INDUSTRI (YANG) STRATEGIS

ANTARA KEBUTUHAN DAN PILIHAN

Menoleh kebelakang

Sampai sekarang pemerintah mungkin kita semua masih mempergunakan istilah industri strategis untuk BUMN yang pernah tergabung kedalam pengelolaan BPIS (Badan Pengelola Industri Strategis). Didalam struktur Kementerian BUMN ada Deputi yang menangani industri strategis ini. Pengelompokan industri-industri kedalam BUMNIS (BUMN Industri Strategis) ini masih berdasarkan pengelompokan di era Orde Baru. Pada akhir tahun 1980-an muncul sebuah konsep yang dibawa oleh BJ Habibie sebagai Menteri Ristek/KaBPPT, yaitu penguasaan dan pengembangan teknologi melalui proses industri, yang banyak dikenal dikalangan scholar sebagai Technology and Industrial Policies (TIPS). Sebuah konsep yang mengkaitkan pembangunan industri yang didasari alih teknologi, dengan strategi penguasaan teknologi dimasa depan. Pada masa itu reverse engineering dan alih teknologi menjadi kebijakan yang penting bagi negara-negara industri baru untuk mengejar ketertinggalannya dari negara maju. Konsep yang kemudian dikenal sebagai ?berawal dari akhir dan berakhir diawal?, dimulai sewaktu PT Nurtanio (sekarang PT Dirgantara Indonesia ? PT DI) didirikan pada tahun 1976, dimana tahap pertama dalam  konsep tersebut, yaitu memproduksi barang yang sudah ada di pasar yang dilaksanakan dengan mengadakan lisensi pembuatan pesawat terbang dan helikopter. Proses produksi melalui lisensi dilakukan dengan pendekatan ?progressive manufacturing plan?, sehingga kemampuan proses produksi dapat dicapai dalam waktu yang singkat. Tetapi tentu dengan investasi yang besar, terutama dalam pengadaan permesinan dan pelatihan tenaga kerja. Pendekatan serupa kemudian diterapkan dibeberapa industri lainnya, seperti PT PAL, PT PINDAD, PT INKA, PT INTI, dan PT DAHANA. Dengan tujuan utama penguasaan teknologi, kebijaksanaan serupa dilakukan juga di BUMN lainnya yang tergabung dalam BPIS, seperti PT Krakatau Steel, PT Barata, PT BBI, dan PT LEN Industri.

Ke-strategis-an industri-industri tersebut dapat dilihat dari dua sisi. Pertama adalah strategis untuk kehidupan bangsa, yaitu industri peralatan transportasi, peralatan energi, komunikasi dan persenjataan. Kedua adalah strategis dalam proses, menguasai, dan mengembangkan teknologi didalam negeri. Pembentukan beberapa industri tersebut tidak terlepas dari proses pelepasan kegiatan industri yang tadinya berada di bawah TNI, seperti PT DI berasal dari Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio/LIPNUR dan PT Dahana dari TNI-AU, PT PINDAD dari Perindustrian Angkatan Darat/PINDAD, dan PT PAL dari Panataran Angkatan Laut/PAL, dan dari instansi pemerintah lainnya, seperti PT INKA dari Balai Yasa PT KA, dan PT LEN Industri dari Lembaga Elektronila Nasional LIPI. Sedangkan PT Krakatau Steel-KS, PT Barata dan PT BBI, sebelumnya berada dibawah pengelolaan Departemen Perindustrian.

Walaupun ditataran kebijakan, ditingkat kabinet, sepertinya berjalan tanpa hambatan, tetapi dilapangan dan kebijakan sektoral telah menimbulkan kontroversi. Dilingkungan Departemen Perindustrian masih ada beberapa industri lainnya yang strategis dan kemudian Menteri Perindustrian mengfokuskan kepada peningkatan kemampuan teknologi dalam perencanaan, engineering dan kemampuan pendirian pabrik (EPC-Engineering, Procurement, Construction), serta kemudian mendorong beberapa perusahaan konsultan dan engineering untuk dapat melaksanakan proyek secara turn key. Selain meningkatkan dan memberikan peluang seluas-luasnya kepada perusahaan engneering swasta seperti PT Encona, PT Tripatra Engineering, PT IKPT dan lainnya, Departemen Perindustrian kemudian memprakarsai lahirnya BUMN PT Rekayasa Industri. Bersamaan dengan itu, Departemen Perindustrian kemudian mengembangkan program peningkatkan kemampuan workshop yang berada dilingkungan industri pupuk dan petrokimia untuk dapat memproduksi peralatan pabrik.

Industri Strategis yang mana?

Globalisasi telah meningkatkan dinamika pertumbuhan dan perkembangan teknologi dan industri secara signifikan. Kita sudah harus lebih cermat melihat kedepan bagaimana posisi bangsa kita didalam persaingan global dibidang teknologi dan industri. Kita harus berani menentukan industri dan teknologi mana yang harus kita kuasai untuk mengamankan pembangunan dan kelangsungan bangsa dimasa depan? Dalam bidang industri dan teknologi yang mana kita harus mandiri untuk bisa sejajar berhadapan dengan negara-negara industri maju dengan posisi tawar yang baik? Teknologi dan industri itulah yang akan menjadi pilihan sebagai ?strategis?.

Dalam era globalisasi ini seolah-olah sudah tidak relevan lagi membicarakan kemandirian bangsa, yang perlu adalah mengamankan supply chain. Mungkin itu benar bagi negara-negara industri maju yang mempunyai posisi tawar yang baik dalam perdagangan dan diplomasi dunia. Tetapi keadaannya tentu berlainan bagi negara seperti kita. Oleh karena itu para pendahulu kitapun telah menetapkan berbagai jenis industri yang harus dikuasai oleh bangsa ini. Jadi sudah saatnya sekarang ini kita menetapkan industri dan teknologi strategis yang harus dikuasai bangsa Indonesia dimasa depan. Waktu sudah sangat mendesak.

Pendekatan klasik yang banyak diterapkan oleh negara-negara berkembang, dengan jumlah penduduk yang banyak, dalam menentukan industri yang strategis, adalah dikuasainya industri dasar, baik logam maupun kimia, serta industri berat, alat konstruksi dan pertanian.

Industri besi dan baja kita, khususnya BUMN Krakatau Steel, sudah dimulai sejak Orla diteruskan sewaktu Orba dan sekarang. Peningkatan kapasitas yang sudah direncanakan sejak dekade yang lalu, tidak kunjung terealisasi. Lokasi antara kedekatan dengan pasar atau bahan baku, atau antara Banten dan Kalimantan terus diperdebatkan tanpa solusi. Demikian juga industri aluminium (smelter), masih dibayangi dengan tidak adanya keputusan mengenai pendirian produksi aluminia dari bauxit. Sedang disisi lain cadangan bauxit kita terus dieksploatasi dan diekspor dengan meninggalkan kerusakan lingkungan yang semakin parah. Logam dasar lainnya yang sangat penting adalah tembaga. Kitapun kelihatannya terlena dalam menguras kekayaan alam ini, tanpa adanya industri hilir yang memadai. Semoga kita waspada dengan kebijakan industri dasar berbasis gas alam dan batu bara, sebelum kedua kekayaan alam kita tersebut habis terkuras seperti minyak bumi tanpa penguasaan teknologi yang bisa menjadi andalan.

Industri alat berat milik negara kita sebagian adalah warisan dari masa kolonial seperti PT Barata dan PT BBI. Industri alat berat seperti bulldozer, excavator, dan loader, merupakan industri yang memiliki proses produksi yang ?sama? dengan proses produksi kendaraan lapis baja. Selain itu diberbagai workshop industri petrokimia berkembang kemampuan yang cukup signifikan. Salah satu yang penting dari fasilitas yang dimilikinya adalah pengecoran (foundry) dan penempaan (forging) logam.

Industri besi baja, pengecoran dan penempaan, merupakan keperluan mutlak bagi negara yang telah menetapkan akan menjadi negara industri.  Dengan kemampuan desain dan engineering dapat ditumbuhkan industri-industri lainnya seperti alat pertanian, alat transportasi, peralatan konversi energi, serta mesin perkakas yang merupakan induk dari permesinan lainnya. Sedangkan industri dasar petrokimia sangat penting bagi kehidupan modern dengan meningkatnya peranan berbagai material baru yang dipergunakan dalam kebutuhan kita.

Bagi negara dengan geografi yang luas dan jumlah penduduk yang besar, menempatkan industri peralatan transportasi, konversi energi dan telekomunikasi sebagai industri strategis merupakan pilihan yang penting. Khususnya bagi negara kita, ketiga moda transportasi, yaitu darat, laut dan udara menjadi sangat mutlak, sehingga menempatkan industri tersebut menjadi industri strategis merupakan keputusan yang tepat. Bukan hanya semata-mata mengembangkan industrinya, melainkan juga menguasai teknologinya. Dengan penerapan TIPS pada masa yang lalu, dibidang teknologi dan industri peralatan transportasi laut dan udara, kita telah memiliki dan menguasai berbagai teknologi yang memadai. Hambatan utama adalah skala keekonomiannya, ekonomi kita pada saat ini belum dapat menyerap kapasitas yang terpasang, sehingga kerjasama regional dan pasar ekspor harus menjadi andalan. Hal inilah antara lain yang mendesak diperlukannya sebuah lembaga pembiayaan ekspor atau Export Credit Agency (ECA).

Selain industri-industri yang diuraikan diatas, maka industri persenjataan mempunyai nilai strategis. PT Pindad dan PT Dahana sudah menunjukan kedudukannyanya yang strategis dalam pembuatan senjata ringan, mortir,  dan amunisi. Kemampuan produksi roket udara-darat di PT DI dan torpedo di PT PAL harus mendapat perhatian dan perkembangan yang menyesuaikan dengan peralatan tempur kita yang baru, baik pesawat terbang maupun kapal perang. Dalam tulisan saya pada waktu yang lalu, dengan perkembangan geo-politik sekarang ini hanya kemampuan nuklir dan roket jarak jauh, yang bisa membawa negara-negara adidaya untuk berunding dan duduk disatu meja, contoh Korea Utara, Pakistan, China, India dan Iran. Untuk Indonesia saya pernah menyarankan untuk meningkatkan kemampuan peroketan yang ada di LAPAN dan PT DI menjadi bagian dari industri strategis.

Penutup

Pengembangan industri yang ditetapkan sebagai industri strategis, tentu dilakukan sesuai dengan perkembangan ekonomi dan kemampuan negara. Yang lebih penting lagi bukan hanya sekedar menempatkan atau menyebutnya sebagai industri strategis, melainkan menempatkan produk-produknya dalam proyek-proyek pembangunan dan pengadaan pemerintah. Produk-produknya harus dijadikan sebagai produk unggulan dan national champion, yang harus mendapat dukungan politik dan menjadi kebanggan seluruh masyarakat Indonesia.

Sudah waktunya bangsa Indonesia mempunyai kebanggannya dalam bidang teknologi. (rahardi@ramelan)

Dikirim ke Journal Dinamika