warga Banglades atau Pakistan.

Dikaitkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang menjadi perhatian saya justeru keberadaan para ahli dan profesional kita yang bekerja dan mengabdi di berbagai negara maju. Ratusan bahkan mungkin ribuan warganegara Indonesia tersebut tersebar antara lain di Brasilia, Amerika Srikat, Kanada, Negeri Belanda, Jerman, Swedia, Australia, Selandia Baru, Jepang dan negara-negara lainnya. Mereka adalah putra-putri bangsa Indonesia yang telah mengenyam pendidikan baik di dalam negeri ataupun di luar negeri. Mereka bekerja di berbagai kegiatan ekonomi, baik industri, perdagangan maupun perbankan. Ada juga yang bekerja sebagai peneliti, dosen dan guru besar. Bahkan beberapa diantaranya memegang jabatan penting dalam perusahaan ataupun lembaga penelitian dan pendidikan. Bagi mereka tempat atau negara di mana mereka dapat memanfaatkan profesi dan keahliannya, bukanlah hal yang menentukan, sepanjang jaminan kehidupan dan masa depan diri dan keluarganya terjamin. Mereka sudah menjadi global-citizen atau penduduk dunia. Kita juga menengarai anak-anak kita yang belajar di sekolah-sekolah internasional atau yang sekolah di luar negeri mulai memiliki dan menunjukan prilaku  sebagai global-citizen tersebut. Pergaluan dan perkawanan sudah tidak memandang asal negara, warna kulit, dan agama. Perkawinan campur dengan bangsa lain tidak terelakan, mereka dan anak-anaknya fasih dalam berbagai bahasa asing.

Tidak dapat dihindari bahwa negara kita juga menjadi tempat tinggalnya global-citizen dari manca negara. Kalau pada awal 1970 kita mulai dipenuhi dengan tenaga konsultan asing yang terkait dengan dana pinjaman luar negeri, sekarang keberadaan profesional dan ahli asing ini semakin meluas, melalui proyek-proyek PMA dan bisnis franchise. Selain manager dan profesional, termasuk juru masak, yang kita jumpai di hotel dan kafe atau restoran bertaraf internasional, keberadaan mereka juga kelihatan menonjol di industri perbankan, industri kimia dan farmasi, industri otomotif dan industri elektronika. Konsultan dari Amerika dan Eropa, insinyur dari India dan Eropa Timur, sekretaris dari Singapura dan Filipina, pemandu wisata dari Jepang dan Taiwan, arsitek dari Australia, Jepang dan Eropa, dengan mudah kita temui di kota-kota besar. Guru besar dan pengajarpun sudah kita temui di perguruan tinggi swasta, sekolah bertaraf internasional sampai ke taman kanak-kanak. Mereka semua adalah bagian dari global-citizen, tempat dan negara bukan lagi menjadi patokan. Perkawinan dengan penduduk lokalpun terjadi dan semakin meluas. Kawin kontrak dan kawin dengan premarital agreement  tidak menimbulkan hambatan bagi kedua pihak.

Para global-citizen asal Indonesia telah ikut mengharumkan nama Indonesia dengan prestasinya. Diperlukan kemampuan kita (terutama pemerintah) untuk merajut komunikasi dengan mereka, agar turut mengangkat martabat bangsa kita. Mereka adalah putra-putri bangsa Indonesia, jangan sampai tercerabut dari akarnya.

Dikalangan pengguna dunia maya (internet) dan ponsel, muncul juga kelompok-kelompok yang tergabung dalam Facebook atau Twitter. Mereka lebih terbuka dan blak-blakan dalam menyampaikan pandangannya. Jangkauan mereka tidak terbatas pada lingkungan negara, mereka dengan mudah dan cepat menjangkau komunitas di mancanegara secara global. Blog berkembang cepat, demikian juga dot com. Mereka sering disebut sebagai netizen.

Mengamati masalah yang berkembang dalam kehidupan masyarakat serta dipengaruhi oleh berkembangnya teknologi informasi, kita menghadapi generasi-generasi baru yang oleh para pakar di Amerika dan Eropa dikenal dengan XYZ Generation dan Gadget Generation. Perlu ditelusuri mengapa para global citizen Indonesia ini lebih memilih bekerja di luar negeri selain alasan jaminan masa depan dan tidak adanya kesempatan didalam negeri.

Teknologi terus berkembang dan mempengaruhi terbentuknya citar baru. Citra sebagai subjective knowledge, yaitu segala sesuatu yang kita percayai kebenarannya, sangat menentukan prilaku manusia. Globalisasi terus membangun citra dunia baru yang akan kita percayai kebenarannya, yang berbeda dengan citra-citra sebelumnya. Pada saatnya akan mempengaruhi prilaku dan budaya kita.

Teknologi dan budaya

Terbentuknya kebudayaan sebagai “a way of thinking, feeling, and believing ” merupakan suatu proses yang berjalan cukup panjang. Budaya merupakan proses historis dan selektif dimana manusia memberikan reaksi baik terhadap perubahan internal maupun eksternal. Dengan demikian, kebudayaan pada dasarnya adalah suatu desain sistem kehidupan yang terwujud secara ko-evolutif atau secara historis dan selektif, yang dipahami dan dipedomani bersama oleh seluruh anggota masyarakat. Oleh karena itu pula, latar belakang kebudayaan merupakan aset yang perlu digunakan sebagai titik masuk dalam upaya pembangunan, khususnya dalam era globalisasi, agar pembangunan ini memberikan makna terhadap manusia dan kemanusiaan, baik sebagai anggota masyarakat maupun sebagai kelompok.

Nilai merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan. Untuk dapat mengarungi arus globalisasi dengan berhasil mengandung arti bahwa kita memerlukan tatanan nilai yang sesuai. Nilai adalah sesuatu yang ideal yang memiliki dimensi agama, etika, atau moral.

Sastrawan dan budayawan kita, Sutan Takdir Alisyahbana, dalam peringatan ulang tahunnya yang ke-70 (pada tahun 1980),  waktu itu mengatakan bahwa perasaannya dalam kesenduan mendalam. Dia dalam keadaan gelisah dan resah menyaksikan situasi kebudayaan waktu itu. Bagi Sutan Takdir Alisyahbana, kebudayaan adalah konfigurasi yang terdiri dari berbagai sistem nilai –estetik, kekuasaan, religi, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan sebagainya– yang menguasai hidupnya.

Sedangkan eksistensi iptek dalam suatu masyarakat merupakan kekayaan budaya yang penting bukan hanya bagi masyarakat yang bersangkutan, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Dari mana asal-muasal suatu teknologi baru (the origin of new technology) masih merupakan ajang perdebatan dan sebagai subjek penelitian yang menarik. Persoalan yang belum tuntas jawabannya adalah menjawab pertanyaan apa yang membangkitkan kreativitas seorang individu. Walaupun jawaban pasti belum diketahui, ada satu hal yang paling penting untuk kita cermati bersama, yaitu bahwa dalam bidang pengembangan iptek yang kita lakukan, kita menjelajahi dunia yang belum kita ketahui (we are exploring the unknown). Oleh karena itu, kemajuan dalam iptek ini akan sangat ditentukan oleh keberadaan kebudayaan yang menghidupkan dan mendukung semangat untuk mengeksplorasi dunia yang belum diketahui itu.

Dipandang dari sudut budaya, perkembangan iptek suatu masyarakat atau suatu bangsa dapat dijelaskan dalam hubungannya dengan faktor-faktor berikut:

Pertama, konstelasi nilai-nilai dalam masyarakat atau bangsa dan komitmen masyarakat secara keseluruhan yang menyalurkan motivasi untuk mendukung, meyakini, atau menerapkan iptek dalam pelbagai derajat serta jenis penggunaannya .

Kedua, kemampuan sistem iptek nasional dalam menghasilkan dan memasarkan hasil-hasil penelitiannya serta mendorong penerapannya secara efisien dan efektif dalam seluruh bidang kehidupan.

Ketiga, struktur lembaga-lembaga yang bergerak di bidang iptek yang menjembatani proses kreatif dan inovatif para penelitinya.

Berbagai lembaga yang bergerak dalam bidang iptek telah ada, dan akhir-akhir ini telah dibentuk Komisi Inovasi Nasional, tetapi persoalan mendasar dalam hal ini bukanlah ada atau tidak adanya organisasi secara legal-formal, tetapi apakah telah tumbuh dan berkembang organisasi dengan semangat serta perilakunya yang sesuai dengan persyaratan-persyaratan untuk tumbuh dan berkembangya suatu kehidupan akademis sebagai landasan berkembangnya iptek. Kenyataan yang dihadapi bangsa ini setiap perubaan politik yang terjadi telah  mengakibatkan terjadinya pembangunan teknologi yang terputus (disruptive technological development). Itulah yang terjadi baik pada tahun 1965 maupun tahun 1998. Ternyata proses penguasaan teknologi pada waktu itu, belum mencapai titik tinggal landasnya (take off). Malah ada kesan bahwa proses dan investasi pada era sebelumnya menjadi terbengkalai. Perang dingin sudah lama usai. Kita harus pandai melihat keliling untuk mencari mitra yang paling tepat. Oleh karena itu, kita perlu melakukan otokritik dan evaluasi secara jujur, objektif dan terbuka.

Kita harus belajar dari negara-negara berkembang yang telah berhasil mengembangkan industri dasar dan berat, dan akhirnya mampu menciptakan kemandirian dalam industrinya. Dalam mengembangkan industri dasar dan industri berat ini, kita tidak dapat terlepas bahwa satu bangsa harus memiliki techno-ideology yang menjadi dasar bahwa bangsa ini memang sungguh-sungguh ingin menguasai teknologi dan industri. Strategi pengembangan industri dan penguasaan teknologi bukanlah kebijakan sesaat. Janganlah setiap pergantian pemerintahan kita melakukan  ‘ ‘perombakan ‘ ‘ tanpa dikaitkan pada techno-ideology yang kita sepakati. Kita memerlukan sebuah kebijakan terpadu TIPS (Technology and Industrial Policies), yaitu kebijakan industri yang didasari dengan penguasaan teknologi. Seperti yang pernah diterapkan oleh BJ Habibie dalam industri pesawat terbang dan perkapalan. Mencapai kemandirian dalam industri dan teknologi membutuhkan waktu yang panjang dan harus dilaksanakan berkelanjutan.

Iptek dan harga diri

?Jati diri? dalam masyarakat luas kalau dikaitkan dengan perorangan sering dihubungkan dengan pengertian ?aku sejati?. ?Aku sejati? yang sering diartikan sebagai jati diri (berupa eksistensi) yang sesungguhnya sudah ada sejak dahulu, sekarang dan yang masa akan datang. Jadi setiap orang memiliki jati diri yang mempunyai keunikannya masing- masing, baik positif maupun negatif, kelebihan dan kekurangan. Kemudian sehari-hari ?jati diri? ini sering tercampur atau dibingungkan dengan istilah atau pengertian lain seperti  – Jiwa, Sukma, Hati, Hati Nurani, Kesadaran, Bawah Sadar, Mental, atau Prilaku dan Harga Diri.

Saya sengaja mengkaitkan peran iptek dengan harga diri. Karena akhir-akhir ini kita sering merasa harga diri kita ?diinjak-injak? oleh bangsa lain. Kejadian baru-baru ini dengan Malaysia, dimana rasa harga diri bangsa ternodai, yang disuarakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, tetapi pimpinan sepertinya menutup telinga, serta membiarkan bangsa kita menjadi ejekan sampai ditingkat pertemuan antara Menteri Luar Negeri. Pemulangan masal TKI, hukuman mati bagi WNI dan penyiksaan dan perlakuan kasar terhadap PRT asal Indonesia, sudah sering terjadi di  Malaysia, tetapi kita membiarkan kejadian tersebut berlalu tanpa mengusik emosi kita. Kita pun mengetahui banyaknya tokoh teroris ataupun para penyelundup dan pengedar narkoba yang berkewarganegaraan Malaysia. Kita terus memberikan toleransi, tanpa membesar-besarkan masalahnya yang katanya demi keserasian hidup bertetangga dengan bangsa serumpun.

Dikaitkan dengan iptek dan industri, kejadian akhir-akhir ini, misalnya kasus dengan Taiwan mengenai Indomie, yang merupakan bagian dari perang dagang, lagi-lagi pemerintah hanya membela diri tanpa mengambil inisiatif ?balasan? atau ?retaliation?. Kita dapat menjumpai berbagai produk makanan kemasan di berbagai super market yang berasal dari China, Taiwan, Korea dan Jepang, tanpa kita bisa membaca kemasannya. Kitapun tinggal diam. Kita mengetahui juga bahwa pembangunan pembangkit tenaga listrik PLN 10.000 MW yang dibiayai China tanpa menggunakan komponen-komponen penting produksi dalam negeri.Tetapi di sisi lain China telah mempersulit (melarang) masuknya boiler (komponen penting sebuah PLTU) buatan Indonesia ke China dengan berbagai alasan, kendati boiler tersebut telah memasuki pasar dunia termasuk Amerika Serikat.

Suatu pekerjaan yang besar dan berat harus kita hadapi, bukan saja oleh pemerintah, untuk mencapai kemandirian bangsa, dan menjadi satu bangsa yang mempunyai harga diri dan  diperhitungkan dalam percaturan dunia.

Melihat ke depan, masyarakat khususnya masyarakat industri dan teknologi, dihadapakan pada situasi yang blur. Situasi yang menyebabkan penglihatan ke depan terhalang oleh kabut yang membias, remang-remang, seolah-olah kita mengidap penyakit rabun. Tidak ada kebijakan industri yang jelas.

Dalam keadaan demikian, kita membutuhkan pemimpin yang memiliki techno-nationalism yang kuat. Pemimpin yang mempunyai pandangan yang jernih, terlepas dari interest partai politik, golongan maupun bisnisnya. Pemimpin yang dapat membawa bangsa Indonesia melangkah ke depan, menguak kabut penghalang dalam menghadapi situasi yang blur. Produk-produk dalam negeri yang dikembangkan dengan kandungan teknologi yang besar, harus menjadi  ‘ ‘national champion ‘ ‘.

Untuk industri militer, TNI dan Kepolisian menjadi faktor penentu dalam mengutamakan produk dalam negeri. Industri dan teknologi hanya bisa maju dan berkembang kalau ada pemakainya. Janganlah dengan dalih persaingan dan transparansi, pengadaan investment good dan alutsista Hankam harus dilaksanakan melalui tender. Kita wajib mendukung dan mempertahankan  ‘ ‘national champion?. Kita semua harus menjadi techno-nationalist yang loyal dan setia.

Memperhatikan perkembangan geo-politik sekarang ini hanya kemampuan nuklir dan roket jarak jauh (termasuk angkasa luar), yang diperhitungkan sebagai kemampuan teknologi yang bisa menjadi bargaining power, dan membawa negara-negara industri maju dan adidaya untuk berunding dan duduk disatu meja, seperti yang dilakukan oleh Korea Utara, Pakistan, China, India dan Iran. Untuk Indonesia saya pernah menyarankan untuk meningkatkan kemampuan peroketan yang ada di LAPAN dan PT DI menjadi bagian dari upaya peningkatan harga diri bangsa.

Ada yang mengatakan bahwa, jati diri bangsa Indonesia mulai digali dan dan dikembalikan sewaktu diproklamasikannya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jati diri yang pernah tersembunyi atau terkoyak selama masa kolonialisme.

Perlu dirumuskan atau dikenali kembali nilai-nilai yang pernah kita miliki bersama sebagai bangsa. Nilai-nilai yang membentuk sifat dan karakter, hasrat keinginan, semangat dan daya gerak dari dalam (spirit) serta kemampuan kita sebagai satu bangsa. Karena hal-hal itulah yang akan mendorong kita untuk memiliki harga diri, techo-ideology, serta menjadi techno-nationalist.

Penutup

Perkembangan kehidupan bernegara yang dikuasai partai-partai politik sudah berjalan diluar norma-norma kehidupan yang berbudaya. Absennya kepemimpinan yang dapat membawa masyarakat dari ketidak pastian, remang-remang atau blur, telah menyuburkan terbentuknya komunitas-komunitas yang beragam. Perubahan dan perkembangan yang terjadi di tanah air, yaitu demokratisasi dan otonomi daerah, telah memunculkan dan menghidupkan  kelompok-kelompok (daerah) baru dengan identitsanya (jati dirinya) masing-masing. Sehingga tidak mudah untuk menemui kembali  dan kemudian memelihara jati diri bangsa kita.

Lingkungan global yang telah mempercepat pembauran antar bangsa dan antar budaya. Generasi baru yang mempunyai akses global dengan adanya teknologi informasi, dan pergaulan dunia yang semakin intensif telah melahirkan global-citizen.

Perkembangan geo-politik sekarang ini mengharuskan kita mengembangkan teknologi nuklir dan peroketan, agar diperhitungkan oleh bangsa lain. Iptek yang merupakan bagian dari budaya, tidak dapat berkembang dalam keadaan yang remang-remang atau blur.  Kita memerlukan landasan budaya dan kepastian  untuk tumbuh dan berkembangya suatu kehidupan akademis sebagai landasan berkembangnya iptek.

Masa depan bangsa kita tidak dapat hanya diserahkan hanya kepada para politisi dan partai politik. Untuk itu kita perlu mendesak budayawan, tokoh agama, dan intelektual untuk mengadakan inisiatif agar perjalanan bangsa kedepan dapat berlangsung secara etis, bermoral, dan berbudaya, serta mencapai tujuannya dan menemukan kembali jati dirinya.

Konon kita memiliki semboyan Bhnineka Tunggal Ika dan ideologi Pancasila.

Semarang, 21 Oktober 2010

Referensi:

Rahardi Ramelan: TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT ? Buku 2008

Rahardi Ramelan: KEGELISAHAAN, KEGETIRAN , KEGUNDAHAN ? Artikel 2006

Rahardi Ramelan: INDUSTRI MILITER dan TECHNO IDEOLOGY ? Artikel 2005

Rahardi Ramelan: GLOBAL CITIZEN ? Artikel 2010

Rahardi Ramelan: MALAYSIA DAN PRILAKUNYA ? Artikel 2010