JALAN RAYA (2)

Oleh Ramelan

15 July 2023 - 07:34:03

2 menit

Setiap hari di pagi hari dan sore, sampai malam, kita menyaksikan sekitar gedung pusat belanja/Mall, dan perkantoran, puluhan sepeda motor ojol dan mobil online parkir secara bergerombol, khususnya di Jakarta. Walaupun ada rambu jalan dilarang berhenti (S) atau dilarang parkir (P). Mereka rupanya tidak boleh memasuki halaman gedung dan parkir disana.

Di awal keberadaan ojol (ojek online), perseturuan terjadi dengan ojek pangkalan. Di beberapa tempat jelas-jelas terpasang OJEK ONLINE DILARANG MASUK.

Gagasan ojol dan kendaraan online, yang semula ditujukan untuk penggunaan kendaraan secara sharing, sekarang ini sudah berubah menjadi kendaraan untuk angkutan umum dan merupakan investasi. Pengendara menjadi pengusaha, bukan sekedar sharing.

Sewaktu merebaknya virus corona, dan diberlakukannya berbagai jenis karantina dan pembatasan keluar rumah, serta kebijakan WFH – Work From Home, peran kendaraan online ini semakin penting dan diperlukan. Pelayananya pun semakin luas, bukan saja angkutan orang, melainkan barang, makanan (go food), pengantar surat (go send), dan banyak jasa lainnya termasuk pengiriman obat dari apotek. Pelayanan online ini bukan saja dirumah atau pemukiman perkotaan, dipinggir kota, rumah petak / kontrakan dijalan-jalan sempit dapat dilayani. Pemanfaatan teknologi digital peta, dengan shareloc dimanapun lokasinya dapat terjangkau oleh layanan online tersebut.

Pertanyaannya, mengapa pemerintah daerah, kota dan pemilik gedung-gedung perkantoran ataupun pusat perbelanjaan tidak mau menyediakan tempat bagi mereka untuk mangkal? Termasuk halte dan stasiun angkutan umum lainnya, membiarkan para ojol ini “berserakan” disekitar lokasi. Walaupun beberapa gedung di Jakarta membatasi jalan didepan pekarangannya untuk mangkal para ojol tersebut. Beberapa pusat perbelanjaan menyediakan tempat mangkal bagi taksi tertentu.

Sudah waktunya ojol dan taxi online membuat organisasi untuk memperjuangkan haknya di jalan umum. Mas Nadiem, kita mengharapkan anda masih memikirkan mereka.

Harjamukti, 15 Juli 2023.

2 komentar

  • Agus supriyadi -

    Seharusnya pemda memgakui keberadaan mrk dan menyediakan tempat2 utk mangkal para ojekers ditempat2 strategis dipinggir jalan. Tempat tdk hrs luas, mungkin dg 100m2 saja per lokasi sdh cukup.
    Saat ini mrk mangkal sambil istirahat berserakan disembarang tempat. Selain memgganggu lalin, membahayakan pengguna jalan juga tdk elok dilihat.
    Bagi pemda dki biaya tsb tdk akan jadi beban berat.

    Reply
  • Osriman Oesman -

    Pak RR ysh …..
    Dlm tulisan Bapak kok mas Menteri Nadiem yg Bapak tuju utk memperhatikan masalah Ojol ini Pak ? Mohon pencerahan ya Pak
    Terimakasih n Salam hormat 🙏

    Reply

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi





Artikel Lainnya