MALAYSIA LAGI......

Category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:56:50

MALAYSIA LAGI......

Lagi-lagi kta berhadapan dengan Malaysia, gara-gara tari Pendet dari Bali dan wayang kulit dijadikan bagian dari iklan pariwisata Malaysia yang ditayangkan TV internasional. Siapa yang tidak geram, Malaysia terus menerus membuat ulah seenaknya, mulai dari pengakuan batik dan reog Ponorogo sebagai bagian budaya mereka, sampai masalah pengakuan pulau Ambalat sebagai teritorinya.
Harus kita akui bahwa keadaan ekonomi mereka sekarang ini lebih baik dari kita. Sebab itu banyak tenaga kerja kita mencari nafkah di Malaysia. Tetapi juga kita mengetahui adanya masalah dengan TKW, dan TKI tanpa ijin atau ilegal. Keadaan demikian bukan berarti mereka bisa semena-mena terhadap kita. Bukan berarti juga bahwa kita tidak dapat tegas menghadapi mereka.
Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan Malaysia selalu membuat masalah dengan kita, baik masalah teritori maupun masalah budaya. Terkesan pemerintah tidak tegas menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan ini. Pertimbangan politik dan hubungan antar negara lebih diutamakan dari perasaan masyarakat. Khususnya dalam masalah budaya, yang terkait dengan HAKI, pernyataan para pejabat negara sering menunjukan ketidak pahaman mereka mengenai masalah yang sebenarnya dihadapi. Khususnya mengenai produk-produk tradisional, yang sudah menjadi milik umum, yang menjadi permasalahn bukan soal didaftarkan atau tidak, melainkan pengakuan dunia. Keris dan wayang kulit walupun telah mendapatkan pengakuan dunia, tetapi kita sendiri tidak memanfaatkannya untuk promosi bangsa dan negara kita. Pemerintah hanya bereaksi kalau negara lain telah memanfaatkan, seperti yang dilakukan oleh Malaysia baru-baru ini. Ataupun pemerintah berbuat sesuatu setelah didesak masyarakat.
Sudah saatnya masyarakat secara nyata menjunjung tinggi hasil ekspresi budaya bangsa sendiri. Serta memanfaatkannya dalam keseharian. Jauhkan kegemaran pemakaian bahasa asing untuk gedung, pemukiman, ataupun pemakaman. Banyak sekali nama-nama Indonesia yang dapat dimanfaatkan. Kita akan merasa bangga kalau berbagai motif batik dimanfaatkan Garuda Indonesia untuk mengecat pesawatnya. Atau gedung-gedung tinggi di kota-kota besar memanfaatkan nama gunung atau sungai.
Kita sudah tidak dapat lagi menerima pelecehan seperti sekarang ini. Kita jangan hanya ribut kalau sudah ada bangsa lain memanfaatkannya. Tidak cukup hanya menyatakan keberatan, protes atau demonstrasi. Sudah saatnya masyarakat bersama-sama menghargai budaya kita secara nyata. Bukan hanya sekadar harus mendaftarkan atau mendapatkan pengakuan. Mari kita mulai sekarang, sebelum ada pulau baru dan kreasi budaya kita diklain oleh Malaysia atau negara lainnya. Diharapkan juga pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara sungguh-sungguh menjunjung tinggi budaya kita dalam kehidupan sehari-hari, serta melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kekayaan intelektual kita secara nyata. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 1 Sept 2009

Comments


Category


home  |  rss  |  login  |  Register