Ratus dan Triliun

Rahardi Ramelan

“Koin untuk Prita” telah menggugah kita semua betapa solidaritas bisa dibangun dan ditumbuhkan. Dalam hal ini tidak ada tembok-tembok penghalang politik, kepercayaan, umur, dan status dalam masyarakat. Koin-koin terus menggunung diluar dugaan para pencetusnya. Kalau saja koin yang dimanfaatkan adalah koin dengan nilai 100 rupiah, maka telah terkumpul hampir 5.000.000 keping koin. Kalau dihitung dengan koin yang terkecil yaitu 25 rupiah, telah menggambarkan keprihatinan 20 juta masyarakat kita, atas kasus yang dihadapai ibu Prita. Bukan semata kasus ibu Prita, melainkan kasus yang mendemonstrasikan kearoganan.

Gerakan ?Koin Untuk Prita?, yang masih terus bergulir, harus diartikan sebuah gerakan melawan kearoganan kapitalis dan kesewenangan penguasa hukum. Proses peradilan kita yang hanya mencari kebenaran, walaupun merupakan kebenaran semu dan palsu, ternyata jauh dari upaya menegakkan keadilan. Koin Untuk Prita telah mampu mengkonsolidasikan lapisan bawah masyarakat untuk mengekspresikan protesnya dengan damai dan santun. Gerakan yang membentuk bola salju ini, telah mulai menimbulkan kekhawatiran dikalangan yang terlibat termasuk pemerintah. Pihak rumah sakit mulai menawarkan penyelesaian damai, justeru setelah ada keputusan pengadilan. Apakah mereka sadar atas kekeliruannya atau mulai takut menghadapi akibat kearoganannya? Departemen Kesehatanpun telah menawarkan menjadi perantara penyelesaian kasus ini. Ingin jadi pahlawan kesiangan, atau hanya basa-basi. ?Gerakan Koin Prita? telah dapat mengatasi sendiri denda yang diajukan dan diputuskan pengadilan. Inilah kekuatan solidaritas.

Pada saat ini, dimana kita mulai belajar berdemokrasi, masyarakat kita terkotak-kotak dalam berbagai aliran politik dan kelompok perjuangan. Demonstrasi ataupun perjuangan yang dilakukan selalu mengemukakan dan menonjolkan kelompok atau partainya. Peringatan Hari Anti Korupsi Global yang baru lalu, yang direncanakan akan dapat mengerahkan 100 ribu peserta, ternyata tidak berhasil. Demikian juga demonstrasi-demonstrasi lainnya, lebih menonjolkan bendera atau atribut kelompok masing-masing.  Gerakan Koin Untuk Prita, mengisyaratkan diperlukannya tujuan perjuangan yang jelas, serta mengesampingkan kepentingan kelompok atau partai politik, melainkan mengedepankan merah putih sebagi penggerak kita bersama.

Koin Untuk Prita, telah membuktikan bahwa perjuangan bangsa kita, perjuangan merah putih, masih bisa terlaksana dan mempunyai harapan di masa depan. Gerakan yang membentuk solidaritas tukang ketoprak, tukang baso, pedagang kaki lima, pedagang pasar kaget, penjual sate, pelajar dan mahasiswa, budayawan dan intelektual, pekerja dan pegawai, sebuah gerakan yang tidak memerlukan bendera dan slogan. Sebuah gerakan yang jauh dari ambisi partai politik untuk berkuasa, gerakan yang tidak mempunyai pemimpin selain idealisme, gerakan yang menginginkan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Gerakan seperti yang dilakukan para pendahulu kita, pendiri Republik Indonesia. Gerakan Kemerdekaan. Gerakan Merah Putih.

Bank Century

Kasus Prita, bukan megakasus, yang melibatkan triliunan rupiah. Tidak melibatkan politisi, tidak melibatkan KPK, tidak melibatkan PPATK, dan tidak melibatkan BI. Kasus recehan yang digambarkan dengan koin. Uang koin yang biasanya hanya untuk pengemis, pak Ogah, atau celengan anak-anak. Uang koin yang oleh beberapa pasar swalayan sering diganti oleh permen. Tetapi sekarang koin telah menjadi simbol perjuangan masyarakat lapis bawah. Hiruk pikuk politisi baik di pemerintah dan DPR, maupun diluar, saat ini disibukkan dengan kasus Bank Century. Kasus yang digambarkah dengan triliunan rupiah, ditulis dengan 12 buah nol.  Kalau dibandingkan dengan denda yang harus dibayar oleh ibu Prita, yang ditulis dengan 5 buah nol, bernilai 30.000 kali lebih besar. Sudah pantas kalau kasus Bank Century telah menggoyahkan lapisan paling atas dari politisi, anggota DPR, pemerintah, bankir, dan pengusaha. Bukan hanya masalah hukum yang akan menjadi ajang perdebatan, melainkan juga masalah perimbangan kekuatan dalam elite politik, termasuk pemerintah.

Pansus Angket Bank Century di DPR, lahir dari sebuah ?kehamilan? yang sempurna, ternyata menjadi ?bayi? dengan cacat fisik dan mental. Kita semuanya sadar bahwa apapun keputusan di DPR, adalah keputusan politik. Keputusan yang merupakan hasil kompromi dengan dalih stabilitas. DPR bukan lagi merupakan perwakilan rakyat, melainkan perwakilan elite partai politik. Semangat para inisiator hak angket, tidak tercermin di dalam Pansus, apalagi pimpinannya. Jangan sampai nasibnya serupa dengan kasus Prita dimasa pilpres yang lalu, para capres berebutan menunjukan simpatinya sewaktu Prita ditahan. Sekedar permainan politik.

Di tataran hukum, yang sudah dimulai oleh KPK, kita mengharapkan ada suatu terobosan. Dalam sistem penegakkan hukum kita yang karut-marut sampai sekarang, masyarakat perlu terus mengawal. Pengawalan oleh koin-koin dalam arti kata sesungguhnya. Semoga kemurnian 00 tidak akan dikalahkan oleh kearoganan dan kesewenangan 000000000000.

Dimuat Suara Pembaruan tg 15 Desember 2009