category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 05:02:42
CICAK DAN BUAYA
Akhir-akhir ini masyarakat banyak meributkan soal cicak lawan buaya. Terlalu banyak kiasan yang dipakai oleh para petinggi kita. Kenapa sih tidak terang-terangan saja dan tunjuk hidung, agar sesuatunya jadi lebih jelas dan selesai. Atau memang politik harus selalu gelap atau remang-remang, walaupun masyarakat mengetahui siapa yang dimaksud.
Yang jelas cicak banyak berkeliaran dirumah dan gedung, walaupun kadang-kadang kotorannya menyebalkan, tetapi keberadaannya diperlukan untuk membasmi serangga terutama nyamuk. Cicak sama sekali tidak mengganggu kehidupan kita, para pelaku ekonomi rakyat tidak pernah berurusan dengan cicak. Makanan cicak hanya yang besar dan lezat. Nyali dan seleranya besar, bukan hanya buaya yang diserangnya, melainkan semua pemakan daging dan penghisap darah dijadikan musuhnya.
Lain halnya dengan buaya, yang rakus dan tak pernah kenyang, bukan hanya binatang hidup yang dimakan, tetapi juga bangkai dilahanpnya. Ayam, kambing, tikus dan juga manusia diserangnya. Yang kecil dan yang besar, ataupun yang kurus dan gemuk, untuk buaya sama saja. Mereka adalah mangsanya. Merasa kesal mulai diserang cicak, sekarang ini buaya menyerang balik, ingin memangsa cicak.
Para pelaku ekonomi rakyat bukan hanya berhadapan dengan buaya, melainkan juga dengan tokek dan biayawak. Mereka melata, menjulurkan lidahnya, menjilat dan memakan. Kesalahan kecil atau kekeliruan terus dicari dan dijadikan penambah selera. Kaki lima, pasar tradisional, terminal bis, dan perempatan jalan menjadi tempat mereka menunggu mangsa. Setiap hari kita menyaksikan para pelaku ekonomi rakyat, menjadi sasaran empuk bagi tokek, biayawak, dan buaya. Hampir-hampir tidak ada yang peduli dan membela mereka. Negara dan partai politik yang katanya memihak rakyat dan wong cilik, sama sekali tidak berdaya. Prilaku buaya, toke dan biayawak yang menjijikan, oleh negara dianggapnya kejadian biasa. Sungguh suatu ironi bagi negara yang ingin menegakkan keadilan. Siapa yang akan membela masyarakat lapis bawah?
Gunjang-ganjing antara cicak dan buaya yang terus berkembang, kalau tidak diberhentikan, bisa melebar dan mengikutkan tokek dan biyawak kedalamnya. Alangkah naif dan piciknya kita, kalau para penegak hukum terlibat dalam adu kekuatan memperebutkan lahan penghidupan. Atau mereka berdalih hanya berdasarkan baris-baris dalam undang-unndang tanpa mendalami makna dan akibat sosialnya, serta mempergunakan nurani dalam mengambil keputusan. Penegakkan hukum yang demikian hanya akan menimbulkan gesekan-gesekan, dan antipati. Kitapun bisa terlepas dari keterkaitan moral dan budaya.
Masyarakat, terutama masyarakat kecil pelaku ekonomi rakyat, sangat berharap dan menanti penyelesaian tuntas masalah cicak dan buaya ini. Tetapi yang lebih penting lagi agar buaya, tokek dan biayawak merubah prilakunya. Jangan diartikan prilaku mereka yang sekarang ini merupakan hal yang biasa, melainkan prilaku mereka ini luar biasa memalukan.
Masyarakat kita tidak bodoh lagi, mereka tahu siapakah yang dimaksud dengan cicak, buaya, tokek maupun biyawak. (rahardi@ramelan.com)
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:56:50
MALAYSIA LAGI......
Lagi-lagi kta berhadapan dengan Malaysia, gara-gara tari Pendet dari Bali dan wayang kulit dijadikan bagian dari iklan pariwisata Malaysia yang ditayangkan TV internasional. Siapa yang tidak geram, Malaysia terus menerus membuat ulah seenaknya, mulai dari pengakuan batik dan reog Ponorogo sebagai bagian budaya mereka, sampai masalah pengakuan pulau Ambalat sebagai teritorinya.
Harus kita akui bahwa keadaan ekonomi mereka sekarang ini lebih baik dari kita. Sebab itu banyak tenaga kerja kita mencari nafkah di Malaysia. Tetapi juga kita mengetahui adanya masalah dengan TKW, dan TKI tanpa ijin atau ilegal. Keadaan demikian bukan berarti mereka bisa semena-mena terhadap kita. Bukan berarti juga bahwa kita tidak dapat tegas menghadapi mereka.
Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan Malaysia selalu membuat masalah dengan kita, baik masalah teritori maupun masalah budaya. Terkesan pemerintah tidak tegas menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan ini. Pertimbangan politik dan hubungan antar negara lebih diutamakan dari perasaan masyarakat. Khususnya dalam masalah budaya, yang terkait dengan HAKI, pernyataan para pejabat negara sering menunjukan ketidak pahaman mereka mengenai masalah yang sebenarnya dihadapi. Khususnya mengenai produk-produk tradisional, yang sudah menjadi milik umum, yang menjadi permasalahn bukan soal didaftarkan atau tidak, melainkan pengakuan dunia. Keris dan wayang kulit walupun telah mendapatkan pengakuan dunia, tetapi kita sendiri tidak memanfaatkannya untuk promosi bangsa dan negara kita. Pemerintah hanya bereaksi kalau negara lain telah memanfaatkan, seperti yang dilakukan oleh Malaysia baru-baru ini. Ataupun pemerintah berbuat sesuatu setelah didesak masyarakat.
Sudah saatnya masyarakat secara nyata menjunjung tinggi hasil ekspresi budaya bangsa sendiri. Serta memanfaatkannya dalam keseharian. Jauhkan kegemaran pemakaian bahasa asing untuk gedung, pemukiman, ataupun pemakaman. Banyak sekali nama-nama Indonesia yang dapat dimanfaatkan. Kita akan merasa bangga kalau berbagai motif batik dimanfaatkan Garuda Indonesia untuk mengecat pesawatnya. Atau gedung-gedung tinggi di kota-kota besar memanfaatkan nama gunung atau sungai.
Kita sudah tidak dapat lagi menerima pelecehan seperti sekarang ini. Kita jangan hanya ribut kalau sudah ada bangsa lain memanfaatkannya. Tidak cukup hanya menyatakan keberatan, protes atau demonstrasi. Sudah saatnya masyarakat bersama-sama menghargai budaya kita secara nyata. Bukan hanya sekadar harus mendaftarkan atau mendapatkan pengakuan. Mari kita mulai sekarang, sebelum ada pulau baru dan kreasi budaya kita diklain oleh Malaysia atau negara lainnya. Diharapkan juga pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara sungguh-sungguh menjunjung tinggi budaya kita dalam kehidupan sehari-hari, serta melindungi, memanfaatkan, dan mengembangkan kekayaan intelektual kita secara nyata. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 1 Sept 2009
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:34:41
SNACK JAWA
Pak Tukino sudah berhasil mendidik ketiga anaknya, bahkan melebihi anjuran pemerintah. Dua orang selesai pendidikan SMU dan seorang lagi selesai SMP, walaupun ia sendiri dan istrinya hanya menyelesaikan SR atau SD sekarang. Ketiga anaknya, semua merantau ke Bakasi dan Tanggerang, seperti halnya kebanyakan anak muda dari desa Ponjong ? Gunung Kidul. Bagi saya Gunung Kidul selalu menjadi inspirasi tentang keuletan dan ketangguhan masyarakat untuk berjuang dan melanjutkan hidup. Mereka menjadi pedagang atau produsen dan merantau hampir diseluruh pulau Jawa. Mereka yang tertinggal di desa biasanya hanya wanita, anak-anak dam laki-laki yang sudah mulai tua dan berprofesi petani.
Demikianlah nasib pak Tukino, yang kini berusia 58 tahun, pekerjaan sehari-harinya adalah petani. Tetapi sejak 5 tahun yang lalu, terpaksa mencari penghasilan tambahan, karena dari tani penghasilannya terus merosot. ?Kalau dari tani sudah cukup, saya kan tidak bikin emping, pak?, katanya tegas. Dengan wajah yang penuh dengan kerutan, tetapi kelihatan tegar dan sehat, ia hidup bersama istri dan cucunya. Sejak tahun 2003 ia membuka usaha membuat emping melinjo dibantu oleh istrinya. Bermodalkan uang 700 ribu rupiah, ia membeli berbagai peralatan yang dibutuhkan untuk memproduksi emping.
Ia mulai usaha emping ini karena melinjo mudah didapatkan di Gunung Kidul. Jumlah pengrajin emping dari tahun ketahun terus bertambah. Melinjo mentah ia beli dengan harga 3000 rupiah untuk satu kilo. Dari 3 kilo melinjo bisa dihasilkan 1 kilo emping. ?Kalau hujan begini, agak repot, pak. Sukar menjemur, empinya tidak kering-kering?, katanya sambil menata emping di tampah, serta melihat kearah matahari yang tertutup awan tipis. ?Mudah-mudahan hujannya malam saja?. Emping yang sudah kering ia jual dengan harga 24 ribu rupiah satu kilo untuk kwalitas super. Sedangkan untuk kwalitas biasa dijual dengan harga 20 ribu. ?Baca dikoran dan mendengar di tivi katanya ada krisis, ya pak. Pantesan pembeli sepi sekali?, keluhnya. Setiap hari pak Tukino mengeluarkan 100 ribu rupiah untuk membeli melinjo dan kayu bakar. ?Sejak kapan bapak pakai kayu bakar, pak?, tanya saya. ?Orang memang sekarang ribut memakai kayu bakar lagi, saya dari dulu sudah pakai kayu bakar. Jadi biasa-biasa saja?, katanya sambil tersenyum. ?Hanya harga kayu bakar sekarang jadi naik, sudah 10 ribu rupiah untuk satu pikul?, ucapnya dengan rasa penyesalan. Setiap harinya pak Turino dapat menjual melijo sampai 120.000 rupiah. Setelah dikurangi untuk modal, sisanya sekitar 30 ribu rupiah, ia serahkan kepada istrinya.
Dalam persaingan dengan berbagai makanan ringan atau snack, emping masih mendapatkan konsumennya. Bukan saja bertambah variasi sebagai snack, melainkan juga sebagai penambah sedap beragam makanan seperti gado-gado, lotek, soto, dan yang lain. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 17 Feb 2009
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 04:10:17
PAYUNG MURAH
Hujan sudah mulai mengguyur kota Jakarta dan sekitarnya. Genangan air muncul dimana-mana. Masyarakat pinggiran kali sudah mulai was-was, menunggu datangnya banjir. Proyek Kanal Banjir Timur, yang direncanakan sejak zaman Belanda dulu, belum juga selesai. Apa masalahnya? Beberapa mantan guberbur dan gubernur DKI sekarang mungkin bisa menjawabnya. Hujan deras turun, lalu lintaspun macet, kolong jembatan dan kolong flyover jadi tempat pilihan berteduh pengendara motor dan pedagang gerobak dorong. Halte bis dipenuhi orang dan pedagang. Anak-anak penjaja ojek payung mengais kesempatan. Jalan-jalan yang baru diperbaiki sudah mulai berlobang lagi, pasir dan sirtunya terbawa arus, maklum aspalnya diirit atau dikorup. Itulah gambaran Jakarta diawal musim hujan di abad 21.
Berbagai jenis payung mulai disiapkan oleh para ibu rumah tangga. Payung hadiah dari toko, perusahaan, partai politik yang sudah lama tersimpan mulai dikeluarkan lagi. Tas dan mobil dilengkapi juga dengan payung. Tumpukan payung rusak banyak dibuang, diganti dengan payung baru. Pembantu rumah tangga mengumpulkan payung rusak untuk dijual. Lumayan masih laku. Bagi yang keuangannya terbatas, menunggu pak Kadanah lewat.
Pak Kadanah asal Cirebon, dikenal sebagai tukang payung. Sudah hampir delapan tahun menekuni pekerjaannya, membeli payung-payung rusak, memperbaikinya dan kemudian menjualnya lagi. Setiap hari ia berkeliling dijalan-jalan sempit di Jakarta, dengan membawa pikulan yang berisi selain payung rusak dan payung bekas, juga berbagai peralatan kerjanya seperti gunting, tang, jarum, gergaji kecil, kikir dan peralatan tukang lainnya. ?Peralatan dan pikulan itu saya beli 350 ribu?, kata laki-laki asal Cirebon yang berumur 49 tahun ini. Ia meninggalkan isteri dan dua anaknya yang masih sekolah di SMU di Cirebon. ?Sekarang ini sedang banyak kerjaan pak. Payung bekaspun laku keras?, katanya tersenyum. Untuk servis sebuah payung dikenakan biaya 2000 rupiah, sedang payung bekas dijual 5000 sampai 7000 rupiah tergantung keadaannya. ?Dijamin tidak bocor?, tegasnya. Ia keluar dari rumah kontrakannya pukul 8 pagi dan baru pulang sekitar pukul lima sore. Bersama dengan 3 kawannya mereka menempati rumah kontrakan, dan masing-masing harus membayar sewa 200 ribu setiap bulannya. Ketiga kawannya juga berasal dari sekitar Cirebon dan Indramayu. Memang didaerah tersebut ekonomi tidak berkembang, sehingga penduduknya harus mencari nafkah dikota-kota besar.
Dari hasi jerih payahnya, setiap hari ia mendapatkan penghasilan 60 ribu rupiah. Sebagian harus disisihkan untuk membeli tambahan material kerja seperti kawat dan benang, serta sebagian lagi untuk sewa rumah.
Dimusim pancaroba dan awal musim hujan, pak Kadanah selalu bermuka ceria. Angin membuat banyak payung rusak, yang kadang-kadang ia temukan dijalan. Anak-anak disekitar tempat pondokan sering mengantar payung rusak dengan minta sekedar upah. ?Mudah-mudahan bulan ini saya bisa membawa uang lebih kekampung. Untuk membeli baju sekolah?, katanya pasrah. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 4 Nov. 2008
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2010-01-15 03:56:32
LULUS SMP KEMANA?
Wajib belajar 9 tahun terus didorong untuk dilaksanakan diseantero nusantara. Anggaran untuk pendidikan sebesar 20 persen dari APBN tahun depan akan dilaksanakan sepenuhnya. Kalau tidak berarti presiden melanggar hukum. Akibatnya akan lebih banyak lagi anak-anak kita yang akan menikmati wajib belajar 9 tahun. Tetapi setelah itu mereka harus kemana? Kenyataannya banyak pelaku ekonomi rakyat, termasuk dalam rubrik ini, adalah mereka yang telah dengan susah payah menyelesaikan pendidikan SMP. Bagi mereka, keadaan ekonomi yang tidak kunjung membaik sejak krisis, mengharuskan mereka bekerja serabutan untuk bisa meneruskan hidupnya bahkan menghidupi keluarganya.
Demikian juga yang dihadapi oleh Pak Sali bersama dua orang temannya, sama-sama lulusan SMP, harus bekerja keras mencari pekerjaan untuk bisa menghidupi keluarganya. Sesudah kehilangan pekerjaan 6 tahun yang lalu, Bang Sali akhirnya harus bekerja sebagai tenaga kebersihan, persisnya sebagai pengumpul sampah, disebuah komplek perumahan. Bekerja sebagai tukang sampah bukan cita-citanya sewaktu masih sekolah dulu. Tentu bukan juga rencana dan tujuan pemerintah mewajibkan sekolah 9 tahun kalau akhirnya mereka jadi pengumpul sampah. Lalu kenapa ini terjadi? ?Dulu saya bekerja dipabrik, pak. Lalu kena PHK bersama kawan-kawan lain?, ceritanya sambil istirahat didepan sebuah rumah mewah. Ia bersama dua orang temannya menjadi tugas kebersihan disebuah komplek. Tugasnya masing-masing harus mengambil sampah dari 10 rumah dan membersihkan jalan sekitarnya. Peralatan berupa gerobak, sapu, garpu dan pengki sudah disediakan oleh pengelola komplek tersebut.
Dikomplek tersebut, setiap rumah harus membayar restribusi untuk kebersihan, dan uang inilah yang dipakai untuk membayar petugas kebersihan seperti Bang Sali dan kawan-kawannya. Setiap bulan masing-masing menerima honor sekitar 450 ribu rupiah. ?Sayapun mendapat tambahan dengan cara mencuci beberapa buah mobil milik penghuni. Lumayan pak, dapat tambahan rata-rata 200 ribu rupiah setiap bulannya?, katanya sambil mengisap rokok kereteknya. Dengan penghasilannya tersebut Pak Sali bisa membayar kontrak rumahnya di Depok dan membiayai 3 orang anaknya yang masih duduk di SD dan TK. ?Mudah-mudahan keadaan akan membaik ya pak?, ucapnya lemas, ?semoga anak-anak saya bisa hidup lebih baik?. Bagi Pak Sali dibulan puasa selalu membawa rejeki tambahan, maklum banyak keluarga menyelenggarakan buka puasa bersama dan selalu memberikan tambahan uang. ?Tapi kalau musim hujan, pekerjaan jadi susah. Sampahnyapun menjadi bau dan berat?, sambil berdiri dan mulai menarik gerobak sampahnya.
Semoga pemerintah memikirkan dan menyediakan pekerjaan apa yang bisa dilakukan oleh pemegang ijazah SMP. Janganlah generasi tamatan SMP yang akan datang senasib dengan Pak Sali. Semoga.
Selamat menuaikan ibadah puasa. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 2 September 2008
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-07-01 00:00:00
PLAYSTATION
Yang disebut zaman informasi sudah merambah kesemua pelosok dunia. Juga di tanah air kita. Perkembangannyapun sedemikian pesatnya, sehingga manusia selalu merasa ketinggalan. Siaran televisi sudah dapat dilihat oleh semua penduduk Indonesia, tetapi belum tentu dinikmati. Kadang-kadang hal-hal yang kita tidak senangipun muncul dilayar kaca, seolah-olah kita terpaksa melihatya. Itulah salh satu cirri globalisasi. Berbagai peralatan elektronika berkembang begitu cepat, harganyapun semakin hari terus menurun. Tetapi hampir setiap bulan keluar produk baru dengan teknlogi yang lebih canggih, sehingga kita seakan-akan harus memilikinya, mungkin mereka sudah merancang agar kita selalu membeli yang baru.
Peralatan elektronika juga memasuki dunia hiburan. Ponsel dilengkapi dengan berbagai fitur hiburan, seperti penyimpan musik dan film, videogame, serta kamera. Nada deringpun beragam, sampai pembicaraan teleponpun dijadikan nada dering. Selain CD untuk musik, juga DVD untuk film dan videogame, terus berkembang. Harganya yang murah sangat mempengaruhi peredaran komoditi ini. Disebabkan masih maraknya peredaran CD dan DVD bajakan sampai sekararang. Videogame terus berkembang, bukan saja digemari anak-anak, melainkan juga oleh remaja dan dewasa. Play stationpun terus berkembang dengan pesat dan harganyapun semakin terjangkau.
Sudah lama berkembang tempat menyewakan play station bagi mereka yang tidak memilikinya. Selain itu juga berkembang tempat dimana bisa bermain play staton ini, keberadaannya sampai dipelosok-pelosok desa atau kampung. Dua tahun yang lalu, Heru alias Kuru memulai usahan penyewaan play station ini. Dengan memanfaatkan sebagian ruang rumahnya, ia melengkapi usahanya dengan TV 21 inch, play station, stick serta berbagai macam game. Modal awalnya sebanyak 6 juta rupiah. Heru, lulusan SMU yang sekarang berusia 35 tahun, bersama isterinya mengelola usaha itu dalam ruangan 3 X 4 meter. Bagi mereka yang bermain ditempat itu dipungut sewa 4000 rupiah untuk satu jam. Kadang-kadang ada yang bermain sampai 5 jam, dan untuk itu Heru memberi bonus satu jam. Penghasilan bersihnya setiap bulan berkisar antara 200 sampai 300 ribu. ?Itulah hasil untuk mengembalikan modal, pak. Sudah dipotong untuk keperluan rumah?. Heru, yang sudah mempunyai seorang anak, menjelaskan usahanya itu.
Keberadaan tempat penyewaan play station ini, terkadang juga merepotkan orang tua dengan penghasilan pas-pasan. Anak-anak mereka mulai menggandrungi permainan tersebut. Ada juga yang sampai menggunakan uang sekolah hanya untuk bisa bemain. Selain itu tentu permainan yang mengasyikan ini menyita waktu. Bagi mereka yang memiliki peralatannya dirumah sering mengatur agar anak-anaknya hanya diperbolehkan bermain pada waktu-waktu tertentu. Akhir-akhir ini usaha Heru sering terganggu dengan adanya pemadaman listrik. ?Tarif listrik terus naik, nunggak sedikit terus diancam diputus. Kalau PLN yang salah seperti pemadaman ini, kita tidak diganti?, omelnya dengan nada serius.
?Sekarang ini mulai libur sekolah, saya melengkapi tambahan game? katanya sambil tersenyum. Mudah-mudahan Heru mendapat rejeki tambahan selama libur sekolah tahun ini. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 1 Juli 2008
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2008-06-24 00:00:00
ASINAN PENYEGAR BADAN
Bagi warga Jakarta khususnya yang tinggal di sekitar Menteng dan Jakarta Pusat, kalau soal asinan yang paling dikenal adalah asinan pasar Boplo. Sampai sekarang masih bisa kita dapatkan diujung jalan Djaksa. Tetapi dengan transportasi yang makin membaik, membuat jarak Jakarta-Bogor semakin dekat, maka asinan Bogorpun mulai mengalahkan popularitas asinan Boplo. Dengan rasanya yang kecut dan manis, ditambah dengan kerupuk mie dan kacang tanah, panas dan terikknya siang hari menjadi tidak terasa.
Tetapi tidak semua warga Jakarta dan sekitarnya bisa menikmati asinan ditempat-tempat tertentu. Oleh karenanya, seperti halnya berbagai jenis makanan lain, maka berjualan asinan secara berkelilingpun merupakan usaha yang bisa menguntungkan. Seorang ayah dengan dua orang anak asal Sumedang, sejak tahun 2003 telah datang ke Jakarta dan berjualan asinan secara berkeliling. Ia tidak menjual tahu Sumedang yang merupakan ciri khas makanan Sumedang, ?kalau jualan tahu saya hanya jadi pedagang, pak. Tetapi jualan asinan saya harus menyiapkan semuanya sejak awal?, katanya dengan bangga. Mungkin kebetulan juga bagi Pepen, demikian namanya, bahwa ia tidak berjualan tahu, karena sekarang ini harga kacang kedele begitu mahalnya.
Berbagai peralatan yang diperlukan, termasuk gerobak, ia beli seharga 800 ribu rupiah dengan menggunakan uang simpanannya. Berbagai kebutuhan barang jualan, seperti macam-macam buah, kacang dan berbagai macam sayuran dan toge, ia beli setiap pagi hari, harganya rata-rata sekitar 80 sampai 100 ribu rupiah. Setiap hari ia keliling komplek perumahan yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dengan menjual asinan 4000 rupiah untuk satu porsinya, hasil penjualannya bisa mencapai 190 ribu rupiah. ?Tapi rata-rata saya bawa pulang 150 ribu, tapi kalau hari hujan dan rejeki kurang, paling-paling cukup buat makan saja?, ia menjelaskan dengan serius. Ia meninggalkan isteri dan kedua anaknya di Sumedang. Yang besar berusia 17 tahun dan belajar di STM, sedangkan yang kedua masih duduk di SD. ?Saya harus bekerja keras untuk mengongkosi hidup dan sekolah mereka, pak. Jangan seperti saya yang hanya tamat SD?, katanya sambil menunjuk tempat ia tinggal. Ia menempati kontrakan berukuran 3 X 3 meter dengan sewa 250 ribu perbulen. Dengan kerja keras Pepen setiap hari bisa menyisihkan uang antara 70 sampai 90 ribu rupiah. Setiap bulan ia pulang ke Sumedang untuk memberikan hasil kerjanya kepada isteri dan anak-anaknya. ?Paling lama saya tinggal disana hanya 3 hari?, dengan raut muka yang tidak berubah.
Pepen merasa heran, dalam cuaca yang panas dan kering seperti sekarang ini, mengapa omsetnya tetap rendah. Mungkin dia tidak sadar bahwa dengan kenaikan harga BBM dan bahan pangan, membuat daya beli masyarakat menurun. Tetapi ia masih berharap masih dapat membiayai sekolah anaknya sampai selesai. Semoga. (rahardi@ramelan.com)
Dimuat di harian Pos Kota 24 Juni 2008
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2005-09-19 00:00:00
Dugaan mengenai adanya ketidak serasian antara SBY dan JK, makin menjadi-jadi dengan diselenggarakannya sidang kabinet melalui telekonperensi dari Amerika. Ditambah lagi dalam telekonperensi tersebut JK hanya hadir satu kali. JK menyebut itu bukan sidang kabinet, jadi tidak perlu hadir. Sampai-samapi SBY harus menyatakan bahwa hubungan SBY-JK tetap harmonis.
Kita mengenal istilah dwitunggal, untuk menggambarkan hubungan Presiden dengan Wakil Presiden ( zaman Sukarno - Hatta). Sebutan itu hilang sewaktu orde baru, karena Presiden dan Wakil Presiden, dipilih secara terpisah. Dan ini berkembang sampai era Presiden Megawati. Dengan perkembangan demokrasi kita bahwa Presiden dan wakil Presiden, dalam hal ini SBY-JK, yang dipilih secara paket, seharusnya mereka merupakan DWITUNGGAL. Mereka mempunyai konsep yang sama, berkampanye dengan program yang sama. Seharusnya mereka bisa menjadi dwitunggal. Tapi semuanya ternodai dengan adanya garis pemisah saat JK kemudian jadi Ketua Umum Partai Golkar. Sudah jadi perjuangan partai. Tidak ada lagi dwitunggal. Hanya harmonis!! Apa benar???. Disisi lain dimana SBY mempunyai legetimasi penuh untuk membentuk kabinet, ternyata sudah sejak awal, kita semua merasa tidak adanya kesatuan berpikir dan bertindak. Penanganan kasus-kasus tsunami, polio, busung lapar, dan akhir-akhir ini masalah flu burung dan BBM, makin melihatkan kesemerawutan dalam koordinasi. Seharusnya kabinet yang dibentuk SBY ini dapat melihatkan terjadinya CHEMISTRY antara menteri-menteri dan pejabat tinggi. Kenyataannya janganlah chemistry, koordinasipun sudah menjadi langka. Dalam keadaan demikianlah akhirnya masyarakat diminta mengerti, diminta memaklumi. Masyarakat diminta tetap HARMONIS, sambil melihat ketidak adaan DWITUNGGAL, dan tidak adanya CHEMISTRY dipemerintahan. Sabar, sabar, sabarlah kita anggota masyarakat. RR - September 2005, LP Cipinang
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2005-09-19 00:00:00
Kelangkaan BBM dan tingginya harga minyak bumi, mendorong lagi kita ramai-ramai membicarakan mengenai alternatif energi, khususnya untuk kendaraan bermotor. Janganlah upaya ini nanti berhenti lagi kalau harga minyak bumi menurun dibawah 40 dollar per barrel.
Di tahun 1980-an, kita pernah menggelar secara intensif dan extensif program bahan bakar alternatif ini. Tapi kemudian mati dengan menurunnya harga minyak bumi dan pergantian pejabat. Proyek gasohol, bensin dengan campuran 10% ethanol, telah tuntas dikaji dan diuji, bersama dengan produsen kendaraan bermotor. Lembaga penelitian dan pilotplant pembuatan ethanol khusunya dari pati singkong di Lampung, telah selesai dan beroperasi. Tapi kemudian program ini mati. Bersamaan dengan itu juga proyek pemakaian CNG diluncurkan. Guberbur DKI Jakarta telah menetapkan bahwa semua taksi baru harus memanfaatkan CNG. Pertamina menunjuk 7 buah SPBU di DKI Jakaarta untuk mendistrubusikan CNG. Kemudian perusahaan produsen bis diharuskan mengembangkan bis (khususnya bis kota) dengan menggunakan mesin yang memenfaatkan CNG. Sayangnya kemudian Menteri Pertambangan pada waktu itu mengijinkan juga pemanfaatan LPG. Proyek jadi tidak jelas. Desakan produsen mobil yang memakai mesin solar, menyebabkan Gubernur DKI kemudian mengijinkan juga taksi memakai mesin solar (mesin solar tidak bisa dikonversi untuk memakai CNG). Seandainya kita konsisten sejak waktu itu, dan diberlakukan luas diseluruh Indonesia, mungkin krisis BBM dan polusi udara dikota besar yang sekarang ini tidak perlu terjadi. Semoga kali ini kita bisa konsisten. RR September 2005 - LP Cipinang
category : ENERGY
created by : Rahardi Ramelan
created on : 2005-05-09 00:00:00
Kenyataan menunjukan masih banyak negara yang mengembangkan teknologi persenjataan nuklirnya pada saat ini. Kenyataan juga menunjukan bahwa negara-negara inilah yang mempunyai bargaining power dalam percaturan politik dan perdagangan dunia. Kita ikut menanda tangani NPT, dan mengikutinya. Kemana kita akan melanglah dalam percaturan dunia? Sebagai bangsa besar dengan penduduk yang besar juga, apakah kita akan terus jadi "anak baik"? Ditakut-takuti terus dengan ancaman dipotong bantuan atau di-embargo?
Dalam tulisan saya di media dan di beberapa seminar, saya mengemukakan bahwa kita harus membuat pilihan untuk mmempunyai bargaining power dipercaturan internasional. Ada dua pilihan teknologi yang saya kemukakan - peroketan atau nuklir. Dalam keadaan bangsa kita seperti sekarang ini, peeroketan yang jadi pilihan. Kita mempunyai potensi yang memadai, LAPAN, BPPT, TNI-AU, DEPT PERTAHANAN, PT DI, ITB dan lain-lain.
Selalu jadi "anak baik" tidak menguntungkan. Kita harus mempunyai tekad.
Jakarta, 10 Mei 2005. RR
|
Category |