Pemikiran Rahardi Ramelan

Oleh Ramelan

03 June 2020 - 04:59:51

3 menit

Penguasaan dan pengembangan iptek perlu dilakukan secara terus menerus.

Sehingga terjadi akumulasi kemampuan iptek di sebuah entitas.

Perubahan rezim atau menteri/penguasa bisa memutus atau merubah arah jalan akumulasi tersebut.

Saya menyebutnya ‘disruptive technological development’. Di Indonesia hal demikian sering terjadi. Sebut saja dalam bidang teknologi antara lain aluminium,tembaga, besi juga dalam bidang mobil dan energi listrik.

Penguasaan dan pengembangan iptek, hanya dapat dilakukan secara terus menerus serta berkelanjutan. Sehingga terjadi transfer knowledge dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Hanya dengan cara demikian akan terjadi akumulasi kemampuan kita. Kemampuan ini bukan merupakan kemampuan perorangan melainkan kemampuan sebuah entitas. Di industri misalnya GE, Boeing, Siemens, Alsthom, Mitsubhisi dan yang lain. Di Perguruan Tinggi kita mengenal MIT, Harvard, Stanford, Leiden, Delft, TU Aachen, TU Munchen dan yang lain. Mereka merupakan entitas yang sudah puluhan tahun, akumulasi ipteknya terus berlanjut dan terjaga serta terdokumentasi dengan baik.

Kita mempunyai Perguruan Tinggi yang sudah berusia puluhan tahun, saya yakin akumulasi bidang ipteknya juga terdokumentasi dan terawat baik. ITB, IPB, UI, UGM, ITS dan yang lainnya.

Kemampuan iptek mereka sudah menjadi bagian dari DNA entitas. 

Industri kita , khususnya BUMN sering berubah-rubah baik kegiatan maupun program, tergantung politik pemerintah.

Misalnya dalam industri dan teknologi penerbangan. Nama saja sudah berubah. Proyek mulai C 212, CN 235, N 250 dan N 2130 akumulasi teknologi dan sumber daya manusia yang sudah dicapai kelihatannya menguap begitu saja. Untuk mendukung teknologi penerbangan ini, telah dibangun beberapa laboratorium pendukung antara lain LUK (Laboratorium Uji Konstruksi), LAGG (Laboratorium Aerodinamik, Gas dan Getaran?) terowongan angin. 

Di industri perkapalan, beberapa proyek di awal 1970an, FPB 28 dan 57, Caraka Jaya. Kemudian Laboratorium Hydrodinamika/Towing Tank di Surabaya. Dalam hal ini akumulasi teknologi di PT PAL bisa terpelihara dengan baik. Tetapi perlu dirawat dan ditingkatkan.

Persenjataan ringan, munisi dan alat tempur darat, juga berkembang dan di PT Pindad. 

Perlu juga disebut PT Inka dan Dahana.

Perusahaan-perusahaan ini dulu bagian dari Industri Strategis, dan mempunyai arah yang jelas, sehingga mempunyai landasan pembentuka  DNA. Ke depan perlu dipertahankan perusahaan dengan DNA yang sudah teruji. Jangan dirusak!!!

Pemerintah sekarang sedang menggodog mengenai BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) yang merupakan bagian dari UU Nomor 11, 2019 tentang Sistem Nasional IPTEK. 

Riset banyak dilakukan antara lain di Lembaga Penelitian seperti LIPI, BATAN, LAPAN , BPPT; Badan Litbang di Kementerian, juga di Perguruan Tinggi.

Pandangan saya:

Pertahankan Lembaga Penelitian yang jelas mempunyai DNA yang telah terbukti. LIPI, BATAN, LAPAN, dan BPPT.

Kegiatan riset iptek di PT, dapat menggaransi akumulasi kemampuan iptek. Serta membentuk DNA nya.

Kegiatan riset iptek di Kementrian perlu ditinjau kembali, atau dilebur di lembaga yang  dibentuk, seperti bidang Pertanian, Kehutanan, Kelautan, Pertambangan, Energi dan lain sebagainya. Kalau perlu merupakan bagian dari PT tertentu.

Perlu adanya mekanisme dan pendanaan yang jelas untuk implementasi hasil riset dan inovasi. Inkubator, venture capital (murni) dan pasar saham khusus. 

Beberapa proyek besar di Kementrian Pertahanan, seperti proyek pesawat tempur IFX/KFX dan Kapal Selam dengan Korea perlu dilakukan review dengan proses akumulasi iptek.

Jakarta, 24 Januari 2020

Prof. DR. Rahardi Ramelan

Beri balasan

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda * harus diisi





Artikel Lainnya