JALAN RAYA (1)

Oleh Ramelan

03 July 2023 - 08:36:37

2 menit

Sudah lama sebetulnya saya ingin berbagi dengan para sahabat, mengenai keadaan jalan raya kita yang semakin padat dan luas jangkauannya.

Berbagai marka jalan banyak diterapkan. Garis putih penuh, garis terputus, dua garis sejajar penuh, dua garis penuh dan terputus, dua garis sejajar terputus, garis kuning, junction box, daerah merah. Banyak lagi yang lain. Seperti gambar sepeda di jalur khusus. Macam-macam tanda panah. Entah apalagi.

Selain marka jalan, juga rambu-rambu. Lingkaran merah dengan latar putih. Persegi latar biru dan tidak tahu apasaja lagi.

Kenyataannya baik marka jalan maupun rambu jalan yang sudah jelas maksudnya sering kali dilanggar, tanpa ada tindakan tegas dari yang berwenang. Di simpang jalan dengan lampu pengatur lalu lintas, kalau dulu sering disebut lampu BANG-JO, di Jogja disebut APILL – Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, pelanggaran lalu lintas terus terjadi.

Rambu pembatas kecepatan di jalan toll misalnya, sudah jadi hiasan saja. Hampir tidak ada yang mematuhinya. Bahu jalan sudah jadi haknya kendaraan dengan klakson/sirene khusus. Kita sudah hampir tidak bisa membedakan suara sirene ambulans, damkar atau pejabat. Kelihatannya kalau lalu lintas sudah tidak bisa diatasi oleh marka dan rambu, polisi memasang penghalang pengatur beton.

Di pinggiran kota atau perkampungan marka dan rambu sudah jarang dilihat. Berkendaraan bebas sebebasnya. Lalu lintas diatur oleh polisi partikelir, yang sering disebut pakogah, yang memungut bayaran. Masih untung ada mereka. Kelas jalan pun sudah tidak jelas. Remaja yang belum cukup umur pun dengan bebasnya mengendarai sepeda motor. Apalagi sekarang ini ada sepeda atau motor listrik.

Pertanyaaannya buat apa ada berbagai peraturan, marka, rambu jalan? Kenyataannya pelanggar tidak pernah ditindak. Kecuali kalau ada “operasi khusus”.

Pendapat saya, dari pada pelanggaran dibiarkan, yang berarti melanggar hukum tidak ditindak, lebih baik semua marka dan rambu dihilangkan.
Atau Kepolisian dan Dinas Perhubungan meninjau secara menyeluruh marka dan rambu jalan. Yang jelas-jelas tidak bisa diawasi lebih baik dicabut atau dihilangkan.

Sebagian besar masyarakat pengguna jalan, tidak takut dengan peraturan, melainkan takut kepada pengawas. Dalam hal ini kepolisian.

Dalam menyambut Hari Bhayangkara tahun 2023, pembenahan aturan jalan raya ini harusjadi program utama Kepolisian Negara kita. Semoga.

Jakarta , 3 Juli 2023

1 komentar

  • Osriman Oesman -

    Pak RR ,
    Setuju banget Pak …..
    Yang juga saya perhatikan , belum ada edukasi masyarakat terutama pengguna jalan raya oleh pihak yg berwenang …. Gak tahu ya Pak ,apkh Kepolisian atau DLLAJR ?
    Atau Pemda yang sepatutnya meng inisiasi Hal ini …
    Selamat pagi Bapak 🙏

    Reply

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi





Artikel Lainnya