Archipelago dan Cruises

Oleh Ramelan

28 December 2020 - 08:33:42

5 menit

Sebagai negara kepulauan yang besar, kita sangat tertinggal dalam pemanfaatan laut yang kita miliki. Baik sebagai sumber pangan, yaitu perikanan, pertambangan, transportasi dan wisata laut (bukan pantai).

Dalam suasana yang masih diselimuti oleh Pandemi Covid 19, saya bermaksud sedikit memberikan pandangan mengenai perkembangan wisata laut atau cruise.
• Mengenai cruise ini saya pernah secara rinci mengutarakan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan , Bapak Freddy Numberi, sekitar tahun 2007/2008. Serta membawa seorang dari jajaran Direksi sebuah Cruise Line yang besar, untuk menjajagi kerjasama.
• Kemudian sewaktu DR. Indroyono menjabat sebagai MenkoKemaritiman, pada tahun 2014/2015, kembali saya sampaikan evaluasi dan pemikiran saya untuk mengembangkan bisnis cruise di Indonesia. Termasuk membuka lebih banyak pelabuhan untuk disinggahi kapal cruise yang besar, diatas 1000 pax. Didalam FGD di Bali, saya diminta untuk menjelaskan pemikiran saya. Justru diskusi yang menonjol pada waktu itu adalah mengsukseskan berbagai “Sailing Indonesia”.
• Pararel dengan kegiatan tersebut, dan melihat perkembangan jumlah cruise yang singgah di Bali, saya diangkat menjadi Adviser Pelindo 3, khusus untuk masalah Pariwisata dan Cruise. Kegiatan pada waktu itu antara lain pengembangan Palabuhan Banoa serta persiapan Pelabuhan dan Terminal Tanah Ampo di KarangAsem. Tanah Ampo ini merupakan proyek yang dibiayai oleh Pemprov Bali dan Pemkab Karangasem. Walaupun kemudian Pelindo 3 diminta untuk turun tangan, tetapi proyek ini gagal, tidak adanya studi awal yang jelas. Serta kesalahan persepsi mengenai bisnis cruise.
• Oleh perwakilan sebuah cruise besar di Asia, saya diminta untuk turut memperlancar kemungkinan sebuah kapal besar 4000 pax untuk memakai pelabuhan Celukan Bawang di Bali Utara. Sampai sekarang sudah beberapa kali dimanfaatkan.

Peserta cruise international, khususnya dengan tujuan laut Medditeranian, laut Baltic, Laut Karabuia, Afrika dan Asia, terdiri kebanyakan berasal dari manca negara seperti Amerika Serikat, Eropa dan Australia. Rata-rata biaya satu malam sekitar 300 – 600 US$/ orang/all in, untuk kamar standar. Mereka adalah yang mempunyai kemampuan finansial. Dalam memilih route cruise, selain lamanya cruise, biasanya mempertimbangkan tujuan dengan latar belakang SEJARAH, PENINGGALAN, dan BUDAYA.

Sehingga yang menjadi penting adalah kota-kota mana saja yang akan disinggahi. Cruise liner untuk setiap route dan kota persinggahan mempunyai berbagai macam “land program” baik secara kelompok memakai bis, maupun privat memakai mobil atau minibis. Land program ini dilaksanakan dan di organisir bersama dengan pihakke 3, yang bekerjasama dengan perusahaan transport dan pemandu wisata.

Sepengetahuan saya untuk cruise besar yang singgah di Indonesia, tidak ada perusahaan lokal yang menjadi partner dari Cruise Liner. Kalaupun ada hanya sebagai penyedia jasa angkutan dan pemandu wisata. Dibutuhkan waktu untuk mempersiapkan satu penawaran “land program” kepada cruise. Menurut penjelasan salah seorang pimpinan perusahaan cruise, penawaran land program sudah harus disampaikan 2 tahun sebelum kapal tiba.

Dampak Covid 19
Sampai akhir Juni 2020 belum ada kejelasan bagaimana cruise akan dimulai, selain informasi bahwa kapal sudah mempersiapkan untuk menghadapi protokol kesehatan. Serta belum ada kejelasan prosedur di pelabuhan embarkasi dan disembarkasi.

Demikian juga dengan negara2/kota2 yang akan dikunjungi, serta protokol kesehatan yang bagaimana belum dapat diketahui dengan jelas. Serta warganegara mana saja yang diijinkan, memasuki kota atau negara.

Salah satu penunjang untuk bisnis cruise ini adalah angkutan udara. Inipun menjadi penghambat untuk dimulainya kembali wisata cruise internasional. Sudah 3 bulan lebih keadaan ini berjalan, kapal bersandar dalam keadaan on atau off. Beberapa perusahaan cruise mempunyai pesanan kapal-kapal baru di galangan kapal yang akan segera selesai. Beberapa perusahaan cruise sudah melaporkan, pengurangan kapal, penutupan operasi atau bangkrut. Beberapa perusahaan memang tergabung dalam perusahaan besar seperti Royal Caribbean, Genting, Carnival dan Norwegian Cruise Line, sehingga dalam menentukan rencana kedepan lebih fleksibel.

Dengan perkiraan bisnis cruise dalam 2-3tahun kedepan, perusahaan cruise sudah menawarkan kapal-kapalnya untuk diambil alih atau dijual. Sedang bagi perusahaan yang mempunyai kapal yang dalam penyelesaian di galangan, akan lebih baik menunggu kapalnya selesai, karena sudah pasti lebih baik dan efisien, dan berusaha menawarkan kapal-kapal yang ada untuk dijual.

Menurut beberapa keterangan, karena pada saat ini sukar untuk mendapatkan pembeli, maka upaya scrapping pun masuk dalam opsi.

Indonesia dan cruise
Keadaan pasar kapal cruise sekarang ini, dan bisnis cruise internasional baru akan pulih (tidak 100%) dalam 2- 3 tahun, apakah Indonesia sebagai negara kepulauan tidak akan memanfaatkan ini untuk mengembangkan bisnis cruise baik Nusantara maupun Nusantara+ (+ luar negeri). Kapal cruise dengan kapasitas 600-1000 pax / 300-500 kabin/stateroom, akan sangat tepat bagi Indonesia.

Masyarakat Indonesia sudah banyak yang mampu untuk menikmati wisata cruise ini. Kita mempunyai banyak tujuan wisata. Pelabuhan persinggahan tidak harus mempunyai dermaga. Di beberapa kota tujuan cruise internasional pun, kapal-kapal cruise buang(lego) jangkar/sauh di tengah laut. Penumpang kedarat diangkut dengan tender. Kalau kunjungan kapal pesiar kurang dari 12 kali setahun, tidak diperlukan bangunan permanen. Cukup dengan tenda yang nyaman.

Yang perlu adalah prasarana untuk melayani “land program”. Seandainya kapal dengan 600 pax, semua turun, untuk berwisata, dengan bis kapasitas 30 pax diperlukan tempat parker untuk 20 bis, ditambah kendaraan untuk privat tour. Dan tentunya tempat berjualan oleh-oleh khas daerah, bagi mereka yang mau belanja sebelum naik kapal.

Tentu yang menarik siapa yang akan jadi pemain? Atau investor?
Kolaborasi antara BUMN dan swasta dapat cepat mengrealisasaikan. Swasta yang sekarang ini bergerak dalam perumahan atau properti dan hotel. Selain itu dengan cruise liner yang akan menjual kapalnya. Beberapa perusahaan cruise besar, mempunyai saham di perusahaan cruise yang kecil.

China waktu memulai bisnis cruise, caranya dengan lease beberapa kapal dari Royal Caribbean untuk bulan-bulan tertentu, waktu di Eropa dan Amerika sedang low season.
Saat ini ratusan ABK WNI kapal-kapal cruise dirumahkan. Bisa menjadi modal awal untuk operation.

Waktu sudah mendesak!!!!
Catatan: Penulis pernah mengikuti cruise sebanyak 20 kali, sejak tahun 2001.

Jakarta, 30 Juni 2020

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi





Artikel Lainnya