EKONOMI KERAKYATAN BERBASIS SUMBER DAYA LOKAL

DI MOLUKU KIE RAHA

Pendahuluan

Empat hari berada di Ternate atas undangan Sultan Ternate Mudaffar Sjah bersama istri, dalam acara Legu Gam untuk memperingati hari lahirnya yang ke 75, telah saya manfaatkan untuk merasakan denyut kehidupan budaya dan ekonomi daerah tersebut. Walaupun ini merupakan kunjungan saya yang pertama, tetapi telah memberikan kesan yang mendalam.

Perjalanan keliling pulau Ternate bersama keluarga Sultan, dan menelusuri pulau dengan jalan darat telah memberikan sekilas potensi yang dimiliki pulau Ternate. Kunjungan ke pulau Tidore dan mengadakan perjalanan keliling pulau telah memberikan sekelumit informasi potensi alam yang dimiliki oleh pulau itu.

Membaca data-data berupa katalog ?Investment Profile of North Moluccas Province? yang dikeluarkan oleh Kesultanan Ternate dan Pemda Maluku Utara (2010), serta membaca buku ?Portugis dan Spanyol di Maluku? karangan M.Adnan Amal (2010) dan ?Gerakan Sosial Masyarakat Adat Kesultanan Ternate? karangan Rinto Taib (2010), telah memberikan masukkan untuk menjadi renungan, bagi kemajuan masyarakat di Maluku Utara.

Pembangunan

Pembangunan dalam hal apapun, baik politik maupun ekonomi, tidak dapat dipisahkan dari masalah masyarakat, alam, dan budayanya. Walaupun sekarang ini telah disodorkan berbagai kemungkinan investasi besar dalam berbagai proyek tambang dan kehutanan/perkebunan, tetapi dikhawatirkan dampak langsungnya untuk kehidupan masyarakat akan minim atau tidak ada. Walaupun ada, dampaknya akan memakan waktu yang lama. Pengalaman kita dengan ekonomi pertumbuhan tinggi bersama trickle down effect-nya, justru telah mempertajam jurang antara golongan kelas ekonomi diantara masyarakat kita, serta ketimpangan pembangunan antara Jawa/Sumatera dan daerah lainnya, khususnya Indonesia Bagian Timur.

Oleh karenanya, pendekatan ekonomi kerakyatan dengan berbasis community dan sumber daya alam, menjadi fokus pemikiran saya. Hal ini dikaitkan juga dengan ketersediaan teknologi yang telah siap untuk dimanfaatkan. Saya memang tidak membahas masalah perikanan/kelautan sebagai potensi yang dominan, karena tidak tersediannya data dan keterbatasan informasi yang saya miliki.

Minyak buah pala dan cengkeh

Bangsa Portugis dan Spanyol telah datang ke Maluku pada abad ke 16, karena tertarik dengan rempah-rempah yang sudah lama diperdagangkan dengan bangsa Cina melalui jalur darat ?Silk Road? sampai ke Eropa.

Perdagangan buah pala dan cengkeh selain sebagai rempah-rempah telah berkembang menjadi minyak atsiri yang diperlukan dalam industri makanan, obat-obatan, dan kecantikan. Tetapi populasi pohon pala dan cengkeh yang sedemikian besarnya, pemanfaatannya masih sangat minimal.

Dari data yang dikeluarkan asosiasi Atsiri, tidak ada satupun sentra penyuling minyak pala yang berada di Malut. Demikian juga halnya dengan minyak cengkeh. Walaupun dalam perkembangan minyak atsiri banyak memanfaatkan minyak nilam dan sereh wangi, tetapi melihat potensi yang ada di Malut, penyulingan minyak cengkeh dan minyak buah pala masih sangat menjajikan.

Tekonologi penyulingan yang berkembang pada saat ini bisa mendapatkan rendemen yang tinggi serta kwalitas sesuai standar internasional. Penerapan penyulingan berskala kecil inipun dapat dikembangkan sebagai community base economy atau ekonomi kerakyatan. Kementrian Perindustrian, Kementrian Kehutanan, serta BPPT telah mengembangkan berbagai teknologi penyulingan. Perusahaan fabrikasipun telah dapat menyediakan peralatan penyulinangan dengan berbagai ragam kapasitas.

Melihat cakupan lahan tanaman cengkeh dan pala, sebagai langkah pertama saya menyarankan dikembangkan sentra penyulingan di Pulau Tidore, yang menurut data memiliki lahan tanaman cengkeh 1.678 ha (2007) dan pala 3.546 ha (2007).

Nira kelapa untuk gula putih

Populasi pohon kelapa di Malut harus dijadikan kekuatan yang dapat memberikan suatu dorongan kuat bagi perekonomian rakyat Maluku. Nilai ekonomi pohon kelapa masih perlu dikembangkan dengan suatu konsep terpadu. Dari buah kelapa yang sekarang dilakukan hanya terbatas kepada pembuatan kopra sebagai komoditi yang diperdagangkan. Sabut kelapa dan arang kelapa belum mendapat perhatian yang layak.

Dalam pemikiran saya adalah pemanfaatan nira kelapa, disamping sebagai bahan baku gula kelapa dan gula semut. Kekurangan produksi gula putih secara nasional, akan sukar dipenuhi dengan pengembangan gula tebu karena keterbatasan lahan dan micro climate yang cocok untuk perkebunan tebu. Sebuah perusahaan di Semarang PT Mitra Wahana Utama (MWU)  telah berhasil mengembangkan teknologi PGRM (Pabrik Gula Rakyat Mini) berbasis nira kelapa. PGRM selain dapat menghasilkan gula putih dapat juga diarahkan untuk memproduksi bahan bakar ethanol. PGRM selain dibangun di Rembang sudah dibangun di Menado dan Banjarnegara bersama dengan Pemda setempat.

Saya menganggap teknologi PGRM ini cocok untuk Malut dan dapat dimulai di Paulau Halmahera dengan cakupan lahan pohon kelapa di Halmahera Barat 26.003 ha,  Halmahera Tengah 10.054 ha, Pulau Sula 57.415 ha, Halmahera Selatan 32.238 ha, Halmahera Utara 56.709 ha, dan Halmahera Timur 11.956 ha (2007).

Nyamplung sebagai bahan bakar alternatif

Menyusuri pantai pulau Ternate, saya dihadapkan dengan populasi pohon nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) atau juga disebut Hitaullo (Saparua), Hatan (Ambon), serta Fitako (Ternate) yang sangat besar. Pohon-pohon nyamplung tersebut sebagian diperkirakan sudah berusia 20-30 tahun. Data yang lebih rinci perlu diteliti mendalam. Kementrian Kehutanan pernah mencatat bahwa di seluruh pesisir Indonesia tegakan pohon nyamplung diperkirakan 480.700 ha (berdasarkan foto udara), sedangkan di Maluku mencapai 51.900 ha (Balitbang Kementerian Kehutanan (2008). Halmahera dan Ternate termasuk dalam daerah yang potensial.

Nyamplung adalah sejenis tanaman yang bijinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Bebrapa LSM dipantai Selatan Jawa telah mengembangkan pemanfaatan nyamplung tersebut. Menyimak bahwa sebagai kepulauan akan sangat tergantung dari BBM yang harus didatangkan, maka pengembangan pemanfaatan nyamplung di Malut dapat menjadi program andalan, dan dapat dikaitkan dalam program Desa Mandiri Energi (DME).

PT Nabati Sumber Energi, sudah mengadakan penelitian dan pilot plan dengan hasil yang memuaskan. Demikian juga berbagai upaya pemanfaatan nyamplung sudah dilakukan di Cilacap, Ciamis dan Tasikmalaya.

Utuk mengawali program nyamplung ini, saya menyarankan untuk dimulai di pulau Ternate.

Penutup

Semoga tulisan singkat ini dapat memberikan masukkan bagi pengembangan Maluku Utara, khususnya Moluku Kie Raha.

Rahardi Ramelan, Mei 2010.