1 2 3 > Last
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 05:05:02
JAJANAN SEHAT
Walaupun ia hanya tamatan SD, tetapi kedua anaknya telah lulus SMA. Pak Rono, asal Pemalang telah mengeluarkan uang sebesar 500 ribu rupiah untuk mengurus berbagai surat untuk kedua anaknya agar segera bisa mendapat pekerjaan. ?Sampai hari ini mereka masih menganggur. Kadang-kadang kita bingung, pak. Sekolah lama dan mahal akhirnya menganggur?, keluhnya.
Sudah sejak 27 tahun, Pak Rono tidak merubah profesinya dan tetap pada pekerjaannya semula. Berjualan jagung dan kedelai rebus, di Jakarta. Setiap hari ia berkeliling menjajakan jualannya mulai pukul 13 sampai pukul 22 malam. Setiap hari ia belanja jagung dan kedelai di Pasar Induk Kramat Jati. Ia memperkirakan harga gerobak yang ia pakai setiap hari, dengan berbagai peralatannya seperti kompor dan dandang, bernilai 1.750.000 rupiah. ?Sekarang semua barang naik harganya, saya harus menyediakan uang 150 ribu rupiah setiap harinya untuk belanja?, katanya sambil terus menyusun jagung dan kedelai yang sudah direbus sebelumnya. Setiap hari rata-rata ia dapat menjual 30 buah jagung dan 20 ikat kedelai rebus. ?Sekarang jagung saya hargai 1500 dan satu ikat kedelai 2000 rupiah?. Setiap hari hari pendapatanntya sekitar 220 ribu rupiah. Uang tersebut harus ia bagi dengan baik. Selain untuk modal, juga untuk tabungan dan sewa kontrakan.
Bersama seorang kawan sekampungnya, ia mengontrak rumah ukuran 3 X 3 meter, dengan sewa 200 ribu setiap bulan. Uang tabungannya ia bawa pulang ke Pemalang 3 bulan sekali. ?Saya masih mempunyai dua anak lainnya yang masih memerlukan biaya sekolah?, ujarnya dengan mata sayu. Pria yang sekarang berumur 49 tahun ini, merasa tidak mempunyai ketrampilan lainnya. Ia merasa puas dengan pekerjaannya sebagai penjual jagung rebus. Yang ia harapkan sekarang, hanya bagaimana kedua anaknya yang telah lulus SMA bisa segera bekerja.
?Mudah-mudahan tahun 2010 yang akan datang akan lebih baik, ya pak?, harapnya. Kemudian ia bercerita mengenai berbagai hal yang ia baca di koran dan lihat di tayangan TV. Dia hanya mengenal SBY, tapi siapa menteri yang seharusnya memikirkan kehidupan mereka, sama sekali tidak dikenalnya. ?Kasihan itu bu Prita pak. Saya ikut menyumbang koin untuk bisa membayar dendanya?, katanya tidak bersemangat. Ia pun mengeluhkan bagaimana mahalnya obat dan pelayanan kesehatan. Pak Rono sangat mengharap di tahun 2010 banyak perubahan di Indonesia.
Menjelang perayaan pergantian tahun, pak Rono telah memikirkan untuk menambah dagangannya. ?Setiap ada keramaian, buat saya berarti rejeki. Hasilnya bisa lebih dari dua kali?, matanyapun kelihatan bersinar. Setelah perayaan Tahun Baru, iapun merencanakan untuk pulang ke Pemalang. ?Sudah kangen, pak?.
Semoga harapan pak Rono bisa terkabul, dan kita semua Bangsa Indonesia dapat hidup lebih baik, tenang, bergairah, serta lebih berkwalitas.
SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU 2010. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 22 Des 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 05:03:56
KAMBING HITAM
Keributan cicak lawan buaya belum selesai, sudah muncul cerita baru mengenai ?markus? atau makelar kasus. Politisi, petinggi negara, dan ahli hukum akhirnya mengakui bahwa markus itu memang ada. Masyarakat sudah lama membicarakan adanya ?markus?, tetapi tidak pernah didengar. Betapa jauhnya antara mulut rakyat dengan telinga para petinggi kita. Semoga tidak ada kambing hitam yang dicari.
Tetapi, dimanapun keberadaan mulut rakyat, terutama para pelaku ekonomi rakyat, mereka harus makan. Demikian juga dengan Pak Mathoha, yang tinggal di Cileungsi harus mencari pekerjaan tambahan selain pekerjaan utamanya sebagai petani. Sejak tahun 1982 ia sudah dikenal sebagai ppembuat bedug, produknya dikenal luas di beberapa desa sekitar, sampai ke Jakarta, Bogor dan Bandung.
Dengan dibantu oleh seorang anaknya yang masih belajar di SMP, ia membuat bedug dengan memanfaatkan drum bekas dan kulit kambing. Di dalam ruang kerja yang berukuran 2 X 3 meter, berbagai peralatan tukang dan gunting tersedia. ?Sekarang pesanan sedang banyak, pak. Jadi saya harus bekerja keras?, katanya. Ayah dari tiga anak, pak Mathola yang hanya tamat SD, berusaha agar anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang lebh baik. ?Tetapi gimana ya pak, sekolah sampai SMP, ongkosnya mahal, tetapi pekerjaan tidak ada?, keluhnya. Kenyataannya, kedua anaknya yang sudah berkeluarga, terpaksa menjadi tukang ojek untuk bisa mendapat penghasilan menghidupi keluarganya.
Untuk sebuah bedug, ia memerlukan modal sekitar 100 ribu rupiah. Sudah termasuk membeli drum dan kulit kambing. Saat ini, menjelang hari Raya Idul Adha, ia sudah menyiapkan dana yang cukup untuk membeli kulit kambing. ?Sebentar lagi kulit kambing agak miring harganya, pak?. Ia sudah menghubungi beberapa mesjid yang biasanya mendapat banyak kambing kurban. Pak Mathoha hanya memilih kulit yang lebar dan bagus, tidak peduli apakah berasal dari kambing hitam, kambing hitam sungguhan. Setiap bedug bisa dijual dengan harga antara 300 sampai 350 ribu rupiah. Sedangkan anaknya yang ikut membantu pekerjaannya, mendapatkan 30 sampai 50 ribu rupiah untuk sebuah bedug. Bagi pak Mathoha, tambahan penghasilan dari pembuatan bedug, dapat mencukupi kehidupannya sebagai petani palawija.
?Mudah-mudahan semuanya aman ya, pak. Supaya banyak yang membeli bedug?, katanya lirih. Iapun kemudian bercerita mengenai masalah cicak dan buaya, ?markus? dan preman. ?Setiap hari ada saja yang meminta uang kesini pak. Resmi dan tidak resmi?, katanya dengan nada keras. Begitulah kehidupan masyarakatnya pak Mathoha, menghadapi segala ukuran buaya, biyawak dan toke. Mereka berharap penyelesaian perselisihan antara cicak dan buaya, juga meniadakan prilaku buaya kecil, biyawak, toke dan sejenisnya. Akhirnya ia berharap semua yang memesan bedug akan mengambil pesanannya serta membayar. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 24 Nop 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 05:00:24
PIK PULO GADUNG
Membicarakan ekonomi rakyat di Jakarta, kita tidak bisa terlepas dari Pulo Gadung. Sejak akhir tahun 80an, Jakarta memiliki Perkampungan Industri Kecil(PIK) di Cakung Jakarta Timur. Tetapi sekarang ini, masih adakah yang melirik keberadaan perkampungan industri kecil dengan lahan seluas 44 hektar, yang berlokasi berdampingan dengan Kawasan Industri Pulo Gadung.
Sekarang ini keadaannya sangat menyedihkan dan kumuh, tidak jelasnya cara pengelolaan. Sangat disayangkan lokasi yang berada didalam kota, yang semula bukan hanya dijadikan lokasi percontohan pemukiman industri kecil, juga dimaksudkan untuk tujuan wisata. Kemajuan kota Jakarta selama 20 tahun belakangan ini, sepertinya sama sekali tidak menyentuh PIK ini. Berbagai pusat perbelanjaan yang berkembang di Jakarta tidak ada hubungannnya dengan pemukiman industri ini. Adanya UKM Center di Tanah Abang, dan UKM Gallery di Gedung Smesco Jalan Gatot Subroto, sepertinya sama sekali tidak terkait dengan pengusaha industri kecil dari Pulo Gadung yang pernah menjadi kebanggaan Jakarta.
Bagi pengusaha industri kecil dari luar Jakarta seperti Krawang, Cirebon, Indramayu dan kota-kota lainnya, lebih mudah memasuki kota Jakarta dibandingkan dengan para penghuni PIK Pulo Gadung. Jalan masuk dan keluar kawasan tersebut sangat tidak layak bagi sebuah kawasan industri.
Menjadi pertanyaan bagi kita semua, terutama masyarakat Betawi, sejauh mana pemerintah DKI memikirkan peran industri kecil khususnya yang berada di PIK Pulo Gadung? Apakah lahan seluas 44 hektar ini akan dibiarkan menjadi kawasan kumuh dengan ketidak jelasan Rencana Tata Ruang(RT) dan Rencana Wilayahnya(RW). Dengan diijinkannya para penghuni PK Pulo Gadung, bukan saja menyewa melainkan membeli dan memiliki bangunan dan lahan yang mereka pakai, maka akan muncul masalah masa depan PIK tersebut. Pengalaman beberapa lingkungan industri kecil di tempat lain, menunjukan bahwa generasi penerus dari para pengusaha industri tersebut mempunyai kehidupan yang lain, sehingga yang terjadi, adalah kawasan tersebut sudah berubah fungsi. Berbeda dengan perkampungan industri kecil yang berkembang karena adanya tradisi dan budaya lokal sejak dulu, PIK Pulo Gadung adalah lingkungan yang diciptakan tanpa ada tradisi dan budaya.
Kawasan industri kecil lainnya di Jakarta dan sekitarnya telah tumbuh dan berkembang bersamaan dengan berkembangnya kota Jakarta. Ada yang merupakan bagian dari kawasan industri, tetapi ada juga yang berkembang di tempat terpisah. Industri-industri kecil tersebut jelas keterkaitannya dengan pasar dan industri menengah dan besar lainnya.
Sudah saatnya pemerintah DKI bersama pemerintah pusat, memikikan masa depan lahan seluas 44 hektar tersebut, memikirkan nasib para penghuni PIK Pulo Gadung. Jangan-jangan sudah ada pengembang yang melirik lahan strategis ini. Semua menaruh harapan kepada Bang Foke, dan siapapun yang menjadi Menteri UMKM, untuk berbuat sesuatu. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 20 Okt 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:59:09
BATIK
Hari-hari diawal bulan Oktober, merupakan hari-hari yang penuh dengan warna dan gairah nasionalisme. Dengan ditetapkannya batik sebagai Peninggalan Budaya bangsa Indonesia oleh Unesco pada tanggal 2 Oktober 2009 yang lalu, sepertinya telah memberikan energi baru, antusiasme, dan masa depan bagi dunia batik kita. ?Di mal sepertinya ada pesta, banyak yang menggunakan batik?, celetuk seorang pemuda yang menenteng komputer dan berkemeja batik. Beberapa perusahaan, terkasuk restoran, memberikan potongan harga bagi mereka yang memakai pakaian batik. Demikian juga beberapa taman hiburan.
Upaya untuk terus melestarikan batik sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia, telah lama dilakukan. Kantor dan sekolah sudah rutin mengharuskan untuk memakai batik seminggu sekali. Sejak Bang Ali menjadi gubernur DKI, batik lengan panjang bagi pria sudah dianggap pakaian resmi dan sejajar dengan memakai jas dan dasi. Batik dengan beragam corak dan kwalitas, telah dapat diterima dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Masalah yang timbul dan masih menjadi perdebatan adalah, apakah tekstil printing dengan motif batik dapat dikatagorikan sebagai batik.
Diharapkan dengan penetapan Unesco tersebut, akan membawa pengaruh kepada meningkatnya pemakaian batik, bukan saja batik tulis halus maupun kasar, melainkan juga batik cap. Para perancang busana telah bekerja keras dan berhasil menempatkan pakaian dari bahan batik ditengah masyarakat. Pengusaha batik makin bertambah dan berkembang. Tetapi bagaimana nasib pengrajin dan buruh batik? Di pelosok Bantul, Tasikmalaya, Pekalongan dan kota-kota lainnya para pengrajin dan buruh batik, masih terus mengerjakan batik untuk pesanan para pengusaha. Tetapi nasib mereka tidak bertambah baik seiring dengan membaiknya nasib para pengusaha batik. Masih ada dari mereka yang bekerja hanya dengan bayaran sekitar 50 ribu rupiah untuk menyelesaikan satu lembar batik. Ada yang bekerja dalam kelompok dan koperasi, atau bekerja diperusahaan sebagai buruh batik, tetapi ada juga yang bekerja dirumah sebagai pekerjaan sambilan. Mereka kebanyakan adalah kaum wanita.
Beberapa waktu yang lalu, para pengrajin batik dihadapkan pada kenyataan langkanya dan mahalnya minyak tanah. Dimana-mana bermunculan gagasan pemakaian jenis bahan bakar lainnya, seperti LPG, minyak jarak, maupun minyak nyamplung. Sampai kemanakan upaya-upaya ini? LPG sudah mulai dimanfaatkan bagi mereka yang bekerja berkelompok. Tetapi disisi lain semakin banyak pengrajin batik yang bekerja dirumah mempergunakan kembali kayu bakar atau sabut kelapa.
Momentum penetapan Unesco ini, harus dijadikan pemikiran dan upaya yang menyeluruh untuk per-batikan kita. Mulai dari pemanfaatan, pengembangan dan pelestariannya, meningkatkan kesejahteraan para pengrajin dan buruh batik, sampai pada masalah regenerasi pembatik. Batik tidak dapat terlepas dari ekonomi rakyat, sebab itu harus menjadi prioritas.
Semoga batik akan mendapatkan tempat yang terhormat dalam masyarakat kita dan masyarakat dunia. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 6 Okt 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:58:16
CELENGAN
Seperti halnya setiap bulan puasa, tahun ini kita menyaksikan lebih banyak kuli sindang yang menunggu pekerjaan dibandingkan dengan biasanya. Mereka berkumpul di tempat strategis sekitar simpang jalan atau jembatan, tidak jauh dari proyek pembangunan jalan atau proyek gedung. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja bangunan dadakan atau musiman, tetapi ada juga yang menjalaninya sebagai profesi tetap. Meningkatnya jumlah kuli sindang kali ini, selain kebiasaan di bulan Ramadhan, tetapi juga disebabkan kemarau yang panjang, sehingga pekerjaan sebagai penggarap pertanian di pedesaan berkurang.
Kang Yatmin, asal Kuningan yang sudah mempunyai 9 cucu, sebelum menggeluti pekerjaan yang sekarang, semula juga mencari nafkah di Jakarta sebagai kuli sindang bersama keempat anaknya. Tetapi sejak lima tahun yang lalu, karena umur sudah bertambah, ia memilih profesi baru sebagai pedagang keliling celengan yang terbuat dari tanah liat.
Sudah sejak nenek moyang kita, tanah liat dipakai sebagai bahan baku untuk membuat berbagai peralatan dapur dan rumah tangga. Banyak desa-desa disekitar Kerawang dan Purwakarta menjadi pusat pembuatan gerabah ini. Kang Yatmin sendiri, mengkhususkan berjualan celengan dengan berbagai bentuk. Tempat menabung atau celengan yang terbuat dari tanah liat sangat diminati oleh anak-anak di kampung dan pedesaan, karena bentuknya yang beragam.
Entah mulai kapan dinamakan celengan. Bentuknya yang menyerupai babi atau celeng hampir tidak pernah terlihat lagi, banyak celengan dari tanah liat yang berbentuk binatang, terutama anjing dan ayam jago. Bentuk dan warnanya yang menarik, celengan dari gerabah ini bisa dimanfaatkan juga sebagai penghias ruangan. Kang Yatmin dengan bermodalkan pikulan dan keranjang, selalu belanja di pasar Kranggan, yang tidak jauh dari tempat kontrakannya. Bersama denga tiga orang kawan seprofesinya mereka menyewa kontrakan dengan membayar masing-masing 150 ribu rupiah setiap bulannya. Ia rata-rata mengambil keuntungan dari setiap dagangannya sekitar 10 ribu rupiah. Dari uasahanya ini ia mendapatkan keuntungan rata-rata 50 ribu rupiah setiap harinya. Kalau sudah terkumpul ia membawanuya pulang ke Kuningan.
Dalam bulan puasa dagangannya cukup laris, mungkin anak-anak banyak dianjurkan menabung untuk ?jajan? di Hari Raya. ?Tetapi sebentar lagi bakal sepi Pak, jadi saya sementara akan jadi kuli sindang lagi?, katanya sambil tersenyum. Bagi para pendatang dari daerah, Jakarta selalu menjadi tujuan untuk mencari penghidupan dan rejeki. Khusunya pada bulan puasa menjelang lebaran, banyak dermawan yang menyumbang makanan untuk berbuka puasa. Selain itu juga ada dermawan yang memberikan uang. ?Walaupun tidak ada pekerjaan, masih bisa berbuka puasa, dan sekedar mendapatkan uang?, ucapnya dengan raut muka yang tidak berubah. ?Saya tidak tahu, sampai kapan harus menjalani kehidupan seperti ini. Juga anak-anak saya?, katanya datar. Usahanya menyekolahkan anak-anaknya tidak banyak menghasilkan perubahan dalam kehidupannya. Semoga saja cucu-cucu kang Yatmin bisa menjalani hidup yang lebih baik. Kapan? Walahualam. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 15 Sept 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:55:35
WAKIL RAKYAT LUPA . . . . .
Rasa kecewa, sedih, marah dan jengkel merasuk kesebagian masyarakat Indonesia yang menyaksikan tayangan TV atau membaca berita bahwa Dewan Perwakilan Rakyat lupa mengumandangkan lagu Kebangsaan Indonesia Raya diawal Pidato Kenegaraan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus.
Apakah rasa kebangsaan para elite politik di DPR sudah pudar? Tidak seorangpun, terutama Ketua DPR bersama anggotanya, berani mengadakan interupsi bahwa ada sesuatu yang terlupakan. Bukan hanya terlupakan, melainkan menghilangkan kesakralan sebuah pidato kenegaraan. Biasanya sidang-sidang DPR dipenuhi dan diramaikan oleh interupsi yang kadang-kadang tidak banyak berarti. Apakah para politisi kita menganggap mengumandangkan lagu Kebangsaan Indonesia Raya diawal sidang paripurna DPR hanya sekedar kebiasaan? Sebuah peristiwa yang menggambarkan kedangkalan jiwa berbangsa. Tidak berani mengadakan koreksi walaupun mungkin mereka mengetahui atau merasakan adanya kejanggalan. Takut atau masa bodoh. Yang disalahkan MC atau perangkat Sekretariat Jendral DPR, seperti biasa prilaku pimpinan yang mencari kambing hitam. Sudah dapat diduga.
Kita semua sadar dan merasakan dengan mengumandangkan lagu Kebangsaan, bisa menggetarkan jantung dan mendorong semangat kita sebagai bangsa. Indonesia Raya telah menjiwai perjuangan kita, menyatukan bangsa ini, menggetarkan jiwa dan sanubari kita, mengobarkan semangat, bukan hanya sebagai lagu yang dinyanyikan atau dihafal. Apakah para anggota DPR terhormat yang sudah akan mengakhiri masanya, sudah tidak fokus dan menjadi pelupa? Atau menunggu instruksi Ketua Fraksi atau arahan partai?
Lagu Kebangsaan selalu dikumandangkan dalam peristiwa atau acara yang memberikan dorongan berjuang dan memberikan penghormatan. Sebelum pertandingan tinju, atau pembagian medali bagi pemenang sebuah pertandingan olahraga selalu diiringi lagu kebangsaaan. Tidak pernah ada yang lupa!!! Indonesia Raya juga mengiringi berbagai demonstrasi di negara kita, mereka mengingatkan akan tujuan kemerdekaan bangsa ini. Mengingatkan para penguasa jangan hanya mengikuti peraturan yang sudah ada, walaupun mereka sadar bahwa itu keliru. Keliru karena tidak memperjuangkan hak rakyat. Hak rakyat untuk mendapat kesejahteraan dan hak bangsa yang paling utama yaitu kemerdekaan. Itulah esensi perjuangan yang masih terus harus dikobarkan.
Semoga kejadian di Sidang Paripurna DPR, yang dihadiri para Duta Besar, ditayangkan diseluruh tanah air, direkam oleh berbagai media, kejadian yang akan dapat ditelusuri hingga ratusan tahun yang akan datang, tidak akan terulang. Semoga para politisi kita, terutama wakil rakyat di DPR, janganlah dikendalikan oleh acara, peraturan atau MC semata kalau mengetahui dan menyadari bahwa itu bertentangan dengan tugasnya membela dan mempertahankan kepentingan rakyat, negara dan bangsa. Semoga para anggota DPR yang akan datang tidak lupa bahwa mereka adalah wakil rakyat dan wakil bangsa..
......INDONESIA RAYA MERDEKA MERDEKA HIDUPLAH INDONESIA RAYA.........
MERDEKA!MERDEKA! DIRGAHAYU KEMERDEKAAN NEGARAKU YANG KE 64. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 18 Ag 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:51:05
BUNGA KEGEMBIRAAN DAN KESEDIHAN
Penghuni planet bumi ini mempunyai penilaian yang sama akan makna bunga. Bunga dipakai untuk menyatakan perasaan seseorang baik dalam kesedihan maupun kegembiraan. Kita mengirimkan karangan bungan bagi yang sedang merayakan ulang tahun, perkawinan, naik pangkat, atau dipilih menjadi anggota DPR atau Presiden. Kita mengirimkan juga karangan bunga saat ada yang meninggal dunia, sakit dan melahirkan. Buga juga dikirimkan untuk yang kita cintai. Bunga merupakan ungkapan isi hati dan perasaan kita.
Di Jakarta dan sekitarnya terdapat ratusan mungkin ribuan pedagang perangkai bunga atau florist. Mulai kelas pinggir jalan sampai kelas hotel berbintang dan mal. Sebuah rangkaian bungan dihargai mulai puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Bisnis bunga ini semakin menggairahkan dan meluas.
Sudah 20 tahun Yatno, asal Prambanan-Yogyakarta, menggeluti usaha sebagai perangkai dan pedagang bunga. Dengan menempati sebagaian dari rumah kontrakannya di jalan Raya Pondoiok Gede, ia dibantu oleh istri dan seorang karyawannya, mencari rejeki untuk bisa membiayai penghidupannya dan biaya sekolah anaknya. ?Alhamdulillah, anak pertama sudah lulus S-1 dan bekerja sebagai PNS?, katanya gembira. Anaknya yang kedua, berumur 23 tahun, masih kuliah di Yogya.
Ditempat kerjanya dengan ukuran 3X3 meter, yang diberi nama Citra Florist, ia menjual berbagkai rangkaian bunga dengan harga antara 300 sampai 500 ribu rupiah. Tergantung jenis bunga yang dipilih. Selain itu ia juga melayani beberapa kantor dengan rangkaian bunga didalam pot dengan harga 35 ? 50 ribu setiap potnya. ?Sekarang agak sepi, pak. Mudah-mudahan sbentar lagi banyak pesanan untuk lebaran dan banyak anggota baru DPR dan DPRD. Menjelang berbagai hari raya, Yatno selalu kewalahan melayani pesanan. ?Kadang-kadang kita harus kerja sampai larut malam?.
Yatno yang berpendidikan SMP, demikian juga istrinya, dibantu seorang karyawan lulusan SMA, yang berasal dari Prambanan juga. Karyawannya mendapat upah borongan, untuk setiap rangkaian bunga mendapat 50 ribu rupiah, sedangkan untuk pot kecil sekitar 5 ribu rupiah, sehingga setiap bulan bisa membawa pulang rata-rata 600 ribu rupiah.
?Saya pulang ke Jawa, setahun sekali. Anak-anak sudah besar, dan disini bersama istri. Paling-paling kangen sama cucu?, sambil tersenyum. Yatno bersama istrinya merasa hidupnya cukup, dan merasa bahagia karena kedua anaknya berpendidikan perguruan tinggi. ?Semuanya berkah jualan bunga, dan rejeki dari Gusti Allah?, ucapnya serius. Ia tidak acuh sewaktu ditanyai mengenai masalah Pemilu dan Pilpres. ?Buat rakyat seperti kita, yang penting jangan ada kenaikan harga. Bisa repot dan penghasilan menurun?. Yatno, mewakili gambaran mayoritas rakyat kita yang sederhana dan hidup secukupnya. Bagi mereka yang penting adalah jaminan kesehatan dan garansi anaknya bisa sekolah. Siapapun presidennya bagi mereka bukan menjadi persoalan. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 4 Ag 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:49:59
PENDAMPING MINUM ANGGUR
Mengaku sudah berumur 71 tahun, kakek asal Cirebon ini sejak tahun 2002 berjualan kerang ijo rebus. Mukanya yang masih kelihatan lebih muda dari umurnya, menjelaskan bahwa sebelumnya bekerja di pabrik garmen yang kemudian ditutup dan terkena PHK. Dengan pesangon seadanya ia harus menjalankan kehidupan keluarganya, membelanjai seorang istri dan seorang anak berumur 14 tahun, yang ditinggalkan di kampungnya.
Sejak meninggalkan kampungnya, pak Kang, tinggal di kawasan Cimanggis dengan menyewa kontrakan 200 ribu rupiah sebulannya. Setelah terkena PHK ia sempat bekerja serabutan, kemudian dengan modal 200 ribu rupiah ia mulai berjualan kerang ijo rebus. Dengan mempergunakan sebuah gerobak dorong, yang dilengkapi dengan dandang dan kompor minyak tanah, ia berjualan mulai pukul 2 siang dan biasnya sampai pukul 10 malam.
Setiap pagi ia membeli kerang di pasar sebanyak 15 kilo dengan harga 4000 rupiah satu kilonya. Kebanyakan ia mangkal di tempat yang ramai dengan gerobak jajanan lainnya. Ia merasakan bahwa setiap hari yang berjualan makanan terus bertambah dan semakin beragam. ?Kalo kerang ijo rebus, belum ada saingan pak. Alhamdulillah?, sambil tersenyum. Kerang rebus dijual 6000 rupiah untuk satu kilo, tetapi ia melayani juga mereka yang ingin membeli eceran. Selama ini dagangannya selalu habis, tetapi akhir-khir ini pasar sedang sepi. ?Sudah beberapa bulan ini sepi pak. Juga pedagang yang lain?, mungkin ia ingin menyebut bahwa terjadi krisis. Tetapi buat pak Kang tidak peduli apa yang terjadi, yang penting dagangannya laku. Ia pulang kampung sekali dalam 2 atau 3 bulan, tergantung dari jumlah uang yang dapat dikumpulkan. ?Kangen juga pak sama kampung dan yang dirumah?, dengan wajah yang sayu. Rata-rata setiap hari dapat disisihkan 30 ribu rupiah, yang dikumpulkan untuk dibawa pulang.
Setiap pagi sebelum kepasar, ia selalu mencari informasi lokasi hiburan malam. ?Kalau ada hiburan malam biasanya permintaan banyak, pak. Jadi saya harus menyiapkan lebih. Mumpung ada rejeki,? katanya santai. Apalagi kalau hiburannya dangdut atau band banyak anak muda yang meminati dagangannya. Biasanya pak Kang berdagang sampai larut malam menjelang pagi. ?Anak-anak banyak yang teler pak. Mulutnya sudah bau alkohol?, katanya sedih. Anak-anak muda ini saling berebutan membeli kerang rebus, walaupun membelinya dengan uang yang terbatas. Tetapi pak Kang tetap melayani, yang penting dagangannya segera habis. ?Kata mereka kerang ijo pas untuk menemani minum anggur dan bir?.
Pak Kang sempat mengeluh mahal dan sukarnya mendapatkan minyak tanah. Untuk memulai memakai LPG ia belum mempunyai cukup modal. ?Mudah-mudahan pemimpin yang akan datang memikirkan kita-kita, rakyat?, ucapnya dengan mata yang mulai merah karena kantuk.
Kita semua berharap para pemimpin jadi dewasa, tidak hanya mengurusi hasil pemilu dan pilpres, dan melupakan AMPERA ? Amanat Penderitaan Rakyat. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 21 Juli 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:48:23
KULINER KELILING
Banyak yang mengatakan sekarang ini sedang krisis. Tetapi kta amati, mal dan pusat belanja terus dipadati pengunjung. Jam-jam tertentu, restoran, warung, rumah makan, kafe, dan food court atau pujasera, dipenuhi mereka yang tidak sempat pulang untuk makan, atau sengaja mencari makan diluar. Terutama saat ini semua tempat makan semakin ramai, dipadati anak-anak sekolah yang sedang libur.
Tayangan TV dan informasi di media mengenai makanan semakin sering kita jumpai. Sudah menjadi trend sekarang ini yang dinamakan wisata kuliner. Masyarakat berwisata mencari makanan khas dan baru. Lokasi dimanapun sudah tidak terlalu menjadi halanagan. Berbagai jenis makananpun bermunculan, ada mie yang memakai spagethi, rujak eskrim, atau nasi bakar. Makanan tradisionalpun mengalami perubahan dan pembaharuan. Kombinasi berbagai jenis makanan dari beberapa negara dan daerah, banyak kita temukan, disebut fusion.
Selain wisata kuliner, juga penjual makanan keliling atau yang mangkal dengan gerobak, sepeda motor dan mobil, semakin bertambah dan bervariasi. Berjualan makanan ini masih merupakan penghasilan yang lumayan bagi pelaku ekonomi rakyat. Demikianlah yang dilakukan pak Didin, pria tamatan SD asal Garut, yang sudah 4 tahun ini berubah profesi sebagai pedagang keliling makanan. Sebelumnya, pria berumur 40 tahun, yang sudah beristri, berjualan asesoris kebutuhan wanita dengan berkeliling. Ketika usahanya menurun, maka ia merubah dagangannya, menyesuaikan selera masyarakat.
Pak Didin, yang meninggalkan ketiga anaknya di Garut, pada tahun 2005 menyisihkan uangnya 300 ribu rupiah untuk membeli berbagai peralatan untuk memulai membuat dan menjual pindang bandeng dan tongkol. Setiap hari ia membeli ikan tongkol dan bandeng di pasar. Perkilonya sekarang rata-rata 12 ribu, dan ia dapat menghabiskan sampai 5 kilo setiap hati. Bersama istrinya, yang lulusan SMP, ia memasak ikan tersebut menjadi pindang. Semua persiapannya ia lakukan dirumahnya yang disewa dengan biaya 200 ribu rupiah setiap bulannya. ?Untungnya tidak banyak, pak. Tapi rejeki tetap saja ada?, ucapnya dengan nada gembira. Dengan raut mukanya yang nampak lebih tua, ia setiap hari berkeliling dibeberapa komplek pemukiman. Setiap hari pak Didin bisa menyisihkan penghasilannya sekitar 50 ribu rupiah, dan diserahkan seluruhnya kepada istrinya.
Pak Didin setiap bulan masih harus mengirim uang ke Garut untuk membiayai dua anaknya yang masih sekolah di SMP dan SD. ?Anak saya yang besar sudah berkeluarga. Tinggal yang dua ini yang masih harus dibiayai?, sambil menerawang jauh. Hari itu ia kelihatan gembira, karena ada ibu yang baru saja memborong pindang tongkolnya. ?Jadi saya tidak usah keliling lagi, pak?. Kemudian iapun berceritra mengenai hidupnya, dan harapan dimasa mendatang, harapan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya.
Apakah para pelaku ekonomi rakyat seperti pak Didin dengan berbagai harapannya ini, tersentuh oleh pemikiran para capres-cawapres? Bagaimana nasib anak-anaknya setelah 2014, 2019, dan 2024?(rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 7 Juli 2009
category : CULTURE/BUDAYA
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:46:44
ROTI PANGGANG 1000 RASA
Lulus dan memiliki ijazah SMP bukan garansi bagi banyak anggota masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan. Demikianlah yang dialami oleh Taslimin, setelah tamat SMP, ia meninggalkan desanya dari Tegal, pergi merantau ke Jakarta mengadu nasib. Setelah berbulan-bulan tidak bisa mendapatkan pekerjaan, kemudian iapun terpaksa menjadi kuli serabutan. Untungnya pekerjaan menjadi kulipun tidak berlangsung terlalu lama. Taslimin kemudian memulai usaha sendiri. Diawali sebagai penjual roti keliling dan akhirnya menjadi tukang penjual bakso. Tetapi penghasilannyapun masih terbatas dan pas-pasan. Bagi Taslimin menjadi penjual keliling, dirasakan upayanya belum maksimal Sebab itu sejak 5 tahun yang lalu ia memulai usaha baru sebagai penjual roti panggang. ?Saya memilih roti panggang, setelah memperhatikan pedagang lain?.
Selama bekerja serabutan, ia dapat menabung, dan dengan uang tabungannya dapat membeli gerobak dan berbagai peralatan seharga 2 juta rupiah, untuk usaha barunya sebagai pedagang roti panggang. Setelah mengamati sekeliling, ia memilih tempat mangkal di emperan ruko yang dipakai sebagai Kantor Notaris dan Klinik Dokter. Menempati plataran berukuran 3X4 meter, ia harus membayar kepada pengelola ruko 50 ribu rupiah perbulan, sedangkan untuk listrik 20 ribu.
Dengan memanfaatkan gerobak yang beretalase kaca, ia menyiapkan dagangannya setiap hari. Mempergunakan kompor gas dengan tabung 3 kg, dan penggorengan datar, Taslimin memanggang roti dengan selera bumbu sesuai permintaan pelanggan. Setiap hari ia membelanjakan uang antara 100 sampai 150 ribu rupiah, untuk membeli roti, bermacam rasa sele, beragam rasa bumbu masak yang sudah jadi. Roti panggang dengan bermacam rasa itu, ia jual dengan harga 7 ribu rupiah. Untuk menambah penghasilannya, iapun menjual keripik singkong yang ia beli dari pasar. Keripik singkong ia beli seharga 50 ribu rupiah untuk satu bal, empat kilogram; kemudian di bungkus dalam plastik kecil menjadi 30 bungkus dan dijual dengan harga 3 ribu rupiah. Tabung gas 3 kg, bisa dipakai untuk satu minggu.
Dari usahanya ini, pemuda yang sudah beristeri ini, mendapatkan penghasilan bersih antara 40 sampai 50 ribu rupiah. ?Sebagian uangnya harus saya sisihkan untuk membayar kontrak rumah. Dua juta untuk satu tahun?, katanya tenang. Iapun masih harus menyisihkan untuk keperluan mendadak, seperti sakit atau pulang kampung.
?Sekarang ini masih banyak hujan, penghasilan sayapun lumayan?, sambil mengemasi dagangannya. Kemudian iapun menceritakan pengalamannya baik yang manis, maupun yang pahit. ?Mudah-mudahan presiden yang akan datang, akan lebih memperhatikan kehidupan kita-kita ini, ya pak?, katanya sambil menunjuk keliling, dimana PKL menjual berbagai ragam makanan dan jajanan. Dan apakah lulusan SMP masih harus terus bekerja serabutan atau menjadi PKL?.(rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 23 Juni 2009
1 2 3 > Last |
Category |