ETHANOL, MOBIL LISTRIK DAN HYDROGEN

Oleh Ramelan

19 March 2024 - 05:59:03

3 menit

Dalam tahun 2023 masalah gula banyak dibicarakan oleh para politisi, ahli, pedagang dan produsen gula.Selain masalah impor gula juga kebijakan gula rafinasi.
Adanya Perpres Nomor 40 Tahun 2023, Tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel), menjadi bahan menarik untuk dibahas.

Ethanol
Yang dimaksudkan disini adalah ethanol untuk bahan bakar kendaraan, sebagai subsitusi bensin. Dalam peraturan tersebut yang dimaksud dengan ethanol yang berasal dari tebu. Di tahun 1980an berbagai Lembaga Pemerintah dan Perguruan Tinggi banyak mengadakan percobaan pemakaian ethanol untuk bahan bakar kendaraan.

BPPT (sekarang sudah tidak ada), pada waktu itu menjalankan dua program.
Yang Pertama : Percobaan kendaraan secara fisik antara lain memakai Toyota Kijang, Mitsubishi L 300, Daihatsu Hi Jet, Suzuki Jimny, Citroen FAF, serta VW Passat dan Chevrolet Chhavette.
Dengan bekerja sama dengan Perguruan Tinggi. Presentase campuran ethanol 20%, 10%, 100%, yang kemudian dinamakan GASOHOL. Alkohol yang dipakai berasal dari pabrik gula dengan kadar minimal 98%. Semua kendaraan masih tetap memakai karburator, beberapa kendaraan perlu penyesuaian teknis. Untuk mengurangi/menghilangkan endapan gum. Diakhir uji selama 1 tahun, diruang penampung bensin di karburator terkikis permukannya, karena terjadi oksidasi. Emisi karbon pemakaian gasohol jauh lebih rendah dibandingkan emisi dengan bahan bakar Pertamax.

Yang Kedua : Pembuatan alkohol dari singkong/casava.
Dengan mengembangkan penanaman singkong di Lampung (Tulang Bawang) dan pendirian Pilot Plant pembuatan alkohol di Sulusuban. Dengan adanya Peraturan Presiden No. 40/2023 tersebut, tentunya kita akan memikirkan pemakaian ethanol sebagai bahan bakar kendaraan bermotor dengan mesin bakar internal (Internal Combustiaon Engine). Salah satu negara yang menggunakan ethanol 100% untuk bahan bakar kendaraan bermotor adalah Brasilia. Menurut informasi bahwa mesin Toyota yang dipergunakan di Brasillia diproduksi di Indonesia.

Pertanyaannya apakah kita akan mengembangkan kendaraan bermotor dengan mesin menggunakan ethanol secara mandiri, atau bekerjasama untuk menghasilkan mobil Indonesia, yang sampai sekarang belum bisa terlaksana.
Dengan mengadakan perundingan dengan Toyota, maka mesin ethanol Toyota tersebut bisa dimanfaatkan pada kendaraan Indonesia. (Korea berhasil melakukan pendekatan ini dengan Mercedez Benz, China dengan Chevrolet).

Mobil Listrik
Sekarang ini sedang hangat-hangatnya membahas mobil listrik, terutama kita memiliki pertambangan nikel yang besar. Kembali pertanyaannya akan mengembangkan mobil listrik Indonesia, atau hanya sekedar mengundang investasi perusahaan mobil dunia? Seperti yang sekarang dilakukan. Atau melakukan seperti yang dilaksanakan Vietnam VinFast, dengan mengembangkan sendiri mobil listrik dengan Kerjasama dengan Pininfarina dan BMW.

Kita sebetulnya mungkin saja mengerjakan serupa, dengan memberikan penugasan kepada para pengusaha mobil kita yang sudah menjadi besar karena kebijakan industri mobil kita. Seperti Indomobil, Astra, KTB dll. Atau perusahaan yang sudah menjadi besar dengan kegiatan dalam bidang property, perkebunan (sawit), maupun tambang (batubara). Memang dalam dunia mobil listrik, sedang menjadi topik pengembangan battery antara nickel base NMC (Nickel Manganese Cobalt) dan NCA (Nickel Cobalt), serta LFP (Lithium Iron Phosphate). Kita harus hati-hati menentukan pengembangan EV ini. Kalau dulu yang menjadi penggerak utama adalah mesin IC, dengan kendaraan EV penggerak utamanya adalah electric motor dengan battery nya.

Hydrogen
Dengan pemikiran lingkungan yang lebih baik, beberapa negara dan perusahaan mobil mengembangkan kendaraan dengan bahan bakar hydrogen. Terutama dikembangkan oleh perusahaan mobil yang sudah berkembang dengan IC Engine, karena bahan bakar Hydrogen akan dipakai juga dalam IC Engine- HICEV. Produsen mobil Eropa dan Jepang sudah mencapai pengembangan yang positif dalam pemakaian hydrogen ini. Di Indonesia pun persiapan kearah itu sudah dilakukan.

Kemana kita?
Kalau kita akan mengembangkan kendaraan sendiri, menurut saya ada dua pemikiran;
Pertama : EV – pemilihan battery yang tepat. Mengembangkan sendiri atau mengundang pabrikan EV.
Kedua : IC – Ethanol>Hydrogen. Langkah pertama adalah langsung menuju mobil 100% ethanol. Mengembangkan mobil sendiri dengan menggunakan Motor Bakar Ethanol yang sudah berkembang.
Ethanol bisa diperoleh selain dari tebu, juga singkong (cassava), nira (kelapa, lontar), dan yang lain.

Perlu program yang terkoordinir antara pengembangan bahan bakar dan pengembangan kendaraannya.

Jakarta, 18 Maret 2024

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi





Artikel Lainnya