INOVASI DAN TECHNO-PRENEURSHIP

Oleh: Rahardi Ramelan

Pengantar

Seminar ?Techno-preneurship? yang diselenggarakan oleh ISTN dalam rangka Peringatan 100 Tahun Prof. DR.Ir. Roosseno (Alm), diselenggarakan juga bertepatan dengan masih berlangsungnya peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, 80 Tahun Sumpah Pemuda, dan 10 Tahun Reformasi. Seminar inipun diselenggarakan sewaktu kita masih merayakan hari Kemerdekaan yang ke 63, dan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Rasanya kita masih jauh dari cita-cita para pendahulu kita. Masalah inovasi, teknologi dan entrepreneurship masih tetap menjadi bahan bahasan yang menarik dan terlihat solusinya.

PENDAHULUAN

Pada dasawarsa 1970,1980 dan 1990, pasar dunia dikejutkan dengan kemajuan industri dibeberapa negara yang kemudian dinamakan sebagai negara-negara industri baru. Sejak akhir Perang Dunia II, sudah nampak adanya perbedaan perkembangan indusri dinegara-negara yang dikatakan terbelakang. Negara-negara yang kemudian disebut ?The rest?, mereka sebenarnya telah mempunyai manufacturing experience dari industri tradisionalnya, satu kemampuan yang merupakan budaya dan sudah berlangsung secara turun temurun, sebagai kearifan tradisonal yang bisa menjadi modal masyarakat atau social capital. Diantaranya adalah Cina, India, Indonesia, Korea, Malaysia, Taiwan dan Thailand di Asia; Argentina, Brasilia, Chili dan Meksiko di Amerika Latin; serta Turki di Timur Tengah. Negara-negara tersebut mempunyai pengalaman yang cukup panjang dalam kemampuan manufakturing, antara lain dalam memproduksi tekstil (tenun, batik, pewarnaan), sutera, alat-alat kebutuhan rumah tangga dan pertanian, senjata, proses pengawetan bahan makanan dan lain sebagainya. Kemudian negara-negara tersebut memasuki kedalam industri dengan teknologi menengah dan akhirnya memasuki industri dengan teknologi tinggi.

Kita sendiri di Indonesia banyak memiliki kearifan lokal dan tradisional (local and traditional geniuses) dibidang teknologi, industri, dan manajemen. Pengetahuan yang berkembang turun temurun dan selalu menyesuaikan dengan perkembangan sehingga menjadi tacit knowledge, seperti tenun, batik (tulis dan cap), pengecoran logam, alat-alat pertanian dan perikanan, alat transportasi (becak, delman, dll), pengawetan makanan, manajemen pengairan (subak di Bali) dan lain sebagainya.

Perkembangan yang terjadi dinegara-negara tersebut, yang tadinya dikatagorikan  sebagai negara terbelakang, yang tidak memiliki proprietary innovations dan teknologi, merupakan phenomena yang menjadi perhatian banyak pakar, scholars dan politisi.

Tidak dimilikinya proprietary innovations/technology, menyebabkan negara-negara ini lambat memasuki industrialisasi (late industrialization). Keberhasilan mereka mengembangkan industrinya didasasri atas kemampuan belajar, walaupun tergantung dari teknologi dari negara-negara industri maju yang tersedia dipasar (commercialized technology).

Negara-negara tersebut termasuk Indonesia, pada dasarnya telah memiliki aset yang penting untuk menuju ke knowledge based economy. Perkembangan yang telah terjadi dibidang ekonomi, yaitu dengan bergesernya aset dibidang primary product yang dilakukan oleh tenaga tidak terampil, menjadi aset yang didasari knowledge dan dilakukan oleh tenaga-tenaga terampil. Pergeseran atau transformasi ini melibatkan perubahan orientasi pelaku bisnis dan modal, dari ?rent seeking?, perdagangan, dan pertanian, menjadi manufakturing yang menjadi dasar pertumbuhan ekonomi modern. Sampai beberapa tahun yang lalu, kita telah berhasil mencapai transformasi ini, dan dapat dilihat dari indikator ekonomi seperti kontribusi industri pengolahan dalam PDB, maupun distribusi tenaga kerja. Kemampuan negara ?The rest? dalam mengembangkan knowledge based asset ini sangat mengesankan. Kemampuan manajerial telah memungkinkan mereka bisa memasuki pasar internasional secara kompetitif. Apa yang telah dicapai dalam teknologi, terutama Korea, Taiwan, Cina, Turki dan Indonesia (pernah dalam aerospace), menunjukan bahwa negara dan bangsa tersebut telah dapat menguasai manajemen teknologi secara memadai. ?The Rest? telah menguasai generic capabilities dalam produksi, manajemen dan mengembangkan sistem inovasinya. Dalam hal ini saya masih melihat banyak ketertinggalan Indonesia sebagai bagian dari ?The Rest?, dalam pengembangan sistem inovasi ini.

POTRET INDONESIA

Dihampir semua negara, juga negara industri maju, intervensi pemerintah dalam proses pengembangan knowledge based asset ini diperlukan dan harus dilakukan. Memang porsinya berbeda, dan ini sangat tergantung dari prilaku para pebisnis dan pemilik modal. Kalau pebisnis dan pemodal masih banyak berorientasi dengan kegiatan ?rent seeking?, maka dibutuhkan bukan hanya intervensi pemerintah (dengan kebijakan), tetapi keterlibatan pemerintah dalam pengembangan knowledge based asset tersebut melalui ?special structured companies?, dalam hal kita adalah BUMN.

Sejak lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia pada Agustus 1945, visi para pemimpin kita untuk mengadakan transformasi ekonomi dari pertanian ke industri dengan dukungan teknologi, telah dijabarkan melalui berbagai kebijakan dan program. Rencana Kasimo dalam kebutuhan pangan dan pertanian pada tahun 1951-1952, yang bertujuan mempercepat pertumbuhan industri dan memperkuat peran industri kecil, serta dimulainya program penelitian dengan mendirikan berbagai jenis laboratorium. Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) sudah lahir pada tahun 1956. Kemudian Kementrian Riset didirikan pada tahun 1962.

Perubahan pemerintah pada tahun 1966, setelah pemberontakan G 30 S/PKI digagalkan, kita menghadapi krisis yang cukup mendalam. Krisis yang dihadapi pada waktu itu bukan hanya krisis ekonomi saja, melainkan krisis dihampir semua sisi kehidupan bangsa kita. Kemudian sampai menjelang krisis di tahun 1997, berbagai perubahan telah terjadi didunia, seperti liberalisasi perdagangan dan globalisasi, yang mempengaruhi juga perkembangan di tanah air. Berbagai kebijakan penyesuaian (adjustment) telah dilakukan untuk dapat menanggapi perubahan-perubahan yang terjadi. Kita mengalami dua kali kenaikan harga minyak mentah yang cukup drastis pada tahun 1973 dan 1979. Kemudian harga minyak mentah turun kembali pada tahun 1982, sehingga diperlukan penyesuaian kebijakan pada kurun waktu 1982-1986. Perkembangan liberalisasi perdagangan dunia mengharuskan kita menyesuaikan diri pada tahun 1987 ? 1998, dan kita dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang memadai. Peranan BUMN sangat signifikan terutama dalam mengembangkan industri-industri padat teknologi. Disisi lain perlu kita akui, bahwa pada kurun waktu tersebut terjadi konsentrasi kekuatan ekonomi pada kelompok-kelompok tertentu yang masih berorientasi rent seeking.

MENGHADAPI KRISIS

Krisis keuangan seperti yang terjadi pada tahun 1997 dan kemudian melanda hampir semua negara ?The rest? di Asia telah ditangani secara khusus oleh masing-masing negara. Dinegara kita dimana krisis ekonomi telah berubah menjadi krisis multidimensi, atau lebih drastis lagi bisa dikatakan sebagai krisis politik dan krisis budaya, memerlukan penanganan yang kontinu dan terkoordinasikan, serta dikelola secara terpadu. Reformasi yang digulirkan mengatasi krisis tersebut telah menimbulkan dis-equilibrium yang berkempanjangan dan memerlukan penanganan melalui cara-cara ?shock adjustment?. Sayangnya sejak awal penyesuaian (adjustment) tersebut, tidak jelas kesepakatan dan tolok ukur dan bentuk keseimbangan yang ingin kita capai. Kesepakatan tersebut sebenarnya sangat diperlukan agar segala upaya dapat dilaksanakan bertahap dan konvergen, sehingga tidak terjadi dis-equllibrium baru sewaktu kita melaksanakannya. Tantangan dalam masalah perbankan dan ekonomi, telah mulai menuju keseimbangan baru, walaupun dengan pengorbanan menurunnya PDB dan meningkatnya pengangguran. Indonesia dihadapkan kepada penyelesaian perbankan yang akhirnya membenbani masyarakat melalui alokasi APBN (BLBI). Kritik terhadap kebijakan lama dan bermunculannya pemikiran-pemikiran baru dalam perekonomian, telah menimbulkan perubahan paradigma. Pergeseran paradigma dalam politik dan demokrasi, telah membawa kita kedalam alam demokrasi yang baru. Pergantian pemerintahan yang terlalu cepat, mengakibatkan setiap saat diperlukan keseimbangan baru. Kita kehilangan leadership atau kepemimpinan untuk jangka panjang yang sangat diperlukan dalam mengatasi shock yang disebabkan oleh krisis. Kita memerlukan seorang pemimpin untuk kurun waktu yang cukup panjang, untuk bisa mencapai keseimbangan baru dalam kehidupan masyarakat. Kita memerlukan ideologi negara dan bangsa, termasuk techno-ideology, sehingga menjadi pegangan bagi setiap pemimpin. Kenyataannya kita belum bisa mengandalkan kepada konsistensi ideologi (kalau masih ada) dari partai ? partai politik.

Kita dihadapkan pada pemilihan kebijakan, yang selalu membawa akibat pro dan kontra. Tetapi pilihan harus ditetapkan. Yang penting adalah pembentukan kepercayaan publik atau trust, sehingga kebijakan yang ditetapkan, akan  dipercayai dan diyakini dapat menguntungkan bagi seluruh stakeholder.

DAYA ADAPTASI DAN INOVASI

Setiap perubahan atau transformasi memerlukan penyesuaian. Kemampuan untuk menyesuaikan diri atas perubahan dinamakan daya adaptasi. Proses perubahan ini berlangsung terus dengan laju yang makin cepat dan dalam proses tersebut terjadi proses seleksi. Individu atau masyarakat yang berhasil dalam proses seleksi tersebut adalah individu atau masyarakat yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyesuaikan perilakunya terhadap perubahan. Hal ini sesuai dengan teori evolusi, yaitu “diversity creating mechanism” dalam perilaku populasi, yang mencakup proses kognitifnya. Dengan demikian, konsep daya adaptasi lebih menekankan pada kemampuan menyesuaikan diri melalui learning process terhadap perubahan lingkungan.

Konsep daya inovasi lebih bersifat pada konsep kemampuan individu atau masyarakat memanipulasi atau mengintervensi lingkungan menurut kepentingan dari individu atau masyarakat yang bersangkutan. Pengertian lingkungan dalam konteks ini adalah segala hal yang diketahui mempengaruhi tujuan atau output yang dikonseptualisasikan oleh individu atau masyarakat, tetapi hal tersebut berada di luar kendali individu atau masyarakat yang bersangkutan. Sumber kemampuan tersebut dapat berupa perubahan dalam iptek, lembaga, sumber daya manusia, atau perubahan dalam unsur-unsur lainnya. Oleh karena itu, dalam arti pengembangan iptek, daya adaptasi adalah daya memanfaatkan dan mengembangkan iptek yang telah tersedia ke dalam suatu industri, sedangkan daya inovasi lebih bersifat mendasar, yaitu daya masyarakat untuk menghasilkan iptek itu sendiri.

Menurut Porter (1990), daya saing diciptakan melalui inovasi yang dapat berupa: penemuan teknologi baru; penciptaan atau perubahan kebutuhan; pemunculan segment industri baru; perubahan dalam biaya atau ketersediaan input; termasuk perubahan dalam peraturan pemerintah.

Dengan kerangka berpikir di atas, maka pertanyaan yang bersifat fundamental adalah bagaimana seharusnya meningkatkan daya adaptasi dan daya inovasi masyarakat dan bangsa Indonesia secara keseluruhan agar berhasil mengarungi era globalisasi ini.

Seperti yang diuraikan di atas, inovasi pada dasarnya melahirkan perubahan-perubahan teknis (technical change) dalam sistem produksi barang atau jasa, maka daya inovasi masyarakat dinamakan juga sebagai kemampuan teknologis (technological capability) masyarakat tersebut. Peningkatan kemampuan teknologi pada dasarnya adalah proses yang terjadi secara bertahap (incremental), jadi tidak melalui suatu lompatan, proses ini sering juga disebut “learning process”.

Sering kita dengar dikotomi antara iptek canggih (high tech) dan iptek rendah (low-tech). Bagi saya hal tersebut tidak tepat, saya cenderung sejalan dengan  pendapat Romer yang menyatakan,

In a world with physical limit, it is discoveries of big ideas (for example, how to make high temperature superconductors), together with the discovery of million little ideas (better ways to sew a shirt), that make persistent economic growth.

Kemampuan iptek perseorangan dan industri merupakan hasil akumulasi yang cukup panjang dalam “lintasan” (trajectory) tertentu.

Dalam rangka meningkatkan daya saing pada tingkat dunia usaha diperlukan core business pada dunia usaha yang bersangkutan. Berhasil tidaknya menghasilkan core business tersebut ditentukan oleh daya absorbsi sebagai upaya untuk mengembangkan usaha. Hal tersebut akan mendorong profesionalisme dan kompetensi dalam cabang usaha yang ditanganinya. Dengan demikian menjadi suatu keharusan bagi dunia usaha untuk mendekatkan diri dengan lembaga-lembaga penelitian sebagai bagian integral dari strategi usaha jangka panjang dalam membangun core business-nya.

TECHNO-PRENEUR DAN START UP COMPANY

Sewaktu Presiden SBY mencanangkan tahun 2005 ? 2006  sebagai Tahun Ilmu Pengetahuan Nasional, Presiden telah menantang para ilmuwan untuk menunjukan hasil-hasil nyatanya. Dari berbagai hasil para ilmuwan dan peneliti, ?Marlip? pada waktu itu telah mencuri perhatian para pengunjung. Marlip atau Marmut – LIPI, adalah kendaraan yang menggunakan motor listrik sebagai daya dorongnya. ?Marlip? menghadapi masalah dan rintangan dalam komersialisasi hasil penemuan, sama dengan hasil-hasil penemuan lainnya. Yaitu dana yang diperlukan untuk mematangkan satu penemuan supaya bisa menjadi produk yang diterima pasar, permasalahan yang sudah kronis dihadapi oleh ilmuwan dan peneliti kita. Berbagai upaya dan langkah-langkah telah lama dicoba dan dilaksanakan, tetapi belum ada break through yang signifikan. Hambatan yang dihadapi dalam komersialisasi hasil-hasil penelitian dan penemuan terutama disebabkan tidak adanya modal ataupun dana yang dapat menunjang kegitan tersebut. Dalam mendukung techno-preneur baru dalam mengembangkan satu perusahaan baru – Start Up Company, khsusunya yang berbasis iptek, ada dua komponan yang penting. Pertama adalah fasilitas untuk dapat mempertemukan segala aspek yang diperlukan untuk satu ?usaha?. Proses produksi, perhitungan biaya, dana, pemasaran dan lain-lain. Untuk hal tersebut berbagai perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian telah mendirikan dan memiliki (Technology) Incubator ? Inkubator (Teknologi). Berbagai ragam Inkubator tersebar didaerah-daerah. Selain inkubator telah dirintis juga yang dinamakan Open Laboratory, dimana laboratorium mengundang investor untuk bekerja sama melaksanakan komersialisasi hasil penelitian didalam laboratorium, dengan menambahkan beberapa peralatan yang diperlukan untuk produksi. Tetapi kenyataan yang kita hadapi adalah, bahwa dengan adanya berbagai inkubator dan open laboratory, belum bisa melahirkan start up company. Hambatan utamanya ialah, kurangnya atau tidak adanya dukungan dana.

Komponen kedua, seperti diungkapkan diatas, adalah modal atau dana. Dalam tahap penelitian, pemerintah sejak tahun 1990-an telah mengembankan program RUT (Riset Unggulan Terpadu), kemudian disusul dengan RUK (Riset Unggulan Kemitraan). Kedua program ini menyediadakan dana APBN untuk program-progran penelitian lintas institusi dan kemudiaan didalam program RUK diadakan kerjasama dengan swasta. Memasuki pematangan suatu hasil penelitian, yang biasanya dilakukan didalam inkubator, diperukan sumber dana lain yang sering dinamakan seed capital. Dari hasil inilah akan lahir pengusaha dan perusahaan baru berbasis iptek atau techno-entrepreneur. Start-up company (sebutan kepada perusahaan yang baru ini) berbasis iptek, biasanya dimotori hanya oleh perorangan atau kelompok yang berhasil melakukan penelitian dan pengembangan produk atau proses tertentu, yang sudah matang untuk dikomersialisasikan. Mereka tidak memiliki aset yang dapat dijadikan kolateral untuk mendapatkan kredit perbankan. Sebab itu diperlukan dana yang ikut dalam usaha baru ini. Usaha yang berisiko tinggi, tapi juga bisa menjadi leader dalam bidangnya. Dana atau modal semacam ini biasanya disediakan oleh Venture Capital (Modal Ventura). Ditahun 1970-an pemerintah telah memulai usaha ini dengan PT Bahana. Disusul kemudian hampir disemua daerah dibentuk Modal Ventura Daerah dan kemudian PNM. Sayangnya dalam prakteknya, perusahaan-perusahaan tersebut tidak bertindak sebagai modal ventura seperti yang diharapkan, melainkan memberikan pinjaman dengan pengembalian melalui bagi hasil, dan ikut dalam manajemen perusahaan baru tersebut. Sehingga dalam perkembangannya perusahaan modal ventura tersebut tidak dapat diandalkan untuk membantu start up company berbasis iptek.

Setelah krisis tahun 1997, beberapa perusahaan modal ventura dari Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan Malaysia, berhasil melakukan operasinya di Indonesia. Perusahan ventura tersebut mengincar khususnya perkembangan dalam bidang IT dan bioteknologi yang memasuki tahap komersialisasi dan membentuk start-up company.

Inovasi yang menghasilkan produk yang dapat dikomersialkan, bukan hanya merupakan pekerjaan individu, tetapi harus merupakan pekerjaan kelompok atau masyarakat tertentu. Kita memerlukan terbentuknya Sistem Inovasi Nasional (SIN).  Sistem yang merupakan jejaring berbagai komponen pelaku (stakeholder) teknologi, yang dapat menjadikan hasil inovasi betul-betul meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berbagai konsep jejaring dalam ?cluster? telah banyak dikembangkan dibeberapa negara, seperti Technopolis, Technology Park, Inkubator dan Lembaga Litbang. Hanya dengan SIN yang efektif berbagai ?start up company? yang berbasis teknologi dapat dikembangkan, dan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Didalam SIN ini tidak dapat diabaikan peranan seed capital. Sekarang ini dana pemerintah sangat terbatas yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ini, dan masih langkanya perorangan sebagai  ?angle investor? yang ikut membiayai proses awal dari inovasi, mengakibatkan proses inovasi jadi terhambat dan lamban. Dengan ramainya implementasi konsep Corporate Social Responsibility (CSR) di perusahaan dan institusi publik, perlu mengkaitkan dan memanfaatkan konsep ?filantropy? dana CSR ini sebagai seed capital dan venture capitals. Pemerintah dalam RPJM 2005 – 2009 telah menetapkan berbagai target dalam pembentukan perusahaan berbasis teknologi dan jumlah inkubator. Tanpa dirancangnya dan diterapkannya sebuah SIN, target-target tersebut hanya akan menjadi angka-angka dan daftar keinginan belaka.

Sebagai contoh, China dalam waktu dekat dapat tumbuh dari pusat produksi dengan low cost ? low end technology, menjadi pesaing global dalam high end technology product, karena telah berhasil menciptakan iklim usaha dengan cost innovation, serta tersedianya ?low cost pool of creative and competent engineers and scientist?. China berhasil menggabungkan kemampuan teknologi nasionalnya secara efisien dan bersaing.

Mereka bisa menciptakan kebijakan dan manajemen inovasi secara spektakuler. Pengelolaan proses inovasi dan bisnis dipisahkan sama sekali dari birokrasi, walaupun masih terus mendapatkan bantuan dan dukungan dari pemerintah. Bermunculannya entrepreneur baru yang dinamis dan didukung oleh sistem (termasuk perbankan) yang mendukung kelahiran start up company. Industri baja, peti kemas, harbour crane, ICT, tenaga listrik sudah mendominasi pasar global.

Dalam proses transformasi yang panjang dari ekonomi sentralistik menuju ekonomi pasar, perusahaan nasional diberi akses untuk memanfaatkan seluas-luasnya aset dan kekayaan intelektual (IP) yang dimiliki negara dengan biaya yang sangat rendah. Sehingga utilisasi aset negara menjadi lebih produktif melalui kombinasi dengan aset swasta dan pasar uang.

Memperhatikan hal-hal diatas, maka diperlukan langkah-langkah ?berani? yang perlu dilaksanakan saat ini antara lain adalah:

? Menjadikan hasil penelitian, hasil inovasi, paten dan HKI lainnya dari Lembaga-lembaga Penelitian baik pusat, daerah, departemen maupun BUMN menjadi milik publik dan terbuka untuk umum (compulsory licenses).

? Memperluas dan mengefektifkan berbagai jenis dan type inkubator teknologi dan bisnis. Dengan menyediakan Innovation Fund.

? Mengutamakan kreatifitas dan inovasi dengan teknologi yang tersedia.

? Menciptakan sistem pembiayaan (ventures capital) bagi ?start up company?.

? Memberikan keleluasaan bagi manajemen perusahaan yang memanfaatkan teknologi dalam persaingan global untuk mengambil keputusan.

? Pemantapan Sistem Inovasi Nasional, yang mengutamakan kreatifitas dan inovasi.

? Memanfaatkan konsep modular dan outsourcing yang diterapkan oleh industri-indutri teknologi mutakhir.

? Indonesia harus menentukan bidang-bidang teknologi yang akan dijadikan unggulan.

PENUTUP

Pada tahun 2008 ini, dalam memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional telah diadakan berbagai pameran hasil inovasi dan rancang bangun lembaga penelitian, perusahaan swasta dan BUMN, Perguruan Tinggi, dan perorangan. Menteri Negara Ristek telah mengeluarkan Buku ?100 Indonesia Innovations?, yang merupakan inovasi-inovasi yang paling prospektif dari 623 buah nominasi yang datang dari seluruh penjuru tanah air. Proposal kebanyakan masih diajukan oleh Lembaga Pendidikan 43% dan Litbang Pemerintah Nondep 29,1% (39,2% +Litbang dep), sedangkan yang terseleksi 30% dari Lembaga Pendidikan dan 43% Litbang non dep ( 50% + Litbang Dep). Sudah saya perkirakan ternyata ?Marlip? masih ada diantara 100 inovasi pilihan. Fakta yang sangat menyedihkan.

Techno-preneur baru hanya bisa lahir dan berkembang kalau tersedianya sistem pendanaan dan permodalan yang mendukungnya. Semoga pembentukan perusahaan modal ventura yang sesungguhnya dapat segera terlaksana.

Jakarta, 27 Agustus 2008.