Akan adakah benggol, picis dan tali?

Rahardi Ramelan

Guru Besar ITS, Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan

BI meluncurkan gagasan melakukan redenominasi rupiah. Wakil Presiden menyatakan masih akan lama. Banyak silang pendapat kapan akan dilaksanakan dan dampaknya kepada masyarakat. Tentu khususnya kepada harga barang yang akhirnya mempengaruhi inflasi. Siapa yang akan untung dan siapa yang akan dirugikan?

Sekarang ini pecahan uang logam dengan nilai 25 rupiah merupakan uang dengan nilai nominal terkecil. Kemudian menyusul uang logam pecahan  50, 100, 200, 500, dan 1000 rupiah. Walaupun kenyataannya dengan 25 rupiah kita tidak bisa membeli apa-apa, namun pecahan uang 25 rupiah masih dipergunakan dalam transaksi dan kadang-kadang di beberapa supermarket diganti dengan permen. Sepertinya kita sudah tidak mengenal atau memberlakukan satuan uang selain rupiah, yang dulu kita kenal dengan nama sen. Tetapi kenyataannya didalam laporan rekening bank dijumpai 2 digit dibelakang koma. Transaksi di restoran atau rumah makan, yang biasanya memberlakukan service charge dan PPN 10% digit dibelakang koma ini biasanya dibulatkan kedalam rupiah. Kita menemui ada restoran membulatkannya selalu keatas sehingga merugikan pelanggan. Beberapa restoran dan kafe, didalam menunya telah menuliskan harga tanpa huruf 000 dibelakangnya, hanya membuat catatan bahwa harga-harga tersebut dalam ribu rupiah. Ada lagi yang menuliskan angka 000  dengan huruf yang lebih kecil.

Kalau kita mengacu kepada beberapa uang negara lain, maka kita masih menemui satuan sen. Dalam US dollar masih dikenal pecahan logam 1 cent, 5 cent yang disebut nickel, 10 cent atau dime, 25 cent atau quarter, dan 50 cent serta uang logam 1 dollar. Demikian juga mata uang Euro, ada koin 1, 2, 5, 10 dan 20 Euro cent, serta 1 dan 2 Euro. Sama halnya dengan negara-negara lain masih ada mata uang sebagai pecahan seperseratus dari mata uang utamanya.

Menyimak berbagai transaksi yang terjadi di lingkungan masyarakat ekonomi bawah dan pedesaan, seyogyanya 2 digit dibelakang koma masih harus ada dan diperlukan. Hal inipun akan membantu menghitung bunga di bank dan di restoran yang harus menambahkan service charge dan PPN. Dua digit dibelakang koma ini, pernah kita kenal dengan nama sen. Didalam masyarakat pernah dikenal benggol atau gobang yang berarti 2,5 sen. Kelip yang berarti 5 sen, picis 10 sen, dan tali atau talen yang berarti 25 sen.

Kalau redemonasi rupiah akan diberlakukan dengan memotong tiga digit, dan dua digit dibelakangnya akan dinamakan sen, maka pecahan mata uang logam 25 rupiah akan berarti 2,5 sen atau satu benggol. Kemudian kita akan memiliki kelip 5 sen yang berasal dari 50 rupiah, serta picis 10 sen yang berasal dari 100 rupiah. Sedangkan uang logam pecahan 500 dan seribu akan menjadi 50 sen dan satu rupiah. Kita pernah juga mengenal satu tali untuk nilai 25 sen. Diharapkan BI akan memikirkan pecahan uang logam apa saja yang akan menguntungkan dan praktis dalam kehidupan masyarakat.

Sedangkan uang kertas 1000 rupiah akan menjadi satu rupiah, dan yang terbesar nialainya 100 ribu rupiah menjadi 100 rupiah. Tetapi kita belum tahu bagaimana uang kertas dengan nilai apa yang akan dikeluarkan.

Mengambil contoh mata uang lainnya didunia, misalnya Euro, mempunyai uang kertas dengan nilai nominal 5, 10, 20, 50, 100, 200 dan 500. Walaupun dalam kenyataannya pemanfaatan uang kertas 200 dan 500 euro sangat sulit dilakukan dikehidupan sehari-hari. Sedangkan Amerika Serikat, uang kertasnya mempunyai nilai 1, 2, 5, 10, 20, 50 dan 100 dollar. Sedangkan Jepang, dengan nilai tukar US dollar terhadap Yen yang saat ini bergerak antara 85 dan 90 yen, mempunyai uang kertas dengan nilai nominal 1000, 2000, 5000, dan 10.000 yen. Sedangkan di negara tetangga kita Singapore, dengan potrait series yang banyak berdedar sekarang, terdiri dari uang kertas (walaupun sebagian terbuat dari polymer) dengan nilai 2, 5, 10, 20, 50, 100, 1000 dan 10.000 dollar Singapura.

Redenominasi

Seandainya redenominasi rupiah akan diberlakukan dengan menghilangkan 3 digit, memang implikasinnya terhadap pencatatan keuangan, akutansi, perbankan akan mengurangi 3 digit, karena pencatatan keuangan kita masih mempergunakan angka sampai 2 digit dibelakang koma. Pernyataan yang mengatakan bahwa akan berkurang jumlah uang yang harus dibawa, ini sangat tergantung dari denominasi uang rupiah baru yang akan beredar. Seandainya uang yang beredar hanya dengan denominasi terbesar 100 rupiah baru saja, tidak akan terjadi pengurangan jumlah helai yang diperlukan. Satu koper uang rupiah lama akan sama nilainya dengan satu koper uang rupiah baru. Pengurangan jumlah helai yang harus dibawa hanya terjadi kalau uang rupiah baru mengeluarkan denominasi yang lebih besar seperti 200 dan 500. Tetapi hal ini akan memberikan signal melemahnya nilai rupiah.

Tetapi bagi masyarakat luas dalam kehidupan sehari-hari 2 digit dibelakang koma (sen) sudah tidak pernah dilakukan. Ribuanpun telah didegradasi penulisannya. Masyarakat luas masih memerlukan uang dengan denominasi lebih kecil dari rupiah, sebut saja satuan uang sen, yang diperlukan bagi transaksi sehari-hari. Jadi artinya 1000 rupiah digantikan dengan 1,00 rupiah, yang berarti bagi kehidupan sehari-hari hanya akan mengurangi satu digit.  Dapat diperkirakan bahwa redenominasi ini secara psikologis akan mendongkrak harga dan nilai transaksi baik jasa maupun barang, pungutan dan restribusi, parkir ilegal dan uang keamanan (maksudnya preman) yang biasanya bernilai sampai 10.000 rupiah atau 10 rupiah baru. Misalnya pak Ogah sudah tidak akan mau menerima 20 atau 50 sen, yang tadinya 200 dan 500 rupiah. Tukang parkir liar tidak akan mau menerima 2 rupiah sebagai pengganti 2000.

Kenyataan (data Maret 2010) menunjukan bawa uang kartal yang beredar hampir 90% didominasi oleh pecahan 100 ribu dan 50 ribu, uang pecahan 20.000 sebesar 3,48%, pecahan 10.000 sebesar 2,63%, sedangkan uang pecahan kertas dan logam dengan denominasi dibawah 5000 rupiah sebesar 6,67%.  Dengan gambaran diatas BI dan pemerintah harus sangat cermat menentukan pilihan dan menetapkan denominasi uang rupiah baru, baik uang kertas maupun uang logam. Jangan hanya melihat dari angka-angka makro, melainkan dampak terhadap kehidupan mayarakat ekonomi lemah, yang memanfaatkan uang dengan nilai dibawah 10 ribu rupiah. Mereka akan masih mengandalkan kehidupannya dengan sen.

Jakarta , 8 Agusttus 2010

Dikirim ke Republika tgl 15 Agustus 2010