PERAN dan STRATEGI MANAJEMEN TEKNOLOGI dalam MEMBANGUN SUSTAINABILITAS INDUSTRI dan BISNIS dalam ERA GLOBALISASI

KREATIFITAS DAN INOVASI DALAM PERSAINGAN GLOBAL

Rahardi Ramelan

Globalisasi

Di dasawarsa 1970 dan 1980 kita meyakini bahwa globalisasi akan membangun citra dunia yang kita percayai kebenarannya dan berbeda dengan citra-citra sebelumnya. Selanjutnya pada 1990an globalisasi makin menguas dengan disepakatinya GATT dan dibentuknya WTO. Pengaruh yang sangat kuat dari globalisasi itu adalah melembaganya citra baru, yaitu perdagangan bebas yang akan memberikan peningkatan kesejahteraan bagi bangsa-bangsa yang makin konvergen. Dunia baru kita itu adalah dunia perdagangan dalam arti yang seluas-luasnya, yakni dunia yang tidak mengenal batas-batas pemerintahan ataupun batas-batas geografis satu negara. Pembatas yang ada hanyalah kemampuan kita bersaing dengan para pengusaha di dan dari negara lain baik di dalam negeri maupun di pasar internasional. Citra budaya proteksi, yang pernah menjadi argumen yang benar untuk meningkatkan kemampuan ekonomi nasional bagi kesejahteraan masyarakatnya, sudah digeser dengan citra budaya baru, yaitu pentingnya meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia dan IPTEK bangsa sebagai prasyarat untuk berhasilnya pembangunan nasional. Oleh karena itu, globalisasi akan menjadi “milik kita” hanya jika kita berhasil membangun kebudayaan bangsa yang bertumpukan pada peningkatan kemampuan bersaing, dan bukan pada ketergantungan atau proteksi. Seandainya globalisasi mulus berjalan maka seluruh penduduk planet kita akan hidup lebih baik dan lebih sejahtera.

Tetapi kenyataannya ketimpangan antara negara industri maju (G-8) dengan “The Rest” dan negara lainnya terus melebar. Krisis keuangan dan ekonomi pada tahun 1997 yang melanda sebagian besar negara Asia, makin memperparah ketimpangan yang terjadi.

Brand, standards and quality telah menjadi ciri utama globalisasi yang berlaku dimana saja. Sebab itu negara-negara maju memaksakan diterimanya TRIPs dalam rangka GATT – WTO. Negara-negara berkembang telah diyakinkan bahwa penerapan IPR akan menguntungkan dan mendorong proses inovasi.  Dalam kasus obat untuk melawan AIDS, ternyata perlindungan melalui IPR telah meningkatkan dan harga obat sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat (terutama di Afrika yang membutuhkannya). Memang konsep IPR adalah konsep monopoli , yang akhirnya memberikan keuntungan yang besar bagi penemunya (terutama perusahaan pharmacheutical besar). Mengenai proteksi melalui IPR terhadap obat AIDS, gelombang demonstrasi telah terjadi di Rabat dan Paris pada Januari 2004, kemudian di Thailand sewaktu diselenggarakannya “15th International AIDS Conference” pada Juli 2004. Mengenai masalah obat ini kemudian muncul gerakan pemakaian obat generik. Hal yang mirip terjadi belum lama ini adalah disekitar obat melawan flu burung (Tamiflu). Negara-negara yang mengalami musibah harus membeli obat tersebut dengan harga mahal, walaupun strain yang diambil berasal dari negara mereka. Disisi lain juga negara pembuat obat lebih mengutamakan pengamanan supply bagi penduduk negaranya, sedangkan penduduk dari negara-negara yang terjangkit telah dinomer duakan atau diabaikan.

Dengan terbukanya lalulintas produk dan komoditi, serta rendahnya tenaga kerja dibeberapa negara berkembang, maka perusahaan dari negara-negara G-8 telah mengembangkan strategi untuk mempertahankan hegemoni teknologi dan industri. Mengambil keuntungan dari keadaan tersebut, perusahaan-perusahaan telah memperlebar supply chain nya dengan cara outsourcing. Memanfaatkan sumber-sumber murah (low cost) untuk proses produksi, pemilik proprietary technology terpaksa membagi menjadi komponen-komponen agar dapat dibuat dimana saja. Dengan konsep modular yang diterapkan dalam desiain dan produk, serta jasa. Dengan demikian pemilik teknologi masih dapat menguasai keunggulan teknologinya, walaupun desain dan produksi dilakukan dinegara-negara dengan tenaga kerja rendah.

Bersamaan dengan keberhasilan konsep modular dalam memanfaatkan global supply chain, maka pengetahuanpun semakin di-codified. Hal ini juga berlaku bagi pengetahuan yang telah berkembang dalam masyarakat (tacit knowledge). Dengan perkembangan tersebut serta didukung makin canggihnya digitalisasi dan komunikasi, akan memudahkan bagi negara-negara berkembang mendapatkan informasi terkini dari perkembangan teknologi.

Walaupun demikian globalisasi mengalir terus dengan derasnya, keterbukaan informasi telah menjadikan sebagian masyarakat kita hidup seperti dinegara maju lainnya, budaya internasional sudah menyusup kedalam kehidupan kita. Ditambah lagi dengan keberadaan perusahaan multinasional dan profesional asing yang ikut mempercepat proses perubahan budaya khususnya dikota-kota besar. Kehidupan kelas menengah atas dikota-kota besar kita sudah layaknya kehidupan dikota-kota besar dunia lainnya. Walaupun dalam beberapa hal hanya merupakan permukaan atau kehidupan yang maya atau imitasi.

Beberapa negara seperti China dan India telah berhasil (sebagian) dalam memanfaatkan liberalisasi perdagangan. Mereka berhasil dalam menata kembali kemampuan dan kekuatan mereka dalam SDM dan inovasi untuk menjadi pemain dunia. Oleh sebab itu banyak pemikirandan upaya  berkembang, untuk mencari bentuk Globalisasi yang lebih seimbang dan demokratis.

Yang menjadi masalah bagi kita adalah dimana kedudukan dan partisipasi bangsa kita dengan segala resourcenya untuk menjadi produsen komoditi dan jasa.

Kreatifitas dan Inovasi

Kreatifitas dan inovasi merupakan ujung tombak dalam menghadapi persaingan global yang berkembang dinamis. Kreatifitas dan inovasi dapat terjadi disemua lapisan masyarakat dan tidak tergantung tingkat pendidikan. Prakondisi yang penting untuk mendukung proses kreatifitas dan inovasi adalah tingginya tingkat kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat atau terhadap perubahan lingkungan.

Setiap perubahan, reformasi atau transformasi memerlukan penyesuaian. Kemampuaan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dinamakan daya adaptasi. Proses perubahan yang sedang kita hadapi baik secara global maupun dinegara kita masih berlangsung dengan laju yang (semakin) cepat. Dalam iklim yang penuh dengan kompetisi, dengan sendirinya akan terjadi proses seleksi. Individu, perusahaan, atau bangsa yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam menyesuaikan prilakunya terhadap perubahan, akan berhasil dalam seleksi tersebut. Konsep daya adaptasi lebih menekankan pada kemampuan menyesuaikan diri melalui learning process terhadap perubahan lingkungan.

Inovasi adalah sesuatu yang baru atau perbaikan penting. Merupakan hasil dari kreasi atau transformasi dari inventions, discoveries, ide, analisa, pengetahuan maupun data/informasi. Inovasi pada dasarnya bukan phenomena yang berdiri sendiri (autonomous). Inovasi dalam sehari-hari diartikan dalam dua pengertian. Yang pertama, diartikan sesuatu ide, atau obyek baru yang dimanfaatkan oleh seseorang atau masyarakat. Pengertian yang kedua adalah bukan produk atau ide, tetapi bagaimana sesuatu yang baru tersebut dapat terbentuk dan dimanfaatkan dalam masyarakat, jadi prosesnya. Daya inovasi adalah kemampuan individu atau masyarakat memanipulasi atau mengintervensi lingkungan menurut kepentingan individu atau masyarakat tersebut. Seperti sering dikatakan “innovation insome sense called forth or triggered in response to demands” atau lebih sering disebut market pull atau demand pull. Tetapi disisi lain kemampuan ilmu pengetahuan  dapat mempengaruhi proses inovasi dan disebut dengan “technical knowledge push” atau “technology push”. Tetapi dengan kemudahan mendapatkan informasi sekarang ini, khususnya dengan perkembangan ICT, maka “technology push” ini dapat dilakukan dengan lebih mudah dengan memanfaatkan sumber yang hampir tidak terbatas.

Terbentuknya inovasi merupakan proses yang kompleks, memanfaatkan hasil-hasil dari kegiatan teknologi. Inovasi teknologi berbentuk sesuatu yang baru, atau merupakan perbaikan penting baik berupa produk, proses maupun services.

Hasil inovasi teknologi – biasanya muncul dengan beberapa bentuk, seperti penemuan, desain, data-data baru, ataupun pengetahuan baru. Dari hasil-hasil tersebut bisa menghasilkan inovasi. Tidak semua inovasi memerlukan penemuan (invention) baru, kadang-kadang hanya merupakan perubahan-perubahan kecil belaka.

Penyebaran inovasi teknologi – disemua negara dan khususnya dinegara industri maju sangat tergantung dari beberapa faktor ekonomi, sosial dan politik dari sistem  lingkungan sosial-budaya masyarakatnya. Penyebaran tergantung dari kemampuan pemasaran, distribusi, penjualan, pelayanan purna jual dan cara pendanaan. Penyebaran dimulai dengan riset pasar dan prilaku pasar. Pertimbangan psikologis pembeli/pemakai perlu diperhatikan. Perlu diciptakannya trend setter atau opinion leader. Jangan dilupakan juga pengaruh status sosial dan budaya latah atau me2. Didalam budaya kontemporer barat, yang sangat mempengaruhi penyebaran inovasi teknologi, ialah pandangan “ingin yang baru”, “lebih besar” atau “lebih bagus”.  Oleh karenanya perusahaan menerapkan strategi “planned obsolescence” kedalam poduknya. Strategi “new” atau “improved” dilakukan. Selain itu penyebaran teknologi juga dipangaruhi oleh situasi politik didalam dan diluar negeri. Berbagai cara proteksi telah dilakukan. Beberapa negara „The Rest“ telah melakukan konsep cost innovation, untuk bisa mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju, serta memberikan keleluasaan kepada manajemen untuk mengambil keputusan

Kebutuhan masyarakat dengan image dan standar yang sama diseluruh dunia, menjadikan pasar lokal, regional, dan global jadi manyatu. Disisi lain, proses regionalisasi dan globalisasi, demokratisasi di Eropa Timur, serta krisis di Asia telah merubah landscape peran sumber teknologi di dunia.

Serta dengan tersedianya teknologi yang terbuka, karena paten sudah kedaluarsa, dan bertambahnya sdm yang kompeten, menempatkan beberapa negara yang dikatagorikan “The Rest” (negara industri diluar G 8) menjadi pemain penting dalam globalisasi (Korea, Taiwan, China, India). Desain modular, kodifikasi, outsourcing dan low cost production makin mempercepat berkembangnya peranan “The Rest”. Apakah “The Rest” akan tetap hanya menjadi produsen komponen atau tempat produksi yang murah?

Kasus China

Kita terkadang mendapatkan gambaran tentang industri China dari sisi yang negatif. Kwalitas rendah, diluar standar, lekas rusak, merusak kesehatan dan harga murah. Mungkin itu juga betul, dengan kasus-kasu yang terjadi dinegara kita. Motor China (Mocin) yang populer tahun 90an sudah menjadi besi rongsokan, baru-baru ini kita dikagetkan dengan permen, kosmetik, dan pasta gigi yang mengandung zat berbahaya. Tetapi disisi lain kita juga harus melihat keberhasilan industri China dalam menguasai pasar global.

China, dalam waktu dekat dapat tumbuh dari pusat produksi dengan low cost – low end technology, menjadi pesaing global dalam high end technology product, karena telah berhasil menciptakan iklim usaha dengan cost innovation, serta tersedianya “low cost pool of creative and competent engineers and scientist”. China berhasil menggabungkan kemampuan teknologi nasionalnya secara efisien dan bersaing.

Mereka bisa menciptakan kebijakan dan manajemen inovasi secara spektakuler. Pengelolaan proses inovasi dan bisnis dipisahkan sama sekali dari birokrasi, walaupun masih terus mendapatkan bantuan dan dukungan dari pemerintah. Bermunculannya entrepreneur baru yang dinamis dan didukung oleh sistem (termasuk perbankan) yang mendukung kelahiran start up company. Industri baja, peti kemas, harbour crane, ICT, tenaga listrik sudah mendominasi pasar global.

Tenaga kerja

China mempunyai keuntungan dengan tersedianya tenaga kerja murah, yang berasal dari daerah pertanian. Sejak beberapa tahun yang lalu 3 – 4 juta lulusan baru perguruan tinggi memasuki pasar. Jurusan favorit adalah yang paling dibutuhkan oleh industri dan perdagangan, seperti business administration, computer science, hukum, keuangan, komunikasi, dan kedokteran. Keadaan yang demikian bukan hanya dimanfaatkan oleh perusahaan nasional, melainkan juga oleh perusahaan asing lainnya. Selain rendahnya biaya tenaga kerja, perusahaan China juga dapat berinovasi dalam biaya (cost innovation) di seluruh proses produksi, sehingga menghasilkan produk dan jasa yang kompetitif.

Pemanfaatan teknologi

Dalam proses transformasi yang panjang dari ekonomi sentralistik menuju ekonomi pasar, perusahaan nasional diberi akses untuk memanfaatkan seluas-luasnya aset dan kekayaan intelektual (IP) yang dimiliki negara dengan biaya yang sangat rendah. Sehingga utilisasi aset negara menjadi lebih produktif melalui kombinasi dengan aset swasta dan pasar uang.

Contoh yang mengesankan adalah tumbuhnya Lenovo yang dimulai tahun 1984 sebagai perusahaan didalam Institute Computing Technologi (ICT) yang merupakan bagian dari Chinese Academy of Science. ICT memberikan pinjaman sebagai start up capital. Pada awalnya ruangan kerjapun diberikan oleh ICT, ilmuwan dan engineer yang bekerja untuk perusahaanpun pada awalnya masih tetap mendapat gaji dari negara. Hal ini dilakukan oleh pemerintah China dalam rangka reformasi  sistem IPTEK mereka. Lahirnya “Institute-run enterprise” (suoban gongsi) merupakan aplikasi konsep “state-own, non-governmet-run” atau “guonyou minying”. Pada awal transisi menuju ekonomi pasar yang diutamakan adalah memperbaiki alokasi sumber daya, yang dimasa lalu kurang dimanfaatkan. China memiliki dalam jumlah yang besar berbagai teknologi, pengetahuan dan kemampuan sebagai peninggalan sistem yang lama. Kemampuan tersebut tersebar diberbagai lembaga penelitian dan industri militer. Kemampuan inilah yang memungkinkan perusahaan China mebiayai inovasi.

Manajemen dengan otonomi

Sisi lain yang mendorong keberhasilan China adalah struktur perusahaan, dimana manajemen mempunyai kekuasaan yang lebih luas dibandingkan dengan perusahaan Amerika, Eropa, atau Indonesia. Pemisahaan tanggung jawab yang jelas antara shareholders dengan manajemen, memberiikan keleluasaan manajemen untuk mengadakan keputusan dengan risiko yang tinggi. Perusahaan China sekarang, bukan saja hanya meniru produk yang ada dipasar dengan teknologi yang sudah tersedia, melainkan sudah memanfaatkan teknologi mutakhir untuk membuat produk baru. Inilah yang mengancam industri-industri negara maju G-8.

CHINESE GLOBAL MARKET, 2005

PRODUCT % GLOBAL MARKET

 

TELEVISIONS SET 40

AIR CONDITIONERS 50

REFRIGERATORS 30

MICROWAVES 51

DIGITAL CAMERAS >50

MARINE CONTAINERS 70

LIGHTERS 70

CRANES 50

SEWING MACHINES 70

PERSONAL COMPUTERS 35

 

Source:Dragon at Your Door

Perusahaan China yang telah berhasil menjadi Global Player antara lain:

LENOVO – pembuat laptop computer, membeli bagian IBM yang memproduksi PC. Sehingga memungkinkan memasuki berbagai teknologi dan paten yang dimiliki IBM. Lenovo juga menjadi pemilik penuh dari merek  “Think”.

CHINA INTERNATIONAL MARINE CONTAINERS GROUP (CMIC) –  pembuat kontainer kapal, telah berhasil menyingkirkan pesaing-pesaingnya, dan pada tahun 1996 sudah menjadi no. 1 didunia. Membeli lisensi dan paten dari perusahaan Jerman. Mengadakan akuisisi beberapa perusahaan sejenis di Inggris.

SHANGHAI ZHENZUA PORT MACHINERY Co (ZPMC) – produsen marine cranes nomor 1 didunia.

THE PEARL RIVER PIANO GROUP – produsen piano yang makin menguat dipasar global. Meningkatkan disain dan kwalitas dengan cara memperkerjakan tenaga-tenaga ahli dari Eropa.

HAIER – produsen electric consumer durable. Dengan keberhasilan memasuki pasar Amerika melalui Wal-Mart terus menyesuaikan disain dan kwalitas sesuai permintaan pasar Amerika. Sekarang produk Haier sudah memasuki retail lainnya seperti Lowes, Best Buy, Home Depot, Target, Sears dan lainnya.

Perusahaan China tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan dana yang besar untuk memanfaatkan konsultan terkenal dari negara-negara maju. Misalnya Lenovo telah menyediakan dana sebesar USD 200 juta untuk brand building dan PR. Sebuah perusahaan China telah mengeluarkan USD 70 juta untuk membayar beberapa perusahaan ternama dunia untuk mengembangkan sistim manajemen. Perusahaan telepon seluler mempekerjakan tenaga ahli dari Korea.

 

Indonesia kedepan

Setelah krisis, kita mengalami disruptive technology development, penguasaan teknologi dalam usaha menciptakan kemandirian terasa mandeg. Memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi didunia, serta mengambil pelajaran dari beberapa negara “The Rest” yang telah berhasil, oleh sebab itu dalam menghadapi perkembangan global sudah saatnya kita mengkaji kembali kebijakan dan manejemen kreatifitas dan inovasi disemua tingkatan.

Konsep HKI

Sewaktu masalah HKI mencuat didalam hubungan global yang dikaitkan dengan rezim perdagangan bebas, kitapun menanganinya serius dengan dibentuknya Tim Kerja Hak Cipta/Keppres 34 pada tahun 1986.

Berbagai peraturan perundangan telah dibuat, dan yang ada diperbaiki serta disempurnakan. Terakhir penyempurnaan dilakukan pada tahun 2000, 2001, dan 2002, yang kesemuanya menyesuaikan dengan kesepakatan WTO – TRIPS.

Fokus penanganan HKI di Indonesia, dipengaruhi oleh tekanan globalisasi, dan terbawa oleh arus penegakkan hukumnya dan bukan pada upaya peningkatan kreatifitas dan inovasi untuk menghasilkan kekayaan intelektual. Kenyataan menunjukan bahwa pemahaman mengenai HKI sebagai hasil kratifitas dan inovasi masih berjalan ditempat.

Keadaan semacam ini menimbulkan pertanyaan, apakah pengelolaan HKI yang sekarang dilakukan di dalam lingkungan Departemen Hukum dan HAM sudah tepat?

Konsep perlindungan terhadap HKI pada dasarnya adalah memberikan hak monopoli, dan dengan hak monopoli ini, pemilik HKI dapat menikmati manfaat ekonomi dari kekayaan intelektual yang didapatnya. Perlu diakui bahwa konsep HKI yang kita anut berasal dari Barat, yaitu konsep yang didasarkan atas kemampuan individual dalam melakukan kegiatan untuk menghasilkan temuan (invention). Dalam perkembangannya, khususnya dalam bidang paten, dan dengan meningkatnya biaya penelitian dan biaya “memelihara” paten, maka peranan perusahaan besar semakin menonjol. Pemberian hak monopoli kepada individu dan perusahaan besar ini, sering bertentangan dengan kepentingan publik (obat, makanan, pertanian). Disamping itu, berbagai perundangan HKI pada kenyataannya tidak dapat melindungi pengetahuan dan kearifan tradisional (traditional knowledge and genius). Pengetahuan tradisional yang berkembang dinegara seperti Indonesia, berorientasi kepada komunitas, bukan individu. Sehingga masalah perlindungan pengetahuan tradisional yang muncul selalu harus diselesaikan secara khusus (obat, herbs, lingkungan hidup). Dimasukannya masalah HKI kedalam bagian dari GATT melalui TRIPS, menambah kesenjangan dalam pemanfaatan kekayaan intelektual antara negara maju dan negara industri baru/berkembang. Sudah saatnya bagi kita untuk memikirkan bagaimana caranya agar kepentingan nasional tetap diutamakan dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan teknologi.

Paten

PATEN selalu dikaitkan peran pentingnya terhadap perkembangan teknologi sebuah perusahaan. Hasil invention yang dipatenkan oleh sebuah perusahaan akan menempatkan posisi monopoli pada awal komersialisasi hasil penemuan tersebut. Jumlah paten yang didaftarkan oleh inventor dalam negeri, dipakai sebagai indikator kemampuan teknologi satu negara. Invention yang dapat dipatenkan dapat dihasilkan baik oleh perusahaan, lembaga-lembaga penelitian, ataupun perorangan. Pemberian hak paten untuk berbagai teknologi tradisional sampai sekarang masih belum tuntas dirumuskan dan konsep paten yang sekarang ini belum dapat mengakomodasikan perlindungan terhadap teknologi dan pengetahuan tradisional (batik, obat, herbs). Peranan paten sebagai indikator kemampuan teknologi dapat dicermati dalam INDIKATOR TEKNOLOGI 2006 yang baru saja dipublikasikan. Tentu perlu juga dicermati, berapa persen dari paten yang disetujui bisa dikomersialkan (belum tentu memberikan keuntungan). Menurut perundangan, paten yang didaftarkan di Indonesia, harus diimplementasikan juga di Indonesia. Apakah hal ini telah juga dilakukan oleh paten-paten yang didaftarkan oleh perusahaan asing? Jangan sampai perusahaan-perusahaan besar, terutama MNC, mempraktekan “blocking patent” yang merugikan.

Yang cukup menarik dari data dari INDIKATOR IPTEK 2006, bahwa hasil dari litbang diberbagai institusi, menunjukan peranan yang lebih besar dari “produk” sebagai hasil inovasi, dibandingkan dari paten. Komersialisasi hasil produk ini cukup tinggi, dan lembaga penelitian di departemen mempunyai peranan yang signifikan.

TRIPS

Dengan diadopsinya TRIPS kedalam sistem HKI kita, mau tidak mau masalah HKI kita juga memasuki konsep individualistik dan kapitalistik. TRIPS yang tadinya hanya ingin memberikan batas minimum terhadap HKI dinegara-negara anggota WTO, tapi kenyataannya didorong untuk mengadopsi standar yang tinggi. Hal inipun yang akhirnya menjadikan pengetahuan tradisional tidak mendapatkan proteksi melalui mekanisme TRIPS. Penyimpangan terhadap TRIPS oleh negara-negara berkembang sering dipakai oleh negara maju, khususnya AS, untuk menekan negara bekembang antara lain melalui ketentuan SUPER 301(Priority Watch List). Disisi lain kita menghadapi berbagai upaya dinegara maju untuk mempatenkan pengetahuan tradisional (yang sudah menjadi public domain)dari negara-negara tertentu. Keadaan demikian memerlukan uasaha bersama dan perjuangan.

Tekanan dari beberapa negara maju agar undang-undang HKI (yang berorientasi TRIPS) ditegakkan, memaksa pemerintah kita untuk lebih mengutamakan penegakkan hukumnya dari pada pembinaan penciptaan HKI. Laporan-laporan BSA mengenai pembajakan HKI (khususnya computer software), sering mendesak pemerintah mengadakan berbagai usaha untuk menanggulangi pembajakan. Tim yang dibentuk Menkeh-HAM tahun 2003, tidak membuahkan hasil, dan telah dianggap mandul menghadapi pembajakan yang terus semakin marak. Tekanan dari negara majupun terus bertambah. Sehingga pada tahun 2006, Tim Penenggulangan Pembajakan lainnya telah dibentuk dengan Keppres, dan tidak tanggung-tanggung diketuai oleh Menko Polhukam. Apakah Tim yang baru ini akan efektif dalam kerjanya? Apakah pembentukan Tim seperti itu adalah solusinya?

Dalam bidang computer software, beberapa orang pedagang software hasil bajakan telah ditangkap dan diadili, dan sekarang menjadi penghuni LP. Memang menjadi pertanyaan bagaimana dengan kedudukan pemakai software bajakan,  apakah mereka melanggar hukum? Apakah polisi yang melakukan pemeriksaan dan membuat BAP kasus software bajakan misalnya, benar tidak menggunakan software bajakan? Demikian juga jaksa yang melakukan penuntutan, dan panitera yang harus menulis keputusan pengadilan. Yang jelas software di LP Cipinang yang dipakai untuk mencatat narapidana (termasuk terpidana software bajakan) menggunakan perangkat komputer dengan software bajakan. Sebaiknya Tim Penanggulangan Pembajakan memfokuskan terlebih dahulu “operasinya” dijajaran penegak hukum dan pemerintah lainnya.

Mengatasi dominasi Microsoft dalam computer software, telah berkembang juga yang disebut Open Source System (OSS) seperti LINUX. Beberapa negara berkembang telah menerapkan pemakaian OSS untuk kegiatan diinstitusi publik. Indonesia telah mengembangkan OSS – “IGOS NUSANTARA”. Lembaga pemerintah mana yang telah menggunakan LINUX atau IGOS? LIPI atau BPPT? Perlu adanya kemauan politik untuk mengadakan terobosan ini. Hal ini memperkuat pandangan bahwa pengelolaan HKI di Departemen Hukum dan HAM kurang tepat.

Sistem Inovasi

Inovasi yang menghasilkan produk yang dapat dikomersialkan, bukan hanya merupakan pekerjaan individu, tetapi harus merupakan pekerjaan kelompok atau masyarakat tertentu. Kebutuhan kita tidak terbatas pada system pengelolaan HKI saja, tetapi juga terbentuknya Sistem Inovasi Nasional (SIN).  Sistem yang merupakan jejaring berbagai komponen pelaku (stakeholder) teknologi, yang dapat menjadikan hasil inovasi betul-betul meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berbagai konsep jejaring dalam “cluster” telah banyak dikembangkan dibeberapa negara, seperti Technopolis, Technology Park, Incubator dan Lembaga Litbang. Hanya dengan SIN yang efektif berbagai “start up company” yang berbasis teknologi dapat dikembangkan, dan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Didalam SIN ini tidak dapat diabaikan peranan seed capital. Sekarang ini dana pemerintah sangat terbatas yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ini, dan masih langkanya perorangan sebagai  “angle investor” yang ikut membiayai proses awal dari inovasi, mengakibatkan proses inovasi jadi terhambat dan lamban. Dengan ramainya implementasi konsep Corporate Social Responsibility (CSR) di perusahaan dan institusi publik, perlu mengkaitkan dan memanfaatkan konsep “filantropy” dana CSR ini sebagai seed capital dalam inovasi teknologi. Tidak kalah pentingnya adalah juga peranan Ventures Capital – Modal Ventura dalam proses komersialisasi hasil inovasi individu atau kelompok. Modal ventura yang diperlukan adalah dalam bentuk penyertaan modal, bukan merupakan pinjaman atau profit sharing, seperti yang banyak dilakukan perusahaan modal ventura sekarang ini.

Pemerintah dalam RPJM 2005 – 2009 telah menetapkan berbagai target dalam pembentukan perusahaan berbasis teknologi dan jumlah inkubator. Tanpa dirancangnya dan diterapkannya sebuah SIN, target-target tersebut hanya akan menjadi angka-angka dan daftar keinginan belaka.

Memperhatikan hal-hal diatas, maka diperlukan langkah-langkah “berani” yang perlu dilaksanakan saat ini antara lain adalah:

• Menjadikan hasil penelitian, hasil inovasi, paten dan HKI lainnya dari Lembaga-lembaga Penelitian baik pusat, daerah, departemen maupun BUMN menjadi milik publik dan terbuka untuk umum (compulsory licenses).

• Memperluas dan mengefektifkan berbagai jenis dan type inkubator teknologi dan bisnis. Dengan menyediakan Innovation Fund.

• Mengutamakan kreatifitas dan inovasi dengan teknologi yang tersedia.

• Menciptakan sistem pembiayaan (ventures capital) bagi “start up company”.

• Memberikan keleluasaan bagi manajemen perusahaan yang memanfaatkan teknologi dalam persaingan global untuk mengambil keputusan.

• Pemantapan Sistem Inovasi Nasional, yang mengutamakan kreatifitas dan inovasi.

• Memanfaatkan konsep modular dan outsourcing yang diterapkan oleh industri-indutri teknologi mutakhir.

• Indonesia harus menentukan bidang-bidang teknologi yang akan dijadikan unggulan.

Lembaga penelitian, lembaga pendidikan, BUMN dan dunia usaha (terutama perbankan) harus bersatu untuk secara terbuka menciptakan inovasi yang kompetitif. Perlu dikobarkan semangat “Indonesia Incorporated”, untuk masa depan bangsa kita.

Surabaya Juli 2007

Pustaka:

MING ZENG, PETER J.WILLIAMSON – “DRAGONS AT YOUR DOOR” (2007)

PETE ENGARDIO, EDS – “CHINDIA” (2007)

THOMAS L. FRIEDMAN – “THE WORLD IS FLAT” (2005)

RICHARD J.SAMUELS, WLLIAM W.KELLER, EDS – “CRISIS AND INNOVATION IN ASIAN TECHNOLOGY” (2003)

ALICE H.AMSDEN – “THE RISE OF  THE REST” (2001)

CLAYTON M.CHRISTENSEN, MICHAEL E.RAYNOR – “THE INNOVATOR’S SOLUTION” (2003)

CLAYTON M.CHRISTENSEN – “THE INNOVATOR’S DILEMMA” (1997)

JOSEPH STIGLITZ – “GLOBALIZATION AND ITS DISCONTENTS” (2002)

JOSEPH STIGLITZ – “MAKING GLOBALIZATION WORK” (2006)

PHILIP KOTLER, HERMAWAN KARTAJAYA, HOOI DEN HUAN – “THINK ASEAN” (2007)

RAHARDI RAMELAN – “TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT” (DRAFT BUKU)