PENDAMPING MINUM ANGGUR

Category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:49:59

PENDAMPING MINUM ANGGUR

Mengaku sudah berumur 71 tahun, kakek asal Cirebon ini sejak tahun 2002 berjualan kerang ijo rebus. Mukanya yang masih kelihatan lebih muda dari umurnya, menjelaskan bahwa sebelumnya bekerja di pabrik garmen yang kemudian ditutup dan terkena PHK. Dengan pesangon seadanya ia harus menjalankan kehidupan keluarganya, membelanjai seorang istri dan seorang anak berumur 14 tahun, yang ditinggalkan di kampungnya.
Sejak meninggalkan kampungnya, pak Kang, tinggal di kawasan Cimanggis dengan menyewa kontrakan 200 ribu rupiah sebulannya. Setelah terkena PHK ia sempat bekerja serabutan, kemudian dengan modal 200 ribu rupiah ia mulai berjualan kerang ijo rebus. Dengan mempergunakan sebuah gerobak dorong, yang dilengkapi dengan dandang dan kompor minyak tanah, ia berjualan mulai pukul 2 siang dan biasnya sampai pukul 10 malam.
Setiap pagi ia membeli kerang di pasar sebanyak 15 kilo dengan harga 4000 rupiah satu kilonya. Kebanyakan ia mangkal di tempat yang ramai dengan gerobak jajanan lainnya. Ia merasakan bahwa setiap hari yang berjualan makanan terus bertambah dan semakin beragam. ?Kalo kerang ijo rebus, belum ada saingan pak. Alhamdulillah?, sambil tersenyum. Kerang rebus dijual 6000 rupiah untuk satu kilo, tetapi ia melayani juga mereka yang ingin membeli eceran. Selama ini dagangannya selalu habis, tetapi akhir-khir ini pasar sedang sepi. ?Sudah beberapa bulan ini sepi pak. Juga pedagang yang lain?, mungkin ia ingin menyebut bahwa terjadi krisis. Tetapi buat pak Kang tidak peduli apa yang terjadi, yang penting dagangannya laku. Ia pulang kampung sekali dalam 2 atau 3 bulan, tergantung dari jumlah uang yang dapat dikumpulkan. ?Kangen juga pak sama kampung dan yang dirumah?, dengan wajah yang sayu. Rata-rata setiap hari dapat disisihkan 30 ribu rupiah, yang dikumpulkan untuk dibawa pulang.
Setiap pagi sebelum kepasar, ia selalu mencari informasi lokasi hiburan malam. ?Kalau ada hiburan malam biasanya permintaan banyak, pak. Jadi saya harus menyiapkan lebih. Mumpung ada rejeki,? katanya santai. Apalagi kalau hiburannya dangdut atau band banyak anak muda yang meminati dagangannya. Biasanya pak Kang berdagang sampai larut malam menjelang pagi. ?Anak-anak banyak yang teler pak. Mulutnya sudah bau alkohol?, katanya sedih. Anak-anak muda ini saling berebutan membeli kerang rebus, walaupun membelinya dengan uang yang terbatas. Tetapi pak Kang tetap melayani, yang penting dagangannya segera habis. ?Kata mereka kerang ijo pas untuk menemani minum anggur dan bir?.
Pak Kang sempat mengeluh mahal dan sukarnya mendapatkan minyak tanah. Untuk memulai memakai LPG ia belum mempunyai cukup modal. ?Mudah-mudahan pemimpin yang akan datang memikirkan kita-kita, rakyat?, ucapnya dengan mata yang mulai merah karena kantuk.
Kita semua berharap para pemimpin jadi dewasa, tidak hanya mengurusi hasil pemilu dan pilpres, dan melupakan AMPERA ? Amanat Penderitaan Rakyat. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 21 Juli 2009

Comments


Category


home  |  rss  |  login  |  Register