Tahu, Tempe dan Kedele

Oleh Ramelan

06 January 2021 - 06:51:34

2 menit

Minggu lalu kita diusik lagi dengan ketidakadaan tahu dan tempe di pasar. Saya penggemar tempe dan tahu sejak kecil, dan merupakan keharusan setiap waktu makan ada di meja makan. Demikian juga sebagai makanan cemilan sore hari sambil minum teh atau kopi. Tahu tempe merupakan makanan “rakyat”. Penjual gorengan, warteg dan tempat makan tenda, selalu menyediakan berbagai olahan makanan memakai tahu dan tempe.

Ternyata para pengrajin tahu dan tempe “mogok” tidak berproduksi selama beberapa hari. Harga kedele naik sejak bulan Mei 2020, demikian penjelasannya. Mereka menyiapkan strategi yang menyeluruh secara bersama. Tidak menaikan harga jual, melainkan memperkecil ukuran berarti beratnya juga, menurut berita dengan sekitar 20 persen. Mereka berhasil.

Masalah utamanya, menurut informasi, 90 persen kebutuhan kedele kita masih impor. Harga internasional naik karena China menaikkan pengadaannya secara signifikan. Menaikan produksi selalu menjadi angan-angan Kementrian Pertanian sejak dulu.

GMO (Genetically Modified Organism)
Impor kedele terbesar adalah dari Amerika Serikat, dan mereka mengijinkan pemakaian GMO ini. Dunia memang terbagi menjadi dua mengenai GMO. AS, Kanada dan Australia tidak memasalahkan pemakaian GMO. Eropa dan Jepang tidak mengijinkan pemakaian GMO untuk makanan. China tidak jelas. Mengenai posisi Indonesia mengenai GMO ini tidak jelas.

Seandainya Pemerintah akan menggenjot produksi kedele, benih GMO adalah mungkin solusinya. Tetapi petani harus dilindungi, karena harus selalu membeli benih baru.

Koordinasi antara Kementrian Pertanian, Perindustrian dan Perdagangan sudah mendesak.
Khusus mengenai GMO pangan, Kementrian Kesehatan perlu mengambil sikap.

(Jakarta, 6 Januari 2020)

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi





Artikel Lainnya