UMKM DAN KREATIFITAS

Oleh: Rahardi Ramelan

TREND SETTER

Dengan penemuan atau discovery dan inovasi, harus menjadikan mereka menjadi pendahulu dan pembaharu dalam produksi dan pasar. Mereka hanya bisa berkembang kalau bisa menentukan arah perkembangan pasar atau menjadi  trend-setter. Jadi yang utama bagi seorang entrepreneur adalah menjembatani antara penemu dan inovator dengan pasar. Disisi lain, juga diusahakan agar penemu dan inovator itu sendiri yang menjadi entrepreneur baru. Yang tentunya sebagai seorang entrepreneur mereka harus berani menghadapi risiko yang lebih besar, termasuk risiko keuangan.

Mereka dituntut untuk:

? Peka terhadap lingkungan dan memiliki wawasan kedepan

? Menterjemahkan kedalam peluang bisnis

? Menciptakan, pembaharuan, atau membawa yang baru

? Inovasi dari yang sederhana sampai yang rumit.

Sesuatu yang baru, tidak selalu harus merupakan penemuan yang besar sebagai hasil penelitian para ahli di laboratorium. Atau hasil kerja bertahun-tahun tim peneliti dengan berbagai tingkatan akademik. Tetapi untuk pertumbuhan ekonomi sebuah negara besar, berbagai jenis penemuan dan inovasi bagaimanapun besar dan tingkat kerumitannya, sangat diperlukan. Seperti yang dikatakan oleh Romer (1990):

In a world with physical limit, it is discoveries of big ideas (for example, how to make high temperature superconductors), together with the discovery of million little ideas (better ways to sew a shirt), that make persistent economic growth.

Perekonomian sekarang ini bukan saja ditentukan oleh industri (dalam arti kata klasik) dan pertanian, melainkan dipengaruhi oleh hampir segala kegiatan, seperti entertainment, pariwisata, dan kuliner, yang sekarang ini sudah didefinisikan sebagai industri.

Dengan pengaruh yang luas terhadap pasar oleh trend-setter, maka bermunculan produk ikut-ikutan atau me-too, baik dengan produk yang hampir sama, ataupun merek yang mirip. Keadaan yang demikian, menimbulkan banyak kekhawatiran yang kemudian dikaitkan dengan jaminan atas HAKI. Dalam beberapa hal para pengusaha kemudian berinisiatif mendaftarkan merek dagang, mamatenkan ataupun membuka cabang dan membentuk usaha waralaba.

KREATIFITAS, HAKI DAN WARALABA

Pesatnya perkembangan pergerakkan manusia menyebabkan batas-batas administrasi pemerintah bukan lagi menjadi hambatan. Misalnya, mereka yang pernah berkunjung dan menikmati kuliner di Bandung, akan merasa senang kalau bisa mendapatkan hal yang sama di kota asalnya ataupun dikota lainnya. Demikian juga dengan kota-kota seperti Jakarta, Yogya, Medan, Bali dan lain-lain. Restoran yang tadinya dikenal di Bali atau Bandung, sekarang membuka cabang(atau franchise) di Jakarta, demikian juga kebalikannya. Selain itu muncul juga usaha-usaha sejenis dengan nama yang mirip.

Dengan globalisasi yang semakin dahsyat, trend ini makin meluas, dengan munculnya pengaruh-pengaruh trend-setter dari manca negara. Sehingga globalisasipun mempengaruhi kita dalam kreatifitas ini, antara lain:

? Membuat kita menjadi follower

? Dipengaruh media, khususnya tayangan TV dan film

? Kemajuan (progress) diartikan modern ala Barat

? Life style berubah

Misalnya dalam industri roti dan kue, setelah muncul secara ?sensasional?  BREAD TALK yang berasal dari luar negeri, telah muncul BREAD LIFE yang berasal lokal. Demikian juga dengan makanan favorit di Amerika DUNKIN? DONUTS, memunculkan brand lokal J.CO. Masih serentetan contoh jenis makanan, seperti  pizza dan burger, dan seterusnya. Apakah ada upaya kita, memanfaatkan globalisasi, untuk ekspansi kuliner kita keluar negeri? Selain makanan kegiatan me-too ini juga meluas dibidang benatu atau laundry, kiriman barang dan parcel. Kegiatan-kegiatan tersebut juga telah mengembangkan usaha baru dalam bidang franchise atau waralaba, serta MLM. Kehidupan ala Barat sudah menjadi life style baru.

Meluasnya penyebaran usaha kreatif, terutama yang berbasis tradisi dan budaya, sering menimbulkan salah tafsir atas makna HAKI. Apalagi kalau dikaitkan dengan otonomi daerah, dan kekayaan budaya daerah. Masalah batik, seni reog, rendang pernah muncul kepermukaan dan polemik sebagai kekayaan intelektual. Di Bali belum lama ini muncul masalah kasus pengadilan mengenai desain perhiasan, ternyata sukar untuk membuktikan bahwa adanya pelanggaran HAKI. Seni dan budaya sukar dibendung untuk ditiru, kenyataannya sah-sah saja selama tidak memalsukan penciptanya. Kita masih ingat sewaktu IB Tilem menciptakan patung jari-jemari dan tubuh bulat, dalam sekejap hampir semua pengrajin patung di Bali membuat patung yang serupa. Demikian juga dengan karya Ngurah Umum berupa patung bebek, dan Nyoman Togog dengan patung buah-buahan yang kemudian laku dipasar, para pengrajinpun secara besar-besaran mengikuti jejak membuat patung bebek dan buah-buahan. Karya pelukis-pelikis besar di Yogya mengalami nasib serupa, sehingga dikenal lukisan dengan penamaan akrab NgAffandi, NgeJoko Pekik, atau NgGunarsa. Kita tidak pernah mendengar para pelukisnya mempermasalahkan HAKI, justru mungkin mereka bangga telah menjadi trend setter atau perintis aliran.

TECHNO-PRENEUR dan START UP COMPANY

Kita mengenal tokoh-tokoh seperti Roosseno yang memfokuskan karyanya dalam teknologi beton dan kemudian mengembangkannya menjadi sebuah usaha dan bisnis, juga Ciputra yang memanfaatkan teknologi dalam memajukan dan melebarkan usahanya. Mereka berdua adalah contoh-contoh techno-preneur besar yang sukses. Saya yakin masih banyak techno-preneur bangsa kita yang kecil dan menengah yang telah sukses mengembangkan bisnisnya, baik dengan memanfaatkan teknologi yang ada dipasar, atau atas dasar hasil penelitian dan inovasi. Di bidang pertanian dan hortikultura sudah sering kita dengar kesuksesan mereka dalam menemukan dan mengembangkan jenis-jenis varitas  tanaman dan buah-buahan baru. Sekarang ini dengan mudah dan terjangkaunya teknologi komputer dan digital, berkembang usaha-usaha baru antara lain sebagai content provider telekomunikasi. Banyak yang menikmati layanan-layanan demikian. Mencari jenis dan jadwal penayangan film hanya dengan klik, transaksi bank, sampai cari teman ngobrol, dan ramalan. Berbagai perangkat lunak komputer sudah banyak dikembangkan didalam negeri, sampai dengan dikembangkannya operating sustem IGOS. Para techno-preneur kita dibidang teknologi ICT ini sudah merambah kepasar global.

Sewaktu Presiden SBY mencanangkan tahun 2005 ? 2006  sebagai Tahun Ilmu Pengetahuan Nasional, Presiden telah menantang para ilmuwan untuk menunjukan hasil-hasil nyatanya. Dari berbagai hasil para ilmuwan dan peneliti, ?Marlip? pada waktu itu telah mencuri perhatian para pengunjung. Marlip atau Marmut – LIPI, adalah kendaraan yang menggunakan motor listrik sebagai daya dorongnya. ?Marlip? menghadapi masalah dan rintangan dalam komersialisasi hasil penemuan, sama dengan hasil-hasil penemuan lainnya. Yaitu dana yang diperlukan untuk mematangkan satu penemuan supaya bisa menjadi produk yang diterima pasar, permasalahan yang sudah kronis dihadapi oleh ilmuwan dan peneliti kita. Berbagai upaya dan langkah-langkah telah lama dicoba dan dilaksanakan, tetapi belum ada break through yang signifikan. Hambatan yang dihadapi dalam komersialisasi hasil-hasil penelitian dan penemuan terutama disebabkan tidak adanya modal ataupun dana yang dapat menunjang kegitan tersebut. Dalam mendukung techno-preneur baru dalam mengembangkan satu perusahaan baru – Start Up Company, khsusunya yang berbasis iptek, ada dua komponen yang penting. Pertama adalah fasilitas untuk dapat mempertemukan berbagai aspek yang diperlukan untuk pembentukan sebuah ?usaha?, seperti proses produksi, perhitungan biaya, dana, pemasaran dan lain-lain. Untuk hal tersebut berbagai perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian telah mendirikan dan memiliki (Technology) Incubator ? Inkubator (Teknologi). Berbagai ragam Inkubator tersebar didaerah-daerah. Selain inkubator telah dirintis juga yang dinamakan Open Laboratory, dimana laboratorium mengundang investor untuk bekerja sama melaksanakan komersialisasi hasil penelitian didalam laboratorium, dengan menambahkan beberapa peralatan yang diperlukan untuk produksi. Tetapi kenyataan yang kita hadapi, walaupun telah ada berbagai inkubator dan open laboratory, ternyata belum bisa melahirkan start up company. Hambatan utamanya ialah, kurangnya atau tidak adanya dukungan dana, dan ketidak jelasan sikap pemerintah.

Komponen kedua, seperti diungkapkan diatas, adalah modal atau dana. Dalam tahap penelitian, pemerintah sejak tahun 1990-an telah mengembankan program RUT (Riset Unggulan Terpadu), kemudian disusul dengan RUK (Riset Unggulan Kemitraan). Kedua program ini menyediadakan dana APBN untuk program-progran penelitian lintas institusi dan kemudiaan didalam program RUK diadakan kerjasama dengan swasta. Memasuki pematangan suatu hasil penelitian, yang biasanya dilakukan didalam inkubator, diperukan sumber dana lain yang sering dinamakan seed capital. Dari hasil inilah diharapkan akan lahir pengusaha dan perusahaan baru berbasis iptek atau techno-entrepreneur. Start-up company (sebutan kepada perusahaan yang baru ini) berbasis iptek, biasanya dimotori hanya oleh perorangan atau kelompok yang berhasil melakukan penelitian dan pengembangan produk atau proses tertentu, yang sudah matang untuk dikomersialisasikan. Mereka tidak memiliki aset yang dapat dijadikan kolateral untuk mendapatkan kredit perbankan. Sebab itu diperlukan dana sebagai penyertaan dalam pengembangan usaha baru tersebut. Satu usaha yang berisiko tinggi, tapi juga bisa menjadi leader dalam bidangnya. Dana atau modal semacam ini biasanya disediakan oleh Venture Capital (Modal Ventura). Ditahun 1970-an pemerintah telah memulai usaha ini dengan PT Bahana. Disusul kemudian hampir disemua daerah dibentuk Modal Ventura Daerah dan kemudian PNM. Sayangnya dalam prakteknya, perusahaan-perusahaan tersebut tidak bertindak sebagai modal ventura seperti yang diharapkan, melainkan memberikan pinjaman dengan pengembalian melalui bagi hasil, dan ikut dalam manajemen perusahaan baru tersebut. Sehingga dalam perkembangannya perusahaan modal ventura tersebut tidak dapat diandalkan untuk membantu start up company berbasis iptek.

Sekarang ini dana pemerintah sangat terbatas yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ini, dan masih langkanya perorangan atau fund sebagai  ?angle investor? yang ikut membiayai proses awal dari inovasi, mengakibatkan proses inovasi jadi terhambat dan lamban. Dengan ramainya implementasi konsep Corporate Social Responsibility (CSR) di perusahaan dan institusi publik, perlu mengkaitkan dan memanfaatkan konsep ?filantropy? dana CSR ini sebagai seed capital dan venture capitals. Pemerintah dalam RPJM 2005 – 2009 telah menetapkan berbagai target dalam pembentukan perusahaan berbasis teknologi dan jumlah inkubator. Demikian juga dengan dana-dana BUMN yang disisihkan, perlu lebih terfokus dalam pemanfaatannya.

Sewaktu pada tahun 2008 Menristek mengemukakan 100 inovasi terbaik, semua mengharapkan lahirnya techno-preneur baru, maupun minat investor untuk mem-?biniskan? hasil-hasil inovasi tersebut. Tetapi kenyataannya jauh dari menggembirakan atau malah menyedihkan. Ada tiga hal yang menjadi masalah, yaitu:

? Sebagian besar inovator tidak berjiwa entrepreneur

? Sebagian investor kita masih berorientasi sebagai ?rent seeker?

? Tidak tersedianya modal ventura yang sebenarnya

Keberhasilan beberapa entrepreneur pemula berbasis teknologi dan knowledge yang berkembang ditanah air kita, bukan karena dukungan keuangan atau sistem ekonomi yang kita anut, melainkan karena tekad mereka dengan mengorbankan asset pribadi atau keluarganya.

PELUANG DAN HARAPAN

Dua faktor yang akan mempengaruhi perkembangan perekonomian dunia termasuk Indonesia adalah krisis keuangan dan pemanasan global.

Pengalaman dalam menghadapi krisis pada akhir abad yang lalu, telah membuktikan bahwa ekonomi kita bisa terus bertahan berkat dukungan usaha mikro dan menengah. Hanya sayangnya upaya masyarakat yang besar ini, tidak sepenuhnya didukung dan dipertahankan oleh pemerintah. Dengan mengusung ?demokrasi?, elit politik dan pemerintah telah kembali kearah politik ekonomi yang lama dan berkonsentrasi kepada ?pelaksanaan demokrasi? dengan mengorbankan terciptanya ekonomi yang memihak kepada rakyat. AMPERA hanya diingat sebagai nama jembatan, jalan atau pasar. AMPERA telah kehilangan maknanya sebagai tugas pemimpin dan politisi dalam menjalankan kewajibannya dengan mengemban AManat PEnderitaan Rakyat.

Pemanasan global mempunyai dua ciri utama, pertama adalah masalah energi, dan kedua adalah lingkungan. Sayangnya sekarang ini kita selalu berpikir hanya dari sisi ke-ekonomian program alternatif energi maupun lingkungan. Berbagai upaya masyarakat mencari energi pengganti BBM dalam skala kecil tidak mendapat perhatian. Pemerintah lebih konsentrasi menggenjot lifting minyak dan ekspor batu bara, untuk mempertahankan ekonomi. Tidak pernah terpikirkan untuk mengadakan reservasi sumber daya alam tersebut untuk penghuni bumi pertiwi generasi yang akan datang. Daya tahan lingkungan yang semakin menurun, tak lain merupakan ketamakan kita untuk hidup ?enak? sekarang ini. Masa depan bangsa Indonesia tidak dapat diukur dengan keekonomian belaka, melainkan dengan moral dan tanggung jawab untuk generasi yang akan datang. Sebagai contoh, masalah semrawutnya transportasi Jakarta, yang juga mengakibatkan penurunan kwalitas udara, justru diselesaikan dengan memajukan jam sekolah, yang berarti menurunkan kwalitas kehidupan keluarga.

Semoga pemerintah dan elit politik kita bisa mengutamakan dan mendukung secara konsisten  discovery of million little ideas.

Jakarta, 4 Februari 2009