CELENGAN
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:58:16
CELENGAN
Seperti halnya setiap bulan puasa, tahun ini kita menyaksikan lebih banyak kuli sindang yang menunggu pekerjaan dibandingkan dengan biasanya. Mereka berkumpul di tempat strategis sekitar simpang jalan atau jembatan, tidak jauh dari proyek pembangunan jalan atau proyek gedung. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja bangunan dadakan atau musiman, tetapi ada juga yang menjalaninya sebagai profesi tetap. Meningkatnya jumlah kuli sindang kali ini, selain kebiasaan di bulan Ramadhan, tetapi juga disebabkan kemarau yang panjang, sehingga pekerjaan sebagai penggarap pertanian di pedesaan berkurang.
Kang Yatmin, asal Kuningan yang sudah mempunyai 9 cucu, sebelum menggeluti pekerjaan yang sekarang, semula juga mencari nafkah di Jakarta sebagai kuli sindang bersama keempat anaknya. Tetapi sejak lima tahun yang lalu, karena umur sudah bertambah, ia memilih profesi baru sebagai pedagang keliling celengan yang terbuat dari tanah liat.
Sudah sejak nenek moyang kita, tanah liat dipakai sebagai bahan baku untuk membuat berbagai peralatan dapur dan rumah tangga. Banyak desa-desa disekitar Kerawang dan Purwakarta menjadi pusat pembuatan gerabah ini. Kang Yatmin sendiri, mengkhususkan berjualan celengan dengan berbagai bentuk. Tempat menabung atau celengan yang terbuat dari tanah liat sangat diminati oleh anak-anak di kampung dan pedesaan, karena bentuknya yang beragam.
Entah mulai kapan dinamakan celengan. Bentuknya yang menyerupai babi atau celeng hampir tidak pernah terlihat lagi, banyak celengan dari tanah liat yang berbentuk binatang, terutama anjing dan ayam jago. Bentuk dan warnanya yang menarik, celengan dari gerabah ini bisa dimanfaatkan juga sebagai penghias ruangan. Kang Yatmin dengan bermodalkan pikulan dan keranjang, selalu belanja di pasar Kranggan, yang tidak jauh dari tempat kontrakannya. Bersama denga tiga orang kawan seprofesinya mereka menyewa kontrakan dengan membayar masing-masing 150 ribu rupiah setiap bulannya. Ia rata-rata mengambil keuntungan dari setiap dagangannya sekitar 10 ribu rupiah. Dari uasahanya ini ia mendapatkan keuntungan rata-rata 50 ribu rupiah setiap harinya. Kalau sudah terkumpul ia membawanuya pulang ke Kuningan.
Dalam bulan puasa dagangannya cukup laris, mungkin anak-anak banyak dianjurkan menabung untuk ?jajan? di Hari Raya. ?Tetapi sebentar lagi bakal sepi Pak, jadi saya sementara akan jadi kuli sindang lagi?, katanya sambil tersenyum. Bagi para pendatang dari daerah, Jakarta selalu menjadi tujuan untuk mencari penghidupan dan rejeki. Khusunya pada bulan puasa menjelang lebaran, banyak dermawan yang menyumbang makanan untuk berbuka puasa. Selain itu juga ada dermawan yang memberikan uang. ?Walaupun tidak ada pekerjaan, masih bisa berbuka puasa, dan sekedar mendapatkan uang?, ucapnya dengan raut muka yang tidak berubah. ?Saya tidak tahu, sampai kapan harus menjalani kehidupan seperti ini. Juga anak-anak saya?, katanya datar. Usahanya menyekolahkan anak-anaknya tidak banyak menghasilkan perubahan dalam kehidupannya. Semoga saja cucu-cucu kang Yatmin bisa menjalani hidup yang lebih baik. Kapan? Walahualam. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 15 Sept 2009