GLOBAL-CITIZEN

Rahardi Ramelan

Guru Besar ITS, Pengamat Teknologi dan Masyarakat

Seperti prediksi dan analisis yang disampaikan berbagai pakar mengenai dampak globalisasi, telah terbukti sekarang ini semakin kaburnya batas negara termasuk dalam lalu-lintas penduduknya. Semakin menguatnya kerjasama regional dan extended regional corporation seperti CAFTA , pergerakan tenaga kerja ini semakin intensif.

Kita di Jakarta bisa mendapatkan pelayanan di spa dan tempat hiburan oleh perempuan asal China atau asal negara ex Rusia seperti Ubezkistan. Di beberapa kafe dan restoran franchise internasional, sudah ada pramusaji dari Philipina. Di Singapura kita temui tenaga kerja wanita khususnya pembantu rumah tangga asal Indonesia dan Philipina. Perempuan asal China banyak menjadi pramuniaga di toko-toko dan mal. Proyek bangunan di Singapura banyak dikerjakan tenaga kerja asal Bangladesh, sedangkan tenaga kerja asal Indonesia sangat dominan di perkebunan sawit dan PRT di Malaysia.

Selain tenaga-tenaga kasar tersebut, kita juga mengirim tenaga terlatih seperti pelaut dan tenaga perhotelan untuk kapal pesiar, meskipun belum sebanyak tenaga asal Philipina. Walaupun sebagian pengiriman tenaga untuk kapal pesiar tersebut masih dilakukan melalui perusahaan penyedia tenaga kerja Philipina. Untuk itu beberapa fasilitas pelatihan sudah ada di Bali dan mendapat sertifikat yang memadai. Yang cukup berkembang juga tenaga theurapist untuk spa dan salon kebugaran. Banyak diantara mereka dikirim ke Timur Tengah, Eropa dan kapal pesiar. Dalam hal ini beberapa perusahaan spa internasional mendirikan tempat pelatihan di Bali dan memberikan sertifikat yang berlaku global.

Keadaan ini akan terus berkembang dan meluas, dalam keadaan ekonomi kita yang masih sangat terbatas, peluang kesempatan kerja global harus dimanfaatkan. Hanya kita harus hati-hati jangan sampai pada satu hari tukang cukur atau pemangkas rambut akan dipenuhi oleh warga Banglades atau Pakistan.

Global-citizen

Yang menjadi perhatian saya justeru keberadaan para ahli dan profesional kita yang bekerja dan mengabdi di berbagai negara maju. Ratusan bahkan mungkin ribuan warganegara Indonesia tersebut tersebar antara lain di Brasilia, Amerika Srikat, Kanada, Negeri Belanda, Jerman, Swedia, Australia, Selandia Baru, Jepang dan negara-negara lainnya. Mereka adalah putra-putri bangsa Indonesia yang telah mengenyam pendidikan baik di dalam negeri ataupun di luar negeri. Mereka bekerja di berbagai kegiatan ekonomi, baik industri, perdagangan maupun perbankan. Ada juga yang bekerja sebagai peneliti, dosen dan guru besar. Bahkan beberapa diantaranya memegang jabatan penting dalam perusahaan ataupun lembaga penelitian dan pendidikan. Bagi mereka tempat atau negara di mana mereka dapat memanfaatkan profesi dan keahliannya, bukanlah hal yang menentukan, sepanjang jaminan kehidupan dan masa depan dirinya dan keluarganya terjamin. Mereka sudah menjadi global-citizen atau penduduk dunia. Kita juga menengarai anak-anak kita yang belajar di sekolah-sekolah internasional atau yang sekolah di luar negeri mulai memiliki dan menunjukan prilakuĀ  sebagai global-citizen tersebut. Pergaluan dan perkawanan sudah tidak memandang asal negara, warna kulit, dan agama. Perkawinan campur dengan bangsa lain tidak terelakan, mereka dan anak-anaknya fasih dalam beberapa bahasa.

Tidak dapat dihindari bahwa negara kita juga menjadi tempat tinggalnya global-citizen dari manca negara. Kalau pada awal 1970 kita mulai dipenuhi dengan tenaga konsultan asing yang terkait dengan dana pinjaman luar negeri, sekarang keberadaan profesional dan ahli asing ini semakin meluas, melalui proyek-proyek PMA dan bisnis franchise. Selain manager dan profesional, termasuk juru masak, yang kita jumpai di hotel dan kafe atau restoran bertaraf internasional, keberadaan mereka juga kelihatan menonjol di bank, industri kimia dan farmasi, industri otomotif dan industri elektronika. Konsultan dari Amerika dan Eropa, insinyur dari India dan Eropa Timur, sekretaris dari Singapura dan Filipina, pemandu wisata dari Jepang dan Taiwan, arsitek dari Australia, Jepang dan Eropa, dengan mudah kita temui di kota-kota besar. Guru besar dan pengajarpun sudah kita temui di perguruan tinggi swasta, sekolah bertaraf internasional sampai ke taman kanak-kanak. Mereka semua adalah bagian dari global-citizen, tempat dan negara bukan lagi menjadi patokan. Perkawinan dengan penduduk lokalpun terjadi dan semakin meluas. Kawin kontrak atau kawin dengan pre-wedding arrangment tidak menimbulkan hambatan bagi kedua pihak. Saya kenal beberapa profesional asing yang sudah tinggal di Indonesia lebih dari 20 tahun, berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Ada juga yang terus berpindah atau dipindahkan dari satu negara ke negara lainnya.

Para global-citizen asal Indonesia telah ikut mengharumkan nama Indonesia dengan prestasinya. Diperlukan kemampuan kita (terutama pemerintah) untuk merajut komunikasi dengan mereka, agar turut mengangkat martabat bangsa kita. Mereka adalah putra-putri bangsa Indonesia, jangan sampai tercerabut dari akarnya.

Jakarta, 23 Agustus 2010

Dikirim ke Media Indonesia 23 Agustus jam 10.00