HARI KEBANGKITAN (SEPI) TEKNOLOGI

Rahardi Ramelan

Guru Besar ITS, Mantan Menristek/Kepala BPPT

Tanggal 10 Agustus 2010, satu hari menjelang Ramadhan 1431 H, tiga kegiatan Pimpinan Negara (maksudnya dwitunggal) Presiden dan Wakil Presiden dilaksanakan di Jakarta. Pertama adalah sidang kabinet Paripurna, kedua pelantikan sederetan Duta Besar RI oleh Presiden, dan ketiga peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang dihadiri oleh Wakil Presiden.

Lahirnya Hari Kebangkitan Teknologi Nasional atau Harteknas tanggal 10 Agustus 1995, ditandai dengan penerbangan perdana pesawat terbang karya anak bangsa N 250. Pesawat yang disain, enjiniring, dan produksinya dilakukan oleh bangsa Indonesia, sebagai persembahan dalam memperingati Hari Kemerdekaan  ke 50. Selain pesawat terbang N 250, juga diluncurkan kapal penumpang 500 penumpang di Surabaya, serta produk-produk dengan kandungan teknologi yang tinggi. Betapa bangganya kita pada waktu itu dapat menghasilkan produk-produk yang biasanya hanya dihasilkan negara industri maju. Hal tersebut membuktikan adanya sumber daya manusia trampil yang kita miliki, juga dukungan pusat penelitian dan laboratorium yang modern.

Lima belas tahun sudah lalu, hari-hari kejayaan teknologi sudah pudar. Kita sekarang sibuk dengan urusan keseharian. Ledakan yang disebabkan penggunaan tabung elpiji 3 kilogram, yang sampai menjadi urusan presiden. Gerbong kereta api yang anjlok terus menjadi berita bersambung. Semoga pemadaman listrik tidak akan sering terjadi lagi. Bandara Cengkareng yang mengusung nama besar Soekarno-Hatta harus lumpuh karena listriknya mengedip. Tidak adanya kemampuan mengatur lalu lintas dengan lampu lalu lintas atau traffic light, kemudian menggantikannya dengan blok-blok beton dan pak Ogah.

Disisi lain kita bangga dengan hasil para pelajar dan mahasiswa kita yang berhasil dalam berbagai kontes, kejuaran dan olimpiade sains internasional. Ditambah lagi dengan keberhasilan pemuda-pemuda kita dalam perlombaan robot dan mobil irit energi belum lama ini, menunjukan adanya kemampuan bangsa ini dalam bidang sains dan teknologi.

Saya menggaris bawahi pernyataan Wakil Presiden Boediono yang disampaikan pada Peringatan Harteknas ke 15 yang lalu, yang mengakui bahwa masa lalu ada dikotomi antara ekonomi dan teknologi. Kenyataan pada masa lalu tersebut telah menghambat proses penguasaan teknologi oleh bangsa kita sendiri. Lahir dan berkembangnya technopreneur pun menjadi terkekang.  Ratusan bahkan mungkin ribuan hasil penemuan dan inovasi memenuhi laci-laci lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Kementrian Ristek yang pernah menyaring berbagai hasil inovasi yang mempunyai nilai ekonomis dan siap dijadikan industri, tidak dapat menembus tembok pemisah ini. Pengusaha dan industriawan kita lebih berorientasi membeli disain atau teknologi dari luar negeri, yang jelas sudah terbukti dan ada pasarnya.

?Techno-Ideology?

Walaupun dikotomi ekonomi dan teknologi itu ada, tetapi faktor yang menentukan berkembangnya teknologi satu bangsa adalah ideologi yang dianut pemimpinnya. Techno-ideology ini sangat diperlukan di semua lapisan penyelenggara negara dan perangkat peraturannya, serta membutuhkan keberanian untuk melaksanakan.

Capaian bangsa Indonesia sampai tahun 1995, walaupun dalam alam  dikotomi tersebut, terjadi karena adanya pemihakan yang jelas terhadap produk dan teknologi bangsa sendiri. Sebagai contoh, penetapan pemakaian gerbarata buatan dalam negeri di bandara Cengkareng pada waktu itu, ditentukan dengan keputusan Menteri Perhubungan dengan dukungan analisis dari BPPT dan ditopang oleh Tim Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah atau Tim Kepres 10. Pertanyaannya, beranikah dalam era demokrasi dan keterbukaan sekarang ini, seorang pemimpin mengambil langkah pemihakan dengan segala risikonya?

Hasil penelitian dan penemuan, serta inovasi dalam bidang teknologi sangat banyak. Pusat-pusat inkubator sebagai tempat pematangan hasil penelitian dan inovasi untuk bisa diproduksi, banyak tersebar di seluruh tanah air. Masalah utamanya adalah tidak adanya dana yang tersedia dalam bentuk modal ventura yang dapat mendukung para penemu dan inovator untuk menjadi technopreneur. Start up company atau pengusaha pemula berbasis sains dan teknologi tidak mungkin lahir dan berkembang tanpa adanya dukungan modal ventura. Pengecualin bisa terjadi kalau mereka berasal dari keluarga kaya yang sanggup membiayainya sendiri.

Sudah saatnya pimpinan negara, mulai dari presiden, wakil presiden, menteri dan wakilnya, direksi BUMN mempunyai pemihakan teknologi yang jelas. Kewenangan ada ditangan mereka untuk menentukan sikap. Misalnya, BUMN yang mempunyai dana CSR dan PKBL, dapat lebih mengarahkan dana tersebut untuk menjadi modal ventura dan mendukung para technopreneur pemula.

Mari kita bersama melihat, apa yang akan dipersembahkan kepada bangsa Indonesia pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional tahun 2015, dalam memperingati Kemerdekaan Bangasa kita yang ke 70.

Dimuat di harian Suara Pembaruan tgl 12 Agustus 2010