Topan akan Berlalu

Oleh Ramelan

07 July 2021 - 05:36:27

4 menit

Rahardi Ramelan,
Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Kepala Bulog 1998/1999

Kekalahan Jerman dan Jepang, dalam Perang Dunia (PD) II telah meninggalkan kehancuran dan pengucilan negara-negara tersebut dari teknologi, industri, ekonomi. PD II telah menciptakan tatanan baru bangsa-bangsa, ideologi, dan ekonomi di dunia.
Sekutu sebagai pemenang, menjadikan dunia terbagi menjadi negara berdasarkan demokrasi dan otoriter-komunis. Kemudian, melahirkan perekonomian yang berorientasi pasar/kapitalistis dan ekonomi Marxistis/sosialistis.
Lahirnya PBB dan perangkatnya, berusaha membatasi melebarnya pengembangan dan pemakaian senjata nuklir. Pembangunan kembali negara yang hancur karena perang seperti Jepang dan Jerman, tak terlepas dari Marshall Plan yang dikembangkan AS.
Negara-negara yang didasarkan atas ideologi komunisme, membentuk kelompok yang dikenal sebagai Blok Timur. Sedangkan AS bersama Eropa Barat membentuk persekutuan terpisah, Blok Barat.
Perkembangannya di Eropa Barat memunculkan sosialisme yang menyebut dirinya sosialisme demokrat. Lalu, muncul beragam jenis ekonomi pasar yang didasarkan kebutuhan berbeda di setiap negara. Misalnya Jerman (Barat) menganut ekonomi pasar yang sosialistis.

Ketidakpuasan terhadap terjadinya dua blok di dunia, atas prakarsa Presiden Sukarno, dibentuk Gerakan Non Blok. Namun, perang dingin terus berkembang, dan pembangunan kekuatan militer dan industri militer tumbuh dan menyedot anggaran sangat besar.
Konflik lokal dan regional terus terjadi. Pembaharuan GATT dan pembentukan WTO, merupakan langkah menuju globalisasi. Munculnya Perestroika/Glasnost dan runtuhnya Tembok Berlin, merupakan awal dari tatanan dunia baru.
Konsep globalisasi dan rantai pasokan, menimbulkan pergeseran pusat produksi ke negara-negara dengan pekerja murah. Terutama Cina dan Asia Timur. Kemajuan industri dan teknologi terjadi di negara Eropa dan Jepang, disusul Cina (dan India?).
Termasuk di dalamnya industri militer. Perang dagang tidak terhindar. Disturbance meluas, membawa dunia ke dalam keadaan yang tak seimbang. Ini menunjukan perlunya equllibrium baru. Apakah akan tercipta geopolitik dan geoekonomi yang baru?.

Pandemi Covid-19
Munculnya wabah, kemudian disebut Covid-19, yang dipercaya berasal dari Wuhan(?) , China menjadi masalah global. Ini menjadi perang dunia melawan musuh yang tidak kelihatan. Intelijen dan senjata yang diperlukan untuk melawan belum dimiliki dunia.
China dengan ideologi dan kekuasaan otoriter dapat mengisolasi Wuhan dan memobilisasi kekuatan medisnya. Hasilnya luar biasa. Eropa mengalami masalah sulit, kerja sama antara negara Uni Eropa tak berjalan lancar. Beberapa negara berpaling ke Cina.
Amerika Serikat, dengan pimpinan yang lebih banyak mengutamakan bidang ekonomi “America First” dan pemerintah negara bagian yang berjalan sendiri-sendiri, menjadikan negara ini juara dalam jumlah kasus korona.
Di Eropa, keadaan di Italia, Spanyol, Prancis, dan Inggris semakin mengkhawatirkan. Di sisi lain, keadaan ini telah menekan perekonomian dunia semakin rapuh. Intervensi Bank Dunia dan IMF belum menunjukkan hasilnya.
Harga minyak mentah terus melorot. Saham-saham teknologi di Cina diborong Cina dengan harga yang murah. Kemungkinan terjadi rentetan kebangkrutan beberapa perusahaan teknologi dan penerbangan di dunia.
Semua ini, pada akhirnya akan menimbulkan ketidakseimbangan baru di dunia. Dalam bidang politik, kemampuan Pemerintah Cina mengatasi Covid-19 serta dampak ekonominya, akan menjadi daya tarik sendiri bagi negara-negara berkembang.
Kita masih menunggu perkembangan Covid-19 serta dampaknya pada negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar, seperti Indonesia, Rusia, India, Pakistan, Bangladesh, dan yang lain di Afrika dan Amerika Latin.
Di sisi lain, pada awal mulainya Covid-19 di Indonesia, kita menghadapi pengumuman pemerintah melalui Menteri Kesehatan yang tidak profesional dan kadang membingungkan. Juga seruan Menkominfo yang di luar bidangnya.
Berbagai kejadian menunjukkan ketidakpahaman elite politik dan pemerintah atas masalah yang dihadapi. Sedangkan masyarakat, dengan keterbukaan media di dunia, mendapatkan informasi yang berbeda.
Namun, presiden telah mengambil komando dan melalui beberapa menteri dan pembantunya yang merupakan thedo-erdan solutionoriented,dapat mengarahkan kembali thepath, penanganan kasus Covid-19 ini.
Pengadaan keperluan medis yang sebagian besar masih diimpor, mengalami kendala karena seluruh dunia membutuhkannya. Jumlah produsen sangat terbatas. Lembaga dan ahli di Indonesia sedang bergandeng tangan mencari solusinya.
Demikian juga industri garmen kita, menempatkan produksi kebutuhan medis untuk melawan korona ini menjadi prioritas utamanya. Koordinasi Kementerian Perindustrian dirasa sangat terlambat.
Kita belum bisa mensinergikan pandangan menanggulangi Covid-19 ini dari sisi ilmu pengetahuan dan agama, pemerintah pusat dan daerah, penguasa dan masyarakat. Data resmi yang dikeluarkan pemerintah, dianggap usaha menutupi ketidakmampuan.
Di sisi lain keadaan ekonomi khususnya di kalangan pekerja informal, walaupun penulis kurang sepakat dengan istilahpekerja informal itu, semakin memprihatinkan. Pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan socialsafety net.
UMKM yang biasanya dapat kita andalkan sebagai lastresource penyelamatan ekonomi, mulai kurang menampakkan pengaruhnya. Menurut penulis, ekonomi kita sedang menuju ke kapitalisme.
Seperti halnya dengan keadaan dunia, di Indonesia telah terjadi (sejak beberapa tahun ini) keadaan tak seimbang. Peta kekuatan ekonomi dan kekuatan politik telah bergeser. Kita akan menghadapi terbentuknya ekuilibrium baru tetapi yang bagaimana?.
Perlu ada kajian mendalam oleh sebuah tim yang tangguh dalam waktu singkat tentang hal itu. Jokowinomic yang sedang berjalan, bisa diteruskan setelah topan berlalu.

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi





Artikel Lainnya