BATIK

Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:59:09

BATIK

Hari-hari diawal bulan Oktober, merupakan hari-hari yang penuh dengan warna dan gairah nasionalisme. Dengan ditetapkannya batik sebagai Peninggalan Budaya bangsa Indonesia oleh Unesco pada tanggal 2 Oktober 2009 yang lalu, sepertinya telah memberikan energi baru, antusiasme, dan masa depan bagi dunia batik kita. ?Di mal sepertinya ada pesta, banyak yang menggunakan batik?, celetuk seorang pemuda yang menenteng komputer dan berkemeja batik. Beberapa perusahaan, terkasuk restoran, memberikan potongan harga bagi mereka yang memakai pakaian batik. Demikian juga beberapa taman hiburan.
Upaya untuk terus melestarikan batik sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia, telah lama dilakukan. Kantor dan sekolah sudah rutin mengharuskan untuk memakai batik seminggu sekali. Sejak Bang Ali menjadi gubernur DKI, batik lengan panjang bagi pria sudah dianggap pakaian resmi dan sejajar dengan memakai jas dan dasi. Batik dengan beragam corak dan kwalitas, telah dapat diterima dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Masalah yang timbul dan masih menjadi perdebatan adalah, apakah tekstil printing dengan motif batik dapat dikatagorikan sebagai batik.
Diharapkan dengan penetapan Unesco tersebut, akan membawa pengaruh kepada meningkatnya pemakaian batik, bukan saja batik tulis halus maupun kasar, melainkan juga batik cap. Para perancang busana telah bekerja keras dan berhasil menempatkan pakaian dari bahan batik ditengah masyarakat. Pengusaha batik makin bertambah dan berkembang. Tetapi bagaimana nasib pengrajin dan buruh batik? Di pelosok Bantul, Tasikmalaya, Pekalongan dan kota-kota lainnya para pengrajin dan buruh batik, masih terus mengerjakan batik untuk pesanan para pengusaha. Tetapi nasib mereka tidak bertambah baik seiring dengan membaiknya nasib para pengusaha batik. Masih ada dari mereka yang bekerja hanya dengan bayaran sekitar 50 ribu rupiah untuk menyelesaikan satu lembar batik. Ada yang bekerja dalam kelompok dan koperasi, atau bekerja diperusahaan sebagai buruh batik, tetapi ada juga yang bekerja dirumah sebagai pekerjaan sambilan. Mereka kebanyakan adalah kaum wanita.
Beberapa waktu yang lalu, para pengrajin batik dihadapkan pada kenyataan langkanya dan mahalnya minyak tanah. Dimana-mana bermunculan gagasan pemakaian jenis bahan bakar lainnya, seperti LPG, minyak jarak, maupun minyak nyamplung. Sampai kemanakan upaya-upaya ini? LPG sudah mulai dimanfaatkan bagi mereka yang bekerja berkelompok. Tetapi disisi lain semakin banyak pengrajin batik yang bekerja dirumah mempergunakan kembali kayu bakar atau sabut kelapa.
Momentum penetapan Unesco ini, harus dijadikan pemikiran dan upaya yang menyeluruh untuk per-batikan kita. Mulai dari pemanfaatan, pengembangan dan pelestariannya, meningkatkan kesejahteraan para pengrajin dan buruh batik, sampai pada masalah regenerasi pembatik. Batik tidak dapat terlepas dari ekonomi rakyat, sebab itu harus menjadi prioritas.
Semoga batik akan mendapatkan tempat yang terhormat dalam masyarakat kita dan masyarakat dunia. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 6 Okt 2009

Comments


Category


home  |  rss  |  login  |  Register