SEPEDA atau SEPEDA MOTOR

Oleh Ramelan

06 September 2021 - 04:19:47

4 menit

Akhir-akhir ini DKI Jakarta banyak membahas mengenai keberadaan jalur khusus yang dibatasi secara massive untuk sepeda. Serta disediakannya pada waktu-waktu tertentu jalur jalan raya untuk Road Bicycle, sepeda sport dengan kecepatan tinggi dan mahal. Apa semua itu sudah mendesak?
Disisilain, selama pandemic Covid-19, sudah lebih dari dua tahun, banyak masyarakat mengandalkan berfungsinya peran sepeda motor khususnya untuk delivery, yang sering disebut dengan OJOL – Ojek On Line. Tapi kenyataan bahwa Ojol ini tidak diperlakukan secara benar. Antara lain oleh Gedung perkantoran, hotel dan pusat belajan atau mall. Mereka tidak diijinkan masuk kedepan pusat perkantoran dan pusat perbelanjaan,harus menunggu atau mangkal dipinggir jalan. Tetapi keberadaan mereka sangat diperlukan, dan menjadi factor yang menentukan dari berkembangnya belanja on-line. Sepeda motor masih merupakan alat angkut yang paling membumi, di negara kita. Bisa masuk gang sempit, dibantu dengan aplikasi peta digital, seolah-olah alamat dengan nama jalan dan nomer rumah hanya merupakan factor penambah.

Sepeda Motor
Kalau kita memperhatikan secara cermat, sepeda motor bukan saja berfungsi sebagai angkutan orang, melainkan juga barang, serta jadi wahana untuk kegiatan produksi dan usaha lainnya. Hal ini terlihat dengan kasatmata dipinggiran kota besar maupun di kota kecil.
Kadang-kadang ditemukan sepeda motor yang merupakan sepeda motor bodong, yaitu tanpa STNK dan plat nomor.Kalau dilihat dari kondisi teknis, mungkin motor bodong tersebut sudah tidak memenuhi standar kelaikan jalan untuk dipakai di jalan umum. Tetapi keberadaannya sangat diperlukan.
Di pinggiran kota atau jalan-jalan kecil banyak ibu-ibu ataupun anak-anak yang mengendarai motor. Anak-anak tersebut masih dibawah umur untuk dapat memperolah SIM. Tetapi mereka diperlukan oleh ibunya untuk bisa membantu berbagai kegiatan.
Kalau kita tetap berkeras menjalankan peraturan secara benar, akan banyak sepeda motor dan pengemudi motor yang ditahan. Disisi lain juga kita melihat banyaknya rambu dan markajalan yang diabaikan oleh pemakai jalan. Tanpa ada Tindakan dari kepolisian. Tindakan hanya dilaksanakan kalau ada apa yang disebut dengan “operasi tertib lalu lintas”. Apa gunanya kita membuat berbagai peraturan kalau ternyata pelanggaran dibiarkan saja.Berarti pembiaraan atas hukum yang berlaku. Yang dapat menimbulkan bahwa pelanggaran apapun akan diberikan toleransi. Bukankah sebaiknya rambu dan markajalan yang jelas-jelas sukar untuk diterapkan dan dipatuhi oleh pengguna jalan untuk dicabut saja.
Saya pernah menyarakan agar Kepolisian bersama dengan Kementrian Perhubungan dan Dinas Perhubungan didaerah meninjau semua marka dan rambu lalu lintas. Kalau ternyata sering dilanggar dan tidak mampu menindaknya, agar marka dan rambu tersebut dihilangkan saja. Sehari-hari banyak kita melihat dan menyaksikan ini. Pelanggaran atas rambu arah kendaraan, tempat u turn, tempat berhenti dan parkir, sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Marka jalan sama saja, belum semuanya mengertiakan arti “kotak kuning” atau yellow junction box.
Sebaiknya, kalau kita tidak bisa menegakkan peraturan, lebih baik tidak ada peraturan tersebut.
Kenyataannya dalam masa pandemi Covid 19 ini, peran sepeda motor sebagai alat distribusi semakin menonjol. Alamat yang tidak jelas bisa dibantu dengan berbagai aplikasi seperti Google Map atau Waze. Walaupun pembeli berada di gang sempit, selalu dapat dijangkau oleh sepeda motor. Demikian juga dengan pihak penjual yang semakin mengembangkan pemasaran dan penjualannya, baik melalui market place atau secara langsung.
Sepeda motor merupakan alat transportasi yang dominan bagi masyarakat menengah kita. Yang terpaksa tinggal dipinggiran kota, di gang sempit dengan harga sewa yang terjangkau, tanpa adanya angkutan umum masal yang dekat.
Untuk sepeda motor ini , sebaiknya setiap gedung , mall, tempat publik seperti stasiun dan terminal bis, disediakan tempat “mangkal” sepeda motor, seperti halnya untuk taksi.

Sepeda
Di beberapa kota besar di Indonesia, sepeda belum menjadi moda angkutan yang dipakai untuk menuju tempat kerja dan pulang. Ataupun untuk pergi dan pulang kesekolah.
Yang sering kita lihat dan dijadikan ukuran untuk menentukan kebijakan, adalah keberadaan sepeda di hari Sabtu dan Minggu sewaktu diberlakukannya Car Free Day. Ataupun yang sedang trending diviralkan oleh kelompok-kelompok pemakai dan penggemar road bike.
Di pinggiran kota dan desa sepeda masih merupakan moda transpotasi yang mereka andalkan. Masih memanfaatkan sepeda “ontel” yang sederhana. Kelompok inilah sebenarnya yang harus kita dukung dengan berbagai kemudahan, termasuk teknologi sederhana untuk sepedanya.
Mereka tidak membutuhkan sepeda dengan persneling 21 tingkat atau lebih. Bagi mereka kekuatan sepedan dan mungkin persnelin 2 atau 3 tingkat sudah memadai. Yang perlu sepedanya kuat untuk mengangkut barang. Pengembangan pemakaian sepeda ini perlu mendapat dukungan dari para peneliti dan innovator. Pengembangan jalur sepeda ini lebih penting dibangun dipinggir kota, pedesaan dan lingkungan perumahan atau kompleks perumahan yang luas.

Jakarta, 4 September 2021

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi





Artikel Lainnya