BUNGA KEGEMBIRAAN DAN KESEDIHAN
Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:51:05
BUNGA KEGEMBIRAAN DAN KESEDIHAN
Penghuni planet bumi ini mempunyai penilaian yang sama akan makna bunga. Bunga dipakai untuk menyatakan perasaan seseorang baik dalam kesedihan maupun kegembiraan. Kita mengirimkan karangan bungan bagi yang sedang merayakan ulang tahun, perkawinan, naik pangkat, atau dipilih menjadi anggota DPR atau Presiden. Kita mengirimkan juga karangan bunga saat ada yang meninggal dunia, sakit dan melahirkan. Buga juga dikirimkan untuk yang kita cintai. Bunga merupakan ungkapan isi hati dan perasaan kita.
Di Jakarta dan sekitarnya terdapat ratusan mungkin ribuan pedagang perangkai bunga atau florist. Mulai kelas pinggir jalan sampai kelas hotel berbintang dan mal. Sebuah rangkaian bungan dihargai mulai puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Bisnis bunga ini semakin menggairahkan dan meluas.
Sudah 20 tahun Yatno, asal Prambanan-Yogyakarta, menggeluti usaha sebagai perangkai dan pedagang bunga. Dengan menempati sebagaian dari rumah kontrakannya di jalan Raya Pondoiok Gede, ia dibantu oleh istri dan seorang karyawannya, mencari rejeki untuk bisa membiayai penghidupannya dan biaya sekolah anaknya. ?Alhamdulillah, anak pertama sudah lulus S-1 dan bekerja sebagai PNS?, katanya gembira. Anaknya yang kedua, berumur 23 tahun, masih kuliah di Yogya.
Ditempat kerjanya dengan ukuran 3X3 meter, yang diberi nama Citra Florist, ia menjual berbagkai rangkaian bunga dengan harga antara 300 sampai 500 ribu rupiah. Tergantung jenis bunga yang dipilih. Selain itu ia juga melayani beberapa kantor dengan rangkaian bunga didalam pot dengan harga 35 ? 50 ribu setiap potnya. ?Sekarang agak sepi, pak. Mudah-mudahan sbentar lagi banyak pesanan untuk lebaran dan banyak anggota baru DPR dan DPRD. Menjelang berbagai hari raya, Yatno selalu kewalahan melayani pesanan. ?Kadang-kadang kita harus kerja sampai larut malam?.
Yatno yang berpendidikan SMP, demikian juga istrinya, dibantu seorang karyawan lulusan SMA, yang berasal dari Prambanan juga. Karyawannya mendapat upah borongan, untuk setiap rangkaian bunga mendapat 50 ribu rupiah, sedangkan untuk pot kecil sekitar 5 ribu rupiah, sehingga setiap bulan bisa membawa pulang rata-rata 600 ribu rupiah.
?Saya pulang ke Jawa, setahun sekali. Anak-anak sudah besar, dan disini bersama istri. Paling-paling kangen sama cucu?, sambil tersenyum. Yatno bersama istrinya merasa hidupnya cukup, dan merasa bahagia karena kedua anaknya berpendidikan perguruan tinggi. ?Semuanya berkah jualan bunga, dan rejeki dari Gusti Allah?, ucapnya serius. Ia tidak acuh sewaktu ditanyai mengenai masalah Pemilu dan Pilpres. ?Buat rakyat seperti kita, yang penting jangan ada kenaikan harga. Bisa repot dan penghasilan menurun?. Yatno, mewakili gambaran mayoritas rakyat kita yang sederhana dan hidup secukupnya. Bagi mereka yang penting adalah jaminan kesehatan dan garansi anaknya bisa sekolah. Siapapun presidennya bagi mereka bukan menjadi persoalan. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 4 Ag 2009