DEKADENSI DAN PERAN BUDAYAWAN
Category : Opini
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2009-06-06 00:00:00
DEKADENSI DAN PERAN BUDAYAWAN
Rahardi Ramelan dan
Gading F Simorangkir
Warga Negara Biasa
Dekadensi tumbuh disana sini
Dekadensi melanda
Kehidupan kita
Oh oh oh (Chrisye: Dekadensi)
Menyimak tayangan salah satu stasiun TV baru-baru ini, dalam perdebatan antara anggota Tim Sukses tiga pasangan capres-cawapres, yaitu Ruhut Sitompul, Fuad Bawazir, dan Permadi, telah memberikan gambaran kepada masyarakat betapa sengitnya persaingan memperebutkan kedudukan presiden dan wakil presiden. Segala cara dihalalkan, batas etika berdebat dimuka publik sudah tidak eksis. Perdebatan yang mencerminkan kehausan akan kekuasaan, sehingga telah mendorong munculnya kemarahan diluar kontrol. Apakah itu cara menarik simpati masyarakat pemilih? Sungguh menyedihkan para elite politik telah menggambarkan dan mempresentasikan bahwa dekadensi telah semakin merambah kedalam kehidupan kita, termasuk kehidupan politik.
Masyarakat hanya bisa mengusap dada, atau menggerutu. Mempertanyakan kemana bangsa ini akan dibawa oleh pemimpin yang akan datang. Kita semakin khawatir dengan telah terjadinya degradasi nilai-nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Apakah masa depan bangsa dapat kita percayakan hanya kepada para elite politik.
Kegelisahaan dan kegundahan
Masyarakt umumnya sudah letih mendengarkan diskusi para elite politik. Segala sendi kehidupan kita sudah dipolitisasi. Tidak ada lagi ruang bebas dari politik, baik di rumah, kafe, lounge, maupun di mal. Tayangan debat politik di TV, tanpa kita sadari telah masuk ketempat tidur. Kios rokok kaki lima, dan warung tenda juga diguyur dengan berbagai analisa politik. Pemilu dan ambisi politik telah menjelma menjadi kekerasan, di kantor KPU, di gedung DPR, dan di jalan. Makna budayapun mulai tereduksi. Kehidupan harmonis dalam ikatan bhineka tunggal ika mulai robek, hanya demi kekuasaan.
Keadaan yang membuat kita miris, sudah lama disampaikan oleh para budayawan kita. Pujangga besar dan budayaman Sutan Takdir Alisyahbana, pada tahum 1980-an, mengatakan bahwa perasaannya dalam kesenduan yang mendalam. Dia dalam keadaan gelisah dan resah menyaksikan situasi kebudayaan waktu itu. Pada tahun 2000, dengan memaknai kegelisahan Sutan Takdir Alisyahbana, budayawan Taufik Abdullah menyatakan rasa getirnya: ? lihat saja pola prilaku para elite politik, yang dulu biasa disebut para pemimpin. Entah mengapa kini sedemikian mudahnya mereka tergelincir pada krisis saling-percaya?. Kegelisahan Sutan Takdir Alisyahbana dan kegetiran Taufik Abdullah, masih terus dirasakan sampai sekarang. Budayawan dan seniman telah sering mengekspresikan kekhawatirannya.
Maraknya ragam partai politik, lembaga swadaya masyarakat, dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya, walaupun positif untuk kehidupan demokrasi, tapi dapat ditengarai juga sebagai hilangnya kepercayaan (trust) antara kelompok-kelompok dalam masyarakat secara horisontal. Berbagai jenis keputusan pemimpin telah diterima dengan skeptis, dicemoohkan, ataupun ditolak. Masyarakat mulai kehilangan trust terhadap institusi publik. Melihat keadaan ini, kegundahan telah merasuk kedalam diri saya dan banyak angota masyarakat lainnya. Kegundahan terus mengguncang, mengamati berbagai kasus baru-baru ini, saling menuding dan menggeser tanggung jawab. Pemberitaan media dan pandangan kritis dituding memojokkan. Menghadapi situasi rawan dan mendesak, diperlukan keputusan pimpinan di strata yang paling atas, yaitu keputusan yang mengedepankan etika dan kepedulian sosial, bukan hanya didasari peraturan formal atau kompromi politik.
Sekarang saat yang tepat bagi calon pemimpin untuk menunjukan kebudayawanan serta kenagarawanannya. Disisi lain saatnya juga para budayawan untuk berbicara, menengahkan kesenduan, kekegelisahan, kegundahan dan kekhawatirannya. Serta saatnya juga para calon pemimpin bangsa untuk mendengarkannya. Budayawan dan pemuka agama harus meningkatkan perannya dalam mengawal norma-norma kehidupan yang bermoral dan berbudaya. Kita sudah tidak bisa membiarkan masyarakat dijejali dengan tayangan TV dan berita yang tidak mencerminkan kepribadaian bangsa kita.
Budayawan dan Revolusi
Kita dapat belajar dari sejarah, bagaimana Vaclav Havel, seorang seniman dan budayawan terkemuka Ceko, menjadi presiden dan pemimpin Cekoslowakia 1989-1992 dan menjadi presiden Ceko tahun 1993 ? 2003. Kemapanan ragawi dan politik yang terjadi di Cekoslowakia pada tahun 1970, serta tumbuhnya konsumerisme, telah membuat para seniman, budayawan dan pemuka agama menjadi risau. Merekalah, termasuk Vaclav Havel, yang memutuskan untuk mengadakan perbaikan melalui jalur non politik. Kemudian Charta 77, dibentuk tahun 1977, merupakan paguyuban yang didirikan oleh seniman, penulis buku, sutradara, budayawan, olahragawan, dan cendikiawan serta pemuka agama. Charta 77 memperjuangkan hak-hak moral dan hak azasi manusia secara terbuka, sehingga banyak anggota Charta 77 yang dipenjarakan, termasuk Vaclav Havel, dan sebagian melarikan keluar negeri. Perjuangan dengan berlandaskan moral dan HAM terus bergulir dan dilakukan oleh kelompok lainnya. Tetapi perubahan tetap tidak terjadi, malah muncul upaya defensif dari penguasa. Diawal bulan Nopember 1989, demontstrasi mahasiswa makin meluas dan membesar, menyadari akan keadaan tersebut, Vaclav Havel kemudian membentuk Civic Forum, yang dijadikan platform politik untuk bertindak sebagai oposisi. Civic Forum terus mendapatkan dukungan organisasi masa dan kelompok-kelompok lainnya, termasuk dari mantan anggota partai yang berkuasa. Vaclav Havel dan kawan-kawannya sepakat terus berjuang tanpa kekerasan dan non-partisan, untuk mementang rezim dan partai yang berkuasa. Gerakan reformasi yang dimulai oleh para mahasiswa dan didukung oleh cendikiawan, akhirnya memaksa Presiden Cekoslowakia pada waktu itu untuk mengundurkan diri pada tanggal 10 Desember 1989. Keberhasilan pergantian pimpinan kekuasaan melalui perjuangan moral, kemudian dinamakan Velvet Revolution ? Revolusi Beludru, dan telah menempatkan Vaclav Havel sebagai presiden.
Reformasi
Ada kesamaan, apa yang terjadi di Cekoslowakia pada tahun 1989 dan di Indonesia pada tahun 1998, yang dimulai oleh gerakan mahasiswa menuntut perubahan. Di Cekoslowakia gerakan mahasiswa mendapat dukungan penuh dari cendikiawan, seniman, budayawan, dan pemuka agama, yang berjuang berlandaskan moral dan HAM. Mereka mengadakan perubahan besar dalam ideologi negara. Vaclav Havel dan kawan-kawannya membutuhkan waktu 21 tahun, sampai gerakan moral bisa menjadi gerakan politik. Gerakan mahasiswa di Indonesia tahun 1998, yang menentang status quo Orde Baru dan menginginkan perubahan, ternyata hanya memberikan peluang bagi kekuatan politik diluar main stream untuk mengganti pimpinan nasional, tanpa adanya perubahan mendasar dalam kehidupan politik dengan para elitenya. Elie politik saat itu tidak memaknai arti gerakan mahasiswa yang sebenarnya, hanya melihat dari sisi yang menguntungkan dirinya, dengan dalih demokrasi.
Kita mengharap pimpinan dan wakil rakyat yang akan datang dapat melihat masalah moral dan budaya ini secara mendalam dan serius, serta memberikan iklim baru untuk masa depan negara dan bangsa. Janganlah dunia politik terlepas dari akar budaya, seperti apa yang disenandungkan Iwan Fals:
Dunia politik punya hukum sendiri
Colong sana colong sini atau colong colongan
Seperti orang nyolong mangga
Kalau nggak nyolong anggak asik (Asik nggak asik)
Sudah saatnya budayawan, seniman, dan pemuka agama untuk mengawal reformasi, agar berlangsung secara etis, bermoral, dan berbudaya, serta mencapai tujuannya.
Dimuat di Harian Republika tanggal 6 Juni 2009
Comments
|
Category |