Buku: TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT

Pemikiran-pemikiran seorang Teknolog

Oleh : Rahardi Ramelan

RINGKASAN

Semua bangsa dan kebudayaan diplanet kita mengalami perkembangan dan perubahan. Sejarah menunjukkan bahwa kebudayaan satu bangsa dalam pertumbuhannya kadang-kadang menurun bahkan sampai tenggelam dan lenyap, kadang-kadang menanjak mencapai puncak kejayaannnya. Kita mengenal zaman kejayaan Mesopotamia, Mesir Kuno, Yunani, Romawi, dan lain-lain. Demikian juga ditanah air, kita mengalami turun naiknya kebudayaan yang  dimiliki bangsa ini. Dalam sejarah perkembangan umat manusia modern dikenal perubahan dari masyarakat pertanian, menjadi masyarakat industri, dan kemudian disusul dengan masyarakat informasi. Di  Indonesia, dengan geografis yang sulit, masih ditemui ketiga kebudayaan tersebut hidup berdampingan, dan bahkan masih ada kehidupan zaman  pra modern.

Perkembangan dan perubahan kebudayaan dalam masyarakat  sering diikuti oleh pergeseran dan gejolak, yang kemudian dapat mengganggu keseimbangan atau harmoni yang ada. Serta dapat menciptalkan benturan-benturan, disharmoni, kekacauan dan hilangnya kepercayaan diri. Untuk mencapai keseimbangan baru dibutuhkan waktu yang panjang, tergantung dari kemampuan adaptasi masyarakatnya. Dalam satu perubahan yang besar, satu keseimbangan baru yang dicapai pada dasarnya adalah munculnya budaya baru. Hal inilah yang telah terjadi dalam masyarakat kita sejak nenek moyang sampai sekarang ini, sampai terjadinya gerakan reformasi dan demokratisasi yang masih terus berlangsung.

Fokus yang menjadi perhatian saya buanlah masalah budaya, melainkan masalah perubahan yang berkaitan dengan teknologi dan industrialisasi. Yaitu keterkaitan proses industrialisasi dengan penguasaan teknologi dan kemandirian. Bagaimana masyarakat menyikapi proses industrialisasi? Apakah budaya kita dapat menunjang proses industrialisasi tersebut? Atau apakah industrialisasi akan memicu perubahan budaya?

Budaya kita yang sudah berabad-abad berkembang, tentu memiliki nilai-nilai (values) yang mempengaruhi kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai yang semula berlaku terbatas, dalam lingkungan tertentu, atau hanya  berkembang diantara suku bangsa atau etnik dengan wilayah terbatas,  ternyata mengalami penyesuaian dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas, yaitu masyarakat Indonesia. Perkembangan lingkungan dalam abad modern ini, berlangsung dengan lebih cepat dan dengan volumina yang lebih besar. Sesuatu yang semula hanya terjadi dilingkungan bangsa, sudah merambah lingkungan regional maupun global. Pertanyaan yang sering timbul adalah apakah nilai-nilai serta kearifan lokal dan tradisional kita dapat dipertahankan atau dikembangkan menjadi bagian dari modal sosial (social capital) kita pada era globalisasi ini? Dalam hal ini saya berpandangan bahwa kearifan lokal dan tradisional ini sebagian dapat dipertahankan dan dikembangkan, karena mempunyai nilai-nilai yang tidak dibatasi oleh waktu dan lingkungannya.

Keberadaan budaya agraris, industri dan informasi bersamaan dalam masyarakat kita, sering menimbulkan kesenjangan. Kesenjangan dalam kehidupan dan pola pikir, serta kesenjangan dalam menilai kehidupan itu sendiri sehingga menimbulkan ketidak seimbangan baru. Mengalir derasnya budaya dari luar dalam proses globalisasi, baik yang dibawa oleh kelompok-kelompok masyarakat kita yang lama bermukim diluar negeri, ataupun yang dibawa oleh orang-orang asing yang tinggal dan bermukim di Indonesia, telah menimbulkan perembesan nilai serea gesekan-gesekan dalam kehidupan masyarakat kita.

Globalisasi akan membangun citra dunia yang akan dipercayai kebenarannya, yang berbeda dengan citra-citra sebelumnya. Pengaruh yang sangat kuat dari globalisasi ini adalah melembaganya citra baru, yaitu perdagangan bebas yang akan memberikan kesejahteraan antarbangsa yang makin meningkat dan konvergen. Tetapi sebelum terjadinya keseimbangan baru, gelombang pertentangan semakin menajam.

Citra budaya proteksi, yang pernah menjadi argumen yang benar untuk meningkatkan kemampuan ekonomi nasional, sekarang sudah digeser dengan citra budaya baru, yaitu pentingnya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan iptek bangsa sebagai prasyarat untuk berhasilnya pembangunan nasional. Oleh karena itu, globalisasi akan menjadi “milik kita” hanya jika kita berhasil membangun kebudayaan bangsa yang bertumpukan pada peningkatan kemampuan bersaing, dan bukan pada ketergantungan atau proteksi.

Budaya merupakan proses histors dan selektif dimana manusia memberikan reaksi, baik terhadap perubahan internal maupun eksternal. Dengan demikian, kebudayaan pada dasarnya adalah suatu desain sistem kehidupan yang terwujud secara ko-evolutif atau secara historis dan selektif, yang dipahami dan dipedomani bersama oleh seluruh anggota masyarakat. Oleh karena itu pula, latar belakang kebudayaan merupakan aset yang perlu digunakan sebagai titik tolak dalam upaya pembangunan, khususnya dalam era globalisasi, agar pembangunan ini memberikan makna terhadap manusia dan kemanusiaan, baik sebagai anggota masyarakat maupun sebagai kelompok.

Untuk dapat mengarungi arus globalisasi dengan berhasil mengandung arti bahwa kita memerlukan tatanan nilai yang sesuai. Nilai adalah sesuatu yang ideal yang memiliki dimensi agama, etika, atau moral. Oleh karena itulah, pengembangan teknologi dan industrialisasi dalam era globalisasi ini perlu dilandasi oleh tatanan nilai yang kukuh.

Selain gelombang globalisasi, juga gelombang reformasi telah melanda bangsa kita sejak tahun 1998. Reformasi yang kita rasakan pada saat ini lebih kepada reformasi dalam bidang politik, yaitu terciptanya demokrasi. Demokrasi yang lebih dinikmati oleh para elit politik. Demokrasi yang memberikan kebebasan mendirikan partai politik, sehingga dapat ikut dalam menentukan peraturan permainan politik di parlemen (DPR/DPRD). Maraknya protes dan demonstrasi menolak peraturan dan ketentuan baru, menunjukkan bahwa masyarakat merasa tidak diikut sertakan dalam pengambilan keputusan dilingkungannya sendiri. Jadi apa artinya demokrasi bagi mereka?

Disisi lain, reformasi juga membawa alam kompetisi menjadi lebih baik. Kreativitas dalam berbagai kegiatan, seperti penelitian, pendidikan, usaha dan kesenian menjadi tambah bergairah. Dalam bidang sains, teknologi dan industri, maka inovasi akan menjadi satu tolok ukur mencapai keberhasilan. Kreativitas dan inovasi harus dapat menjadi bagian dari budaya bangsa, untuk bisa bersaing di era globalisasi.

Kberdasarkan pemikiran siatas kemudian buku ini telah disusun dalam bab-bab sebagai berikut:

INDUSTRIALISASI, TEKNOLOGI dan BUDAYA

GLOBALISASI DAN MASYARAKAT

TEKNOLOGI DAN KEMANDIRIAN

INDUSTRIALISASI SEBAGAI PILIHAN

KREATIFITAS, INOVASI, DAN PROFESIONALISME

INDUSTRIALISASI, TEKNOLOGI dan BUDAYA

Inti dari pemikiran-pemikiran tersebut telah disampaikan dalam orasi ilmiah pada kesempatan pengukuhan sebagai Ahli Peneliti Utama (APU) bidang industri di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), pada tanggal 14 Desember 1995. Seluruh isi orasi ilmiah tersebut menjadi bagian utama dari bab ini.

Keyakinan bahwa kaitan antara industrialisasi, sumber daya manusia, dan budaya sangatlah penting, saya telah menyampaikan hal ini dalam berbagai kesempatan, baik berupa makalah, tulisan ataupun ceramah, maupun kuliah.

Masalah keterkaitan anatara inovasi, teknologi, industrialisasi dan budaya ini, saya sampaikan juga pada kesempatan memperingati 150 tahun Siemens pada tahun 1997 khususnya menyinggung masalah keberadaan kearifan lokal dibeberapa daerah di Indonesia, dan ceramah sebagai guru besar tamu di RWTH Aachen (Aachen University of Technology) pada tahun 2001, mengenai keterkaitan modal asing dengan perubahan budaya. Teknologi lahir, tumbuh, dan berkembang tidak didalam ruang hampa, sehingga pada dasarnya teknologi tidak dapat terlepas dari masyarakatnya. Sehingga teknologi hanya bisa berkembang kalau sudah menjadi tradisi dalam kehidupan didalam masyarakat, dan merupakan kekayaan budaya masyarakat tersebut.

Transformasi dari mayarakat agraris menjadi mayarakat industri, yang sering disebut dengan industrialisasi, adalah satu proses perubahan budaya. Memahami masalah yang dihadapi dalam proses industrialisasi tersebut, ada dua faktor yang perlu menjadi perhatian utama. Pertama adalah faktor sumberdaya manusia (SDM), dan kedua adalah faktor budaya masyarakat. Kedua hal inilah yang menjadi fokus perhatian saya dalam mengadakan kajian bidang industri. Arus globalisasi yang melanda planet kita, dan yang diyakini perubahan budaya, harus dilihat juga dari sisi pandang kedua faktor diatas. Sebagai bangsa yang majemuk, yang kaya dengan budaya lokal, sudah tentu memiliki berbagai kearifan lokal dan tradisional yang tersebar diseluruh nusantara. Berbagai kearifan lokal dan tradisional inilah yang seharusnya dikembangkan menjadi modal sosial (social capital) untuk memasuki era globalisasi. Dalam proses menuju masyarakat industri, ternyata sebagian dari kita malah sudah mencapai tingkatan sebagai masyarakat informasi dan jasa. Secara kontras, disisi lain sebagian besar masyarakat kita masih hidup seperti di jaman agraris, dan sebagian lagi masih dalam tingkatan masyarakat pra pertanian. Salah satu cara untuk mempercepat proses modernisasi yang lebih merata maka diperlukan teknologi. Teknologi yang kita kembangkan sendiri dan kita kuasai. Industrialisasi tanpa penguasaan teknologi, negara kita hanya akan menjadi lokasi produksi bagi pemilik teknologi. Kita hanya dijadikan sebagai negara penyedia tempat dan tenaga kerja bagi mereka. Tanpa penguasan teknologi, kita hanya menjadi bagian dari globalisasi, yang terbatas hanya menjadi tempat produksi sesaat dan pasar belaka.

GLOBALISASI DAN MASYARAKAT

Diawal buku saya menyatakan bahwa citra sebagai subjective knowledge, yaitu segala sesuatu yang kita percayai kebenarannya, sangat menentukan perilaku manusia. Sedang globalisasi akan membangun citra dunia yang akan kita percayai kebenarannya dan  berbeda dengan citra-citra sebelumnya.

Dunia baru kita adalah dunia perdagangan dalam arti yang seluas-luasnya, yakni dunia yang tidak mengenal batas-batas pemerintahan ataupun batas-batas geografis. Pembatas yang kita miliki hanyalah kemampuan kita bersaing baik di dalam negeri maupun di pasar internasional dengan para pengusaha di dan dari negara lain. Oleh karena itu, globalisasi akan menjadi “milik kita” hanya jika kita berhasil membangun kebudayaan bangsa yang bertumpukan pada peningkatan kemampuan bersaing, dan bukan pada ketergantungan atau proteksi.

Mengenai perkembangan pengaruh globalisasi, secara apik, mendalam, dan menyentuh disampaikan oleh Professor Taufik Abdullah dalam Orasi Kebudayaan dengan judul SEJARAH, NOSTALGIA, DAN KEBUDAYAAN, yang disampaikan dalam kesempatan peringatan Ulang Tahun I The Habibie Center, pada tanggal 22 Nopember 2000. Ungkapan beliau saya tuliskan didalam buku ini antara lain sebagai berikut

 

…….. ?Coba saja bayangkan bahkan di saat negara Proklamasi hanya tinggal beberapa keping daerah saja di tahun 1948-49 dan di saat Belanda telah berhasil mendirikan sekian banyak negara bagian, optimisme masih merupakan bagian dari kehidupan bangsa. Bagaimana kini? Lihat saja pola perilaku para elite politik, yang dulu biasa disebut sebagai ?para pemimpin?. Entah mengapa kini  sedemikian mudahnya mereka tergelincir pada krisis saling-percaya. Kalau ini saja belum cukup, situasi keterputusan, disconnected, antara pemimpin– memang sang elite politik itu– dengan masyarakat, masih terus saja berlanjut. Lain yang dikatakan sang pemimpin, lain pula yang ditanggapi masyarakat. Ironinya ialah kelompok-kelompok dalam masyarakat pun membuat interpretasi yang independen terhadap perilaku para elite politik, yang sedang mengalami krisis saling percaya itu. Maka sistem kepemimpinan jalanan pun semakin keras bersuara……………

Maka kitapun berhadapan dengan sejumlah kisah tragis dari masyarakat yang sekian lama dihinggapi suasana desperation.?

Kegetiran yang dirasakan oleh Taufik Abdullah, sebagai seorang budayawan, mungkin dirasakan oleh sebagian  masyarakat kita, yang masih mempunyai perasaan kebangsaan. Yang menginginkan budaya, yang telah berkembang sejak nenek moyang, tidak akan diobrak – abrik oleh globalisasi.

GATT yang tadinya hanya ditujukan untuk mengatur perdagangan, telah memasuki bidang-bidang lain seperti HAKI, investasi, perburuhan sampai kepada masalah pengadaan pemerintah. WTO dengan berbagai komisi dan badan didalamnya sangat didominasi oleh negara-negara maju (G-8). WTO adalah birokrasi dengan pemihakan kepada negara-negara industri maju. Hegemoni negara-negara maju dalam bidang teknologi dan industri makin dimantapkan lagi dalam berbagai keputusan di WTO. Negara maju ingin tetap menjadikan negara-negara berkembang menjadi sumber untuk mendapatkan bahan baku, khususnya untuk industri agro, kehutanan dan hasil tambang, serta menjadi pasar hasil industrinya. Sehingga globalisasi sebagai citra baru untuk dunia dengan kesejahteraan yang makin meningkat dengan perdagangan bebas telah dinodai dan menimbulkan reaksi keras dan tantangan dari negara-negara berkembang.

Yang dihadapi dan menjadi masalah negara-negara berkembang dan industri baru, bukan hanya perdagangan bebas. Negara-negara ini menghadapi berbagai masalah dinegaranya masing-masing, yang pada dasarnya disebabkan oleh kemiskinan dan ketertinggalan, pendidikan, ketrampilan, penguasaan teknologi, dan lain-lain.

TEKNOLOGI DAN KEMANDIRIAN

Bab ini merupakan bab yang paling panjang, dan memang merupakan fokus saya sebagai peneliti.

Eksistensi iptek dalam suatu masyarakat merupakan kekayaan budaya yang penting bukan hanya bagi masyarakat yang bersangkutan, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Persoalan mendasar dalam hal ini bukanlah ada atau tidak adanya organisasi secara legal-formal, tetapi apakah telah tumbuh dan berkembang organisasi dengan semangat serta perilakunya yang sesuai dengan persyaratan-persyaratan untuk tumbuh dan berkembangya suatu kehidupan akademis sebagai landasan berkembangnya iptek.

Teknologi tidak terlepas dari sumber daya manusia. Kemandirian satu bangsa hanya bisa dicapai kalau masyarakatnya menguasai teknologi. Suatu bangsa dikatakan semakin maju antara lain bila semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk dan semakin tinggi tingkat kesehatan penduduk seperti antara  pendapatan penduduk dan semakin merata pendistribusiannya.

Selain itu suatu bangsa dapat dikatakan semakin mandiri bila bangsa tersebut semakin mampu mewujudkan kehidupan yang sejajar dan sederajat dengan bangsa lain dengan kekuatannya sendiri. Pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat makin dipengaruhi oleh hasil-hasil inovasi, penguasaan teknologi dan penerapan pengetahuan. Tidak disangkal lagi bahwa pengembangan kemampuan Iptek menjadi salah satu faktor dominan bagi negara manapun untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kemakmuran rakyat, serta melindungi kepentingan dan kedaulatan negara.

Dalam rangka penulisan buku ?Crisis and Innovation in Asian Technology?, oleh William W. Keller dan Richard J. Samuels dari MIT, Cambridge, telah diadakan sebuah workshop pada bulan September 2000, dan saya telah diminta untuk menyampaikan sebuah makalah mengenai Indonesia. Makalah dengan judul ?Aircraft Technonolgy in Indonesia: After the Crisis in the Global Market?, dan menjadi bagian dari buku ini. Teknologi pesawat terbang, karena teknologi tersebut sebelum krisis telah mencapai kemampuan yang setara dengan industri pesawat terbang negara industri maju. Keterlibatan IMF dalam upaya perbaikan ekonomi kita, telah dimanfaatkan oleh negara-negara industri maju G 8, untuk ?menghabisi? program kebanggaan nasional tersebut. Pengalaman dalam menumbuhkan kemandirian dalam teknologi, selalu terganjal oleh pengaruh luar dan pertentangan serta perubahan politik yang terjadi di dalam negeri. Terjadilah ?disruptive technological development?, yang nantinya harus dibayar dengan mahal. Gejala ini menunjukan hilangnya atau tidak dimilikinya techno-ideology dan langkanya tekno-nasionalis di antara elit politik.

INDUSTRIALISASI SEBAGAI PILIHAN

Sejarah telah menunjukkan bahwa beberapa negara yang semula berstatus sebagai negara berkembang, telah berhasil mentransformasikan dirinya menjadi bangsa dan negara yang sejajar dengan Negara Industri Maju ataupun sekurang-kurangnya menjadi negara yang digolongkan dalam Negara Industri Baru (New Industrialized Country -NIC), serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalau kita simak lebih mendalam, apa yang mereka telah capai pada dasarnya adalah keberhasilan dalam mentransformasikan sumber daya manusia menjadi manusia yang berkualitas tinggi dan merupakan potensi yang sekaligus dapat dimanfaatkan untuk menguasai industri dan teknologi yang mereka alihkan dari luar negeri.

Program pengembangan sumberdaya manusia yang mereka lakukan bersamaan dengan penguasaan industri dan teknologi, pada akhirnya berhasil mengantarkan bangsanya untuk dapat mengembangkan teknologi, dan  berhasil meraih pangsa pasar internasional untuk produk dan jasa yang mereka hasilkan.

Beberapa negara di kawasan Asia juga telah berhasil mengikuti jejak Jepang, seperti Korea Selatan, Singapura, Hongkong dan Taiwan yang berhasil memasuki golongan Negara Industri Baru. Kerberhasilan ini merupakan hasil kerja keras yang terarah dan terkonsentrasi serta terus berkembang dalam waktu yang cukup panjang. Kenyataan ini mendorong negara-negara berkembang lainnya berpacu melaksanakan pembangunan yang berorientasikan pada pembangunan sumberdaya manusia, dan penguasaan teknologi dan industri. Beberapa negara di Kawasan Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia dan bahkan Indonesia telah dijuluki sebagai Negara Industri Baru Lapis Kedua (Second Layer Of New Industrialized Countries).

Inti pemikiran yang disampaikan adalah bahwa industrialisasi sebagai poros pembangunan hanya akan memberikan tingkat kesejahteraan rakyat dan kemajuan, serta kemandirian bangsa yang terus meningkat secara berkelanjutan dalam era globalisasi apabila industri yang menjadi motor penggerak pembangunan tersebut adalah industri yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal inilah yang saya sampaikan dalam orasi ilmiah, sewaktu pengukuhan sebagai Guru Besar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember ? ITS, pada tanggal 22 Nopember 1997, dengan judul ?Industri Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: Landasan Pembangunan Daya Saing Nasional di Masa Depan?. Kita belum mampu mengembangkan hubungan yang efektif dalam bidang teknolgi antara perguruan tinggi ? lembaga penelitian dan industri.

Kita memilih industrialisasi sebagai porosnya pembangunan nasional, industri-industri yang akan kita kembangkan adalah industri yang atribut utamanya adalah iptek sebagai hasil cipta, rasa dan karsa dari “human mind”.

Disekitar tahun 2006 para pakar, pengamat dan pelaku industri sering mengindikasikan bahwa telah terjadi de-industrialisasi. Pengembangan teknologi terasa mandeg, malah terjadi kemunduran. Pertanyaan bagi kita adalah, bagaimana orientasi kita kedepan dalam mengembangkan industri nasional untuk bisa bersaing dipasar global?

KREATIFITAS, INOVASI, DAN PROFESIONALISME

Sukar untuk membahas tentang inovasi tanpa menyinggung teknologi. Sedang inovasi itu sendiri merupakan bagian dari budaya masyarakat.

lnovasi dilihat dari sisi pandang yang lebih fundamental merupakan bagian dari kebudayaan. Dari perspektif ini, maka inovasi merupakan suatu proses yang hasilnya adalah suatu hal yang baru yang secara kualitatif berbeda dengan yang sudah ada. Proses ini pada dasarnya terjadi secara luas, khususnya dalam masyarakat yang dinamis, sebagai produk dari proses learning, searching, and exploring. Kenyataan di masyarakat memperlihatkan bahwa kreatifitas dan inovasi itu tidak terbatas pada kelompok ilmuwan atau peneliti. Kreatifitas dan inovasi terjadi dan dapat dikembangkan di semua lapisan masyarakat, tidak tergantung pada tingkat pendidikan. Prakondisi yang penting untuk mendukung proses kreatifitas dan inovasi adalah tingginya tingkat kepekaan terhadap kebutuhan atau terhadap perubahan lingkungan yang dihadapi.

Manusia memanfaatkan teknologi untuk menyempurnakan proses-proses nilai tambah, menjadikan barang-barang jadi bernilai lebih tinggi. Teknologi penting karena merupakan penggerak utama proses nilai tambah tersebut. Sedangkan proses nilai tambah itu sendiri merupakan proses kompleks yang berjalan terus menerus. Karena sifat integratif inilah maka dalam suatu proses ekonomi apapun juga, teknologi merupakan unsur yang paling menentukan dalam proses nilai tambah. Semakin effisien dan produktif proses-proses nilai tambah, semakin meningkat taraf hidup masyarakatnya. Maka lahirlah suatu lingkaran peningkatan antara tingkat perkembangan teknologi sebagai hasil meningkatnya taraf kehidupan manusia dan taraf kehidupan manusia meningkat karena tingkat perkembangan teknologi.

Dengan demikian hadirnya teknologi dalam kehidupan manusia berarti memungkinan peningkatan kemampuan berproduksi dan peningkatan taraf kehidupan dalam masyarakat itu. Kemampuan masyarakat dalam inovasi merupakan akumulasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tetapi kemampuan ini bisa saja hilang atau lenyap bersamaan dengan lenyapnya satu peradaban.

Kita menyadari bahwa keberlanjutan pembangunan nasional dalam era globalisasi akan sangat dipengaruhi oleh daya saing baik di pasar internasional maupun di pasar dalam negeri. Daya saing tersebut pada intinya merupakan fungsi dari kemampuan nasional dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi serta mengembangkan produk-produk baru yang mampu bersaing dengan produk-produk yang sama atau yang saling bersubstitusi yang dihasilkan oleh pesaing kita. Kemampuan meningkatkan produktivitas dan efisiensi serta kemampuan untuk menghasilkan produk-produk baru yang mampu bersaing tersebut, merupakan produk dari penerapan iptek baru, baik yang diperolah melalui pengalihan teknologi maupun melalui pengembangan riset di lembaga penelitian dan pengembangan. Mengenai peningkatan produktivitas secara luas pernah saya tulis dalam buku ?Peningkatan Produktivitas Nasional: Melalui Penguasaan Iptek dan Pengembangan Sumber Daya Manusia?, pada tahun 1999, dan menjadi referensi buku ini.

PENUTUP

Sejak awal kemerdekaan pada tahun 1945, para pendahulu kita, telah mempunyai visi untuk menguasai dan mengembangkan teknologi dan industri bagi kesejahteraan masyarakat. Tetapi perkembangan globalisasi, sering menarik kita menuju liberalisme yang mengakibatkan kita melupakan kemampuan bangsa sendiri. Kita sering terjebak dalam kebijakan lama (kolonial) yang mengandalkan bahwa Indonesia sebagai penyedia bahan baku primer untuk kebutuhan industri negara maju, sehingga mengenyampingan peningakatan SDM.

Akibatnya kebijakan penguasaan teknologi dan industri sering dihadapkan kepada terbatasnya dana dan SDM yang belum siap. Hanya dengan teknologi kita dapat menghadapi arus globalisasi dimasa depan.

Globalisasi terus mengalir dengan derasnya. Apa yang pernah kita hadapi dan menjadi pemikiran kita bersama pada waktu yang lalu, seperti yang diuraikan dalam buku ini, sudah mengalami perubahan besar. Liberalisasi perdagangan, dan digitalisasi telah memperlebar jaringan out sourcing dalam produksi. Dunia menjadi rata, seperti yang dikatakan oleh Thomas Friedman (2006) ?The World is Flat?.

Ketertinggalan teknologi telah mendorong India dan China untuk bisa mensejajarkan dirinya dengan negara-negara industri maju melalui peningkatan kreatifitas dan inovasi. China, dalam waktu dekat dapat tumbuh dari pusat produksi dengan low cost ? low end technology, menjadi pesaing global dalam high end technology product, karena telah berhasil menciptakan iklim usaha dengan cost innovation, serta tersedianya ?low cost pool of creative and competent engineers and scientist?. China berhasil menggabungkan kemampuan teknologi nasionalnya secara efisien dan bersaing.

Indonesia, dengan penduduk mendekati 250 juta jiwa, merupakan negara yang besar. Sudah saatnya seluruh komponen bangsa melihat kedepan, dan masa lalu dijadikan pembelajaran. Demikian juga maksud buku ini, sebagai pembelajaran untuk menghadapi masa depan bersama.

Semuanya tergantung dari kita dan tergantung dari para pemimpin kita, kearah mana bangsa ini harus melangkah, dan akhirnya semua tergantung kepada Ridho Allah SWT.

Jakarta, 16 September 2008