New Normal? Realita yang Berkembang

Oleh Ramelan

10 June 2020 - 05:24:38

3 menit

Saat ini yang dibahas mengenai New Normal sangat terbatas hanya bagaimana melaksanakan kegiatan di masyarakat dengan melakukan ProtoKol Kesehatan, untuk mengurangi penyebaran Virus Covid 19. Social Distancing : Cuci Tangan – Pakai Masker – Jaga Jarak – Hindari Kerumunan

Setiap negara akan berbeda melaksanakannya, dipengaruhi tingkat kehidupan dan budaya masyarakatnya. Sedangkan kehidupan kita di dunia sekarang ini, tidak dapat terpisah dan dipengaruhi oleh kehidupan global maupun regional. Yang semuanya ini masih likuid dan bergerak. Belum ada yang pasti.

Perkembangannya masih sangat dinamis,semuanya masih menunggukapan vaksin akan tersedia bagi masyarakat luas. Berbagai analisa para ahli kesehatan dunia memperkirakan bahwa ekuilibrium baru, dapat tercapai pada tahun 2022/2023.

Pertanyaannya apakah berbagai kebijakan yang akan ditetapkan akan menunggu sampai terjadi keseimbangan baru? Tentu tidak!!!

Hampir semua negara memulai “pelonggaran” kebijakan “lock down” atau PSBB, dengan sangat hati-hati. Karena dikhawatirkan aka nmenjadi pemicu gelombang kedua peningkatan penyebaran Virus Covid 19.

Apa yang terjadi di Indonesia

Banyak tenaga kerja yang terkena PHK. Beberapa sektor ekonomi yang terkait dengan pariwisata dan leisure, terkena paling parah. Demikian juga industri manufakturing seperti pakaian, industri yang berorientasi ekspor sudah dalam keadaan “semaput”.

Dampaknya juga dirasakan bagi TKI yang bekerja di luar negeri, termasuk ABK pesiar. Belum lagi tenaga kerja yang sering disebut “informal”, saya lebih menyebutnya adalah tenaga kerja “mandiri”, mereka sudah mengalami keterpurukan yang luar biasa.

Bagi mereka yang hidup dari perekonomian kota besar, dihadapkan masalah antara lain ketidakmampuan membayar sewa rumah atau tempat pondokan. Berarti harus “pulang kampung”.
Saya melihat ini sebagai gejala “de-urbanisasi”. Sebagian besar mereka adalah tenaga terampil dan profesional.

Arus Balik

Saatnya sekarang bagi kita, secara terpogram, berkelanjutan dan serius untuk melaksanakan pembangunan dari desa. Seperti yang selalu disampaikan oleh Presiden Joko Widodo, membangun dari desa.

Yang akan mudah dikembangkan, dengan segera, antara lain:
• Pertanian dan peternakan
– Pertanian sayuran kecil dan modern, memanfaatkan teknologi.
– Peternakan kecil, seperti ayam kampung, kelinci, kambing.
– Perikanan seperti lele, mujair, nila, yang mudah dikembangkan dengan lahan sempit. Juga udang (crayfish).

• Industri rumah atau cottage industry
– Berbagai macam makanan yang bisa diproses sederhana dirumah seperti tahu, tempe, kerupuk dan lain sebagainya.
– Kerajinan/kraft dengan craftmanship dan nilai artistik yang tinggi. Bukan asal- asalan.
– Perlu bimbingan dan pembinaan melalui teknologi digital, termasuk pemasaran online.

• Menghidupkan kembali warung serba ada “si Mbok”, “Teteh”, “Empo” , yang berada di jalan-jalan di pedesaan, kacamatan, kelurahan. Dengan meningkatkan penampilan, ketersediaan yang cukup dan kwalitas yang standard.

• Warung kopi tradisional, warung makan seperti warteg, sate, angkringan, warung keliling dan lain2, perlu menjadi “gayabaru”. Mereka ini harus memanfaatkan hasil produksi lokal.

• Tukang dagang keliling klontong, hasil produksi industri rumah. Bukan hasil pabrik!!!!

Kebijakan Pemihakan

Sudah saatnya para pemegang kekuasaan, sesuai dengan kewenangannya dalam Otonomi Daerah, untuk berpihak. Mengikutsertakan para kelompok ahli, cendikiawan, dan perguruan tinggi. Membentuk kelompok relawan untuk memberikan bimbingan.

Sistem distribusi perlu diperbaiki. Embrio di daerah sudah ada. Peran pengepul perlu dimanfaatkan. Tempat perdagangan tradisional seperti pasar, perlu di revitalisasi dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Peran BUMN terutama yang mempunyai pengalaman distribusi seperti Bulog, Kimia Farma, Rajawali, dan Pertamina, perlu dilibatkan dalam membina sistem distribusi dan membina “warung simBok”.

Toko-toko distribusi yang merupakan bagian dari franchise harus dibatasi secara drastis atau ditutup. Demikian juga restoran, dan café yang merupakan bagian dari franchise (terutama asing). Harus dibatasi atau ditutup.

Papan iklan produk atau merek luar negeri harus lebih kecil dan diletakan lebih rendah dari papan iklan produk lokal. Pemerintah daerah bekerjasama dengan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi), harus segera membantu para pekerja “mandiri”, untuk mendapatkan sertifikat profesi tersebut.

Penutup

Covid 19 – Sembilan belas (bukan nineteen), memberikan berkah kepada masyarakat Indonesia kembali menjiwai budaya Gotong Royong.

“AKU CINTA INDONESIA”
“AKU PAKAI PRODUK INDONESIA”

Desa Harjamukti, 31 Mei 2020

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi





Artikel Lainnya